Lalu lalang
Entah mencari apa
Pastinya tak tertemukan segera
Antara ada dan tiada
Sampai waktu pun tak mampu menghalangi
Seutuhnya...
Aku terus melangkah
Mencari dan mencari
Buat bekal kelak
Untuk menghadap Mu
Tuhan...
Purbalingga, 31 Januari 2015
Home Archives for January 2015
![]() |
| Sumber : http://www.siperubahan.com/ |
Menulis tentang plagiarisme di Indonesia bukanlah upaya untuk merendahkan bangsa sendiri, melainkan sebuah autokritik. Sebagai pendidik dan penulis, kita perlu berefleksi: apakah maraknya jiplak-menjiplak ini merupakan tanda kemunduran intelektual? Tulisan ini mengajak kita untuk kembali menjunjung tinggi kejujuran dalam memajukan khazanah keilmuwan Indonesia.
Plagiarisme bukan sekadar masalah "copy-paste". Ini adalah tindakan yang mementingkan diri sendiri melalui cara-cara yang tidak halal secara intelektual. Dampaknya sangat luas:
Merusak Reputasi: Tidak hanya memalukan diri sendiri, tetapi juga mencoreng nama baik instansi atau lembaga pendidikan.
Nol Kontribusi Keilmuwan: Karya jiplakan tidak menambah nilai baru pada bidang ilmu yang ditekuni.
Membunuh Kreativitas: Plagiarisme adalah wujud dari kemalasan berpikir, kemalasan menulis, atau bahkan keduanya.
Fenomena plagiarisme di Indonesia terasa merata di berbagai level. Sebagai guru, saya sering menemukan jawaban siswa yang identik—indikasi kuat adanya aksi mencontek.
Seringkali, kita terjebak dalam rasa "maklum" karena yang penting siswa mengumpulkan tugas. Padahal, benih plagiarisme tumbuh di sana. Ketidakpahaman terhadap materi yang berujung pada menjiplak adalah wujud nyata dari malas berpikir. Jika di bangku sekolah saja kecurangan ini dibiarkan, jangan kaget jika hal serupa terbawa hingga ke dunia profesional.
Yang lebih memprihatinkan adalah ketika kasus ini mencuat di level akademisi tinggi. Bukan lagi pelajar, melainkan dosen, kandidat doktor, bahkan profesor. Motifnya beragam:
Mengejar Angka Kredit: Tekanan untuk memublikasikan jurnal ilmiah secara instan.
Gelar Akademik: Keinginan meraih gelar S2 atau S3 tanpa melalui proses riset yang mendalam.
Motif Ekonomi: Mencari pemasukan tambahan dengan cara instan melalui jasa pembuatan artikel atau skripsi.
Modusnya pun semakin "canggih", mulai dari menerjemahkan karya asing secara mentah-mentah hingga mengirimkan artikel yang sama ke berbagai jurnal internasional tanpa perubahan berarti.
Dua hal ini saling berkaitan namun memiliki akar yang berbeda:
Banyak orang memiliki kemampuan menulis, namun tidak mau bersusah payah mengembangkan gagasan. Menghindari kerumitan riset dan memilih solusi "jalan pintas" di internet atau kios penjual artikel.
Ada orang yang memiliki ide cemerlang, namun malas melalui proses intelektual yang panjang. Menulis membutuhkan referensi yang cukup, pengembangan argumen, dan ketekunan menghadapi deadline. Bagi penulis amatir, mengubah ide menjadi gagasan utuh memang bukan hal mudah, namun itu bukan alasan untuk menjiplak.
Tidak ada cara instan untuk menjadi penulis handal. Menyadari keterbatasan diri adalah langkah awal yang baik. Alih-alih melakukan "solusi cepat" dengan menjiplak, mulailah dengan mencicil tulisan sedikit demi sedikit. Gunakan referensi secara jujur dan sertakan sumber yang jelas.
![]() |
| Sumber : wikipedia.org |
Merujuk pada buku legendaris "Komposisi" karya Gorys Keraf, mari kita bedah teknik dasar menulis resensi yang profesional dan objektif.
Secara sederhana, resensi adalah ulasan atau penilaian terhadap suatu karya. Tujuan utamanya adalah memberikan pertimbangan kepada masyarakat: Apakah buku ini layak dibaca atau tidak?
Penting untuk diingat bahwa gaya resensi harus menyesuaikan audiensnya. Resensi untuk majalah ilmiah tentu akan berbeda bahasa dan sasarannya dengan resensi untuk blog pribadi yang lebih santai.
Gorys Keraf menekankan dua faktor penting yang harus dipahami penulis resensi sebelum mulai mengetik:
Memahami Tujuan Pengarang: Cermati bagian kata pengantar atau pendahuluan. Apakah isi buku tersebut benar-benar mencapai target yang diinginkan oleh penulisnya?
Menyadari Tujuan Resensi: Untuk siapa Anda menulis? Pahami tingkat pengetahuan, selera, dan latar belakang pendidikan calon pembaca blog Anda agar bahasa yang digunakan tepat sasaran.
Agar resensi Anda berbobot, Gorys Keraf menyarankan untuk fokus pada empat pilar berikut:
Mulailah dengan tema buku secara singkat. Sertakan data bibliografi yang lengkap (identitas buku):
Judul dan Pengarang.
Penerbit dan Tahun Terbit.
Tebal halaman dan harga (opsional).
Latar belakang atau sejarah mengapa buku ini ditulis.
Tentukan jenis buku tersebut (fiksi, non-fiksi, memoar, atau karya ilmiah). Ini membantu pembaca agar tidak "salah pilih" sebelum membeli.
Ini adalah bagian terpenting dari sebuah resensi:
Organisasi: Bagaimana kerangka bukunya? Apakah bab satu dengan bab lainnya memiliki hubungan yang kuat?
Bahasa: Apakah bahasanya lugas (ilmiah) atau konotatif (sastra)? Apakah gaya bahasanya konsisten dan mudah dipahami?
Keunikan: Apa yang membedakan buku ini dengan buku bertema sama lainnya?
Nilailah aspek fisik buku, seperti:
Layout dan tipografi.
Kualitas cetakan dan desain sampul (cover).
Kesalahan cetak atau tanda baca yang mungkin terlewat.
Menulis resensi menuntut kejujuran. Nilailah buku secara keseluruhan, baik kelebihan maupun kekurangannya. Jangan biarkan selera pribadi membuat penilaian menjadi berat sebelah. Tugas Anda adalah menunjukkan kriteria yang jelas mengapa sebuah buku layak atau tidak layak diterima oleh masyarakat.
Menulis resensi adalah sebuah keterampilan yang tumbuh seiring jam terbang. Sebagaimana dijelaskan dalam ulasan saya mengenai buku Buku dan Pengarang karya Yus Badudu, memahami intisari karya orang lain akan sangat membantu kita dalam mengasah kemampuan menulis kita sendiri.
Judul buku : Ensiklopedia Sastra Indonesia Modern
Penyunting Utama : Dr. Dendy Sugono
Penerbit : PT Remaja Rosdakarya bekerja sama dengan Pusat Bahasa, Departemen Pendidikan Nasional
Cetakan pertama, Oktober 2003
Cetakan kedua, November 2003
Cetakan ketiga, November 2009
Jumlah Halaman : xii + 271 halaman
Sebuah buku, yang bisa dikatakan wajib, dimiliki atau dibaca oleh para peminat sastra, mahasiswa, pelajar dan siapapun yang ingin memperdalam wawasannya mengenai kesusasteraan Indonesia.
Dalam ensiklopedia ini dibahas mengenai :
1. “Sang pengarang” Indonesia sebagai manusia Indonesia yang berkreasi untuk Indonesia.
2. Karya sastra dalam berbagai genre dan bentuknya.
3. Penerjemah, yang karya terjemahannya semakin menambah khazanah sastra Indonesia.
4. Penerbit, yang berperan penting dalam distribusi sastra.
5. Peristiwa sastra, penghargaan sastra, mitologi, dan istilah khusus sastra
Isi dari ensiklopedia ini didasarkan pada huruf abjad. Dimulai dari Abadi, Abdul Moeis, Abdul Hadi W.M, Abu Hanifah, Achdiat Karta Mihardja sampai ada Wildan Yatim, Wing Kardjo, Wisran Hadi, dan diakhiri dengan Yayasan Buku Utama.
Abadi adalah surat kabar harian di Jakarta yang terbit tahun 1951. Para pengarang yang menulis di Abadi diantaranya Tuty Alawiyah A.S, Taufiq Ismail, Mansur Samin, Slamet Rahardjo dll.
Abdul Moeis, terkenal dengan novelnya yang berjudul Salah Asuhan, Karyanya yang lain adalah Surapati dan Untung Anak Surapati. Beliau juga penerjemah Tom Sawyer karya Mark Twain ke dalam bahasa Indonesia. (Wuih…tidak menyangka deh..)
Untuk yang lain bisa membaca sendiri ensiklopedia ini. Saya sendiri malah tertarik dengan pengarang yang juga penerjamah.
Ajib Rosidi , terkenal sebagai sastrawan dan pengarang yang serba bisa. Selain menciptakan puisi, cerpen, novel, menulis berbagai artikel, menyadur cerita-cerita rakyat juga sebagai penerjemah. Ada terjemahan dari bahasa Sunda dan juga menerjemahkan bahasa Jepang.
H.B Jassin, selain menulis banyak buku sastra juga banyak menerjemahkan, seperti Max Havelaar karya Multatuli, Tjuk (Vuk) karya Vincent Mahieu, Noevelles Roumaines (Kisah-kisah Rumania), Vol de Nuit (Terbang Malam) karya A. de St. Exupery dan masih banyak lagi.
Seandainya tidak memiliki buku ini sendiri, kita bisa meminjam di perpustakaan di kala butuh berbagai hal tentang sastra Indonesia.
| Sumber gambar : http://storyandphotograph.blogspot.com/ |
![]() |
| Teman maya yang jauh di sana.. |