Saturday, January 31, 2015

Lepas Sambut

Lepas Sambut

Lalu lalang
Entah mencari apa
Pastinya tak tertemukan segera
Antara ada dan tiada
Sampai waktu pun tak mampu menghalangi

Seutuhnya...
Aku terus melangkah
Mencari dan mencari
Buat bekal kelak
Untuk menghadap Mu
Tuhan...

Purbalingga, 31 Januari  2015
Ditulis oleh: Arsyad R Bahasa dan Sastra Updated at : 11:01 AM

Friday, January 30, 2015

Kasus Plagiarisme di Indonesia: Fenomena Malas Berpikir atau Malas Menulis?

Kasus Plagiarisme di Indonesia: Fenomena Malas Berpikir atau Malas Menulis?

Kasus Plagiarisme
Sumber : http://www.siperubahan.com/

Menulis tentang plagiarisme di Indonesia bukanlah upaya untuk merendahkan bangsa sendiri, melainkan sebuah autokritik. Sebagai pendidik dan penulis, kita perlu berefleksi: apakah maraknya jiplak-menjiplak ini merupakan tanda kemunduran intelektual? Tulisan ini mengajak kita untuk kembali menjunjung tinggi kejujuran dalam memajukan khazanah keilmuwan Indonesia.


Mengapa Plagiarisme Itu Berbahaya?

Plagiarisme bukan sekadar masalah "copy-paste". Ini adalah tindakan yang mementingkan diri sendiri melalui cara-cara yang tidak halal secara intelektual. Dampaknya sangat luas:

  • Merusak Reputasi: Tidak hanya memalukan diri sendiri, tetapi juga mencoreng nama baik instansi atau lembaga pendidikan.

  • Nol Kontribusi Keilmuwan: Karya jiplakan tidak menambah nilai baru pada bidang ilmu yang ditekuni.

  • Membunuh Kreativitas: Plagiarisme adalah wujud dari kemalasan berpikir, kemalasan menulis, atau bahkan keduanya.

Akar Masalah: Dimulai dari Bangku Sekolah

Fenomena plagiarisme di Indonesia terasa merata di berbagai level. Sebagai guru, saya sering menemukan jawaban siswa yang identik—indikasi kuat adanya aksi mencontek.

Seringkali, kita terjebak dalam rasa "maklum" karena yang penting siswa mengumpulkan tugas. Padahal, benih plagiarisme tumbuh di sana. Ketidakpahaman terhadap materi yang berujung pada menjiplak adalah wujud nyata dari malas berpikir. Jika di bangku sekolah saja kecurangan ini dibiarkan, jangan kaget jika hal serupa terbawa hingga ke dunia profesional.

Plagiarisme di Kalangan Intelektual

Yang lebih memprihatinkan adalah ketika kasus ini mencuat di level akademisi tinggi. Bukan lagi pelajar, melainkan dosen, kandidat doktor, bahkan profesor. Motifnya beragam:

  1. Mengejar Angka Kredit: Tekanan untuk memublikasikan jurnal ilmiah secara instan.

  2. Gelar Akademik: Keinginan meraih gelar S2 atau S3 tanpa melalui proses riset yang mendalam.

  3. Motif Ekonomi: Mencari pemasukan tambahan dengan cara instan melalui jasa pembuatan artikel atau skripsi.

Modusnya pun semakin "canggih", mulai dari menerjemahkan karya asing secara mentah-mentah hingga mengirimkan artikel yang sama ke berbagai jurnal internasional tanpa perubahan berarti.

Dilema: Malas Berpikir atau Malas Menulis?

Dua hal ini saling berkaitan namun memiliki akar yang berbeda:

1. Malas Berpikir (Ide Macet)

Banyak orang memiliki kemampuan menulis, namun tidak mau bersusah payah mengembangkan gagasan. Menghindari kerumitan riset dan memilih solusi "jalan pintas" di internet atau kios penjual artikel.

2. Malas Menulis (Proses Terhambat)

Ada orang yang memiliki ide cemerlang, namun malas melalui proses intelektual yang panjang. Menulis membutuhkan referensi yang cukup, pengembangan argumen, dan ketekunan menghadapi deadline. Bagi penulis amatir, mengubah ide menjadi gagasan utuh memang bukan hal mudah, namun itu bukan alasan untuk menjiplak.

Solusi: Mulailah Mencicil Karya

Tidak ada cara instan untuk menjadi penulis handal. Menyadari keterbatasan diri adalah langkah awal yang baik. Alih-alih melakukan "solusi cepat" dengan menjiplak, mulailah dengan mencicil tulisan sedikit demi sedikit. Gunakan referensi secara jujur dan sertakan sumber yang jelas.

Ditulis oleh: Arsyad R Bahasa dan Sastra Updated at : 7:48 PM

Monday, January 26, 2015

7 Dosa (Seorang) Penulis

7 Dosa (Seorang) Penulis

Sumber : wikipedia.org
Ikut-ikutan The Seven Deadly Sins, kami juga ingin menuliskan judul 7 dosa (seorang) penulis. The Seven Deadly Sins merupakan klasifikasi sifat buruk yang cenderung akan dilakukan manusia. Ketuju dosa tersebut adalah  : murka, nafsu, rakus, serakah, malas, dengki/iri hati, dan sombong.


1. Menulis dengan kemarahan

Pernahkah menulis dengan kemarahan, Puaskah? Atau malah tambah marah. Mungkin ada saking marahnya malah bisa lancar menulis. Berpuluh-puluh lembar tulisan berisi ungkapan kemarahan terhadap suatu kejadian/peristiwa.
Sadarkah buat siapa dia menulis. Apakah menulis dengan otak panas akan menjadi tulisan yang obyektif. Apakah bukan sekedar menulis dari satu sudut pandang saja. Sudut pandang kemarahan tentunya.

Ya. Aku juga beberapa kali mengalami. Entah marah karena diputus pacar. Atau marah di tempat kerja. Dalam kondisi marah bisa lancar menulis berlembar-lembar. Entah dalam bentuk puisi, curhata atau apa. Tapi yang jelas tidak bisa dalam bentuk artikel ilmiah. Ya, bagaimana mungkin, ketika kondisi otak kanan begitu dominan berharap mendapatkan karya dari pikiran otak kiri.

Cobalah baca tulisan-tulisan Anda yang sedang marah, Bacalah seminggu, sebulan, atau setengah tahun, bahkan sepuluh tahun kemudian. Apakah kita tertawa atau bersyukur. Untung tulisanku yang dulu tidak pernah saya kasihkan ke orang lain. Bisa malu deh. Atau bahkan menyesal karena tulisannya yang dulu hanya disimpan sendiri.

Hindarilah menulis dengan kemarahan. Kecuali Anda tidak mau.

2. Menulis tanpa peduli dengan pembacanya.
Terbayangkan menulis tentang kalkulus untuk anak SD? Ataupun menulis dengan bahasa yang gaul, acak-acakan di jurnal ilmiah? Ataukah menulis berita politik di tabloid kuliner?
Meskipun ketiga pertanyaan itu terasa dibuat-buat, tetapi maksudnya adalah kalau menulis lihatlah sasaran pembacanya. Menulis untuk karya fiksi berbeda dengan non fiksi. Sama-sama menulis non fiksi pun, akan berbeda jika disajikan untuk masyarakat awam dengan menulis untuk jurnal ilmiah.

Beda lagi tentunya, jika pembacanya bukan dari golongan manusia. Wah..menakutkan deh.
Yang jadi pegangan kunci adalah menulis tetap dengan bahasa yang baik dan benar. Tetapi gaya penulisan itu bermacam-macam, sesuai dengan tema maupun sasaran pembacanya. Dalam menulis naskah  nonfiksi, hindari penggunaan kata-kata yang konotatif. Kata-kata yang bermakna ganda. 
Beda halnya menulis untuk karya fiksi (cerpen ataupun novel), kalau melulu menggunakan kata denotatif, ya dijamin garing tulisannya. Bisa-bisa idenya juga garing.

Demikian juga, ketika kita menulis buku untuk siswa TK/PAUD, SD, SMP, SMA, S1. S2, S3 tentunya pun dengan gaya yang berbeda-beda. Belum lagi tulisan untuk masyarakat umum. Meskipun d daerah kampus (kost-kost an mahasiswa misalnya). Ya belum tentu mau membaca tulisan yang berat. Karena niat mereka membeli buku/majalah/surat kabar untuk mendapatkan informasi yang ringan.  Beda kan kalau diharuskan akan diujikan, pakai bahasa planet pun akan dipelajari.

 3. Menulis tanpa organisasi/kerangka
Maksudnya begini. Jangan sampai kita punya ide yang bagus, tetapi tidak dituliskan sesuai kaidah/format penulisan yang ditentukan. Dalam bentuk artikel pun, ada pembukaan, isi dan penutup, Ide sedahsyat pun akan ditertawakan orang, setidaknya dipandang sebelah mata, jika tidak menulis sesuai ketentuan. Misal langsung masuk isi dan penutup, bahkan pembukan tanpa isinya langsung penutup. Apalagi malah lupa judulnya. Mungkin juga kan lupa judul? 

Apalagi menulis buku, ya lengkapi dengan halaman judul, kata pengantar, daftar isi, daftar referensi (khususnya buku non fiksi). Daftar kata-kata penting/sulit atau glosarium juga perlu ditambahkan. Sesuaikan dengan kebutuhan. Tetapi harus lengkap isinya. Ibaratnya punya beli jam dinding, sebagus apa pun kalau tidak ada kaca penutup bahkan malah tidak ada jarumnya kan jadi gak lucu.

4. Menulis tanpa referensi
Menulis tanpa referensi. Wow, bagaimana hasilnya? Pasti orisinil. Iya, kalau bisa sih. Kalau tidak? Bisa-bisa isinya hanya cerita kesana-sini tidak ada isi. Tong kosong nyaring bunyinya, oceh sana-sini tak ada isi. Otak udang.......(liriknya Slank kalau bener loh).

Seperti tulisan ini, bagaimana kualitasnya. Miskin referensi itu salah satu hambatan penulis. Apalagi malas membaca. Contoh menulis postingan ini, idenya dari buku Jurus Maut Menulis Buku Best Seller dan googling tentang keterkaitan Spongebob dengan Seven Deadly Sins. Tetapi berhubungan mata mengantuk, dan isi dalam kepala ingin cepat dikeluarkan. Ya referensi-referensi saya tinggalkan. 

Dosa penulis yang fatal. Menulis tanpa referensi atau menulis tanpa mau baca referensi. Referensi dipakai tapi dengan sangat minim.

Saya yakin, penulis-penulis sekaliber Ahmad Tohari, Pramudya Ananta Tour, N.H Dini, Andre Hirata pun harus riset dulu sebelum membuat novelnya. Sedangkan kita, hanya berharap dapat ide dari langit dan menulis bak penulis kelas dunia. Boleh-boleh saja, saja asal kedalaman isi maupun mutu tulisan terjaga. Cuma hati-hati saja, ketika kita merasa apa yang ditulis orisinil, ternyata sudah banyak ditulis oleh orang lain.

5. Menulis asal-asalan
Menulis asal-asalan yang dimaksud di sini artinya asal menulis. Menulis tanpa ada konsep yang jelas, Menulis tanpa ada tema yang jelas. Menulis tanpa ada sasaran pembaca yang jelas. Menulis tanpa memperhatikan kaidah penulisan. Boro-boro mikir sintaksis maupun semantik. 

Menulis asal-asalan atau asal menulis itu salah satu ciri penulis yang malas. Entah malas menicil sehingga dikejar deadline. Malas membagi waktu sehingga sama, dikejar deadline. Malas membaca buku, malas menulis bahkan.

Malas menulis tetapi memaksa menulis, ya boleh-boleh saja. Tetapi jika kualitas tulisannya asal-asalan, wah rugi lahir batin. Pertama rugi karena menyakiti diri sendiri. Apa enaknya melakukan sesuatu karena dipaksa. Kedua tidak ada yang mau baca tulisannya.

Kalau memang jenuh, carilah kegiatan lain dulu untuk refreshing, Atau cobalah menulis tema yang belum pernah kita tulis sebelumnya, sebagai selingan. Baru ketika mood dah datang, kita hajar tulisan kita.

Banyak kok, buku/tulisan yang membahas kiat-kiat agar tetap menjaga mood menulis. Kiat-kiat agar tulisan diterima redaktur. Kiat-kiat menulis buku yang laris dan seterusnya.

Sekali lagi jangan menulis asal-asalan, takutnya malah mempermalukan diri sendiri.

6. Menulis tanpa mau diedit
Nah ini, penyakit/dosa yang sering saya lakukan. Menulis tanpa mau diedit. Alhasil dibaca beberapa hari kemudian ternyata tulisannya kacau. Ada kesalahan ketikan. Idenya tidak jelas. Tulisan tidak tersaji secara sistematik. Pembahasannya tidak mendalam, Terlalu terpaku pakai sudut pandang sendiri. Tidak adil dalam menulis (wah apa maksudnya ya?).

Ada beberapa alasan seorang penulis tidak mau diedit tulisannya, 
Pertama, menganggap tulisannya sudah sempurna. Tidak perlu campur tangan dari pihak lain. Tidak mau menerima kritikan. Intinya menganggap tulisannya sudah bagus banget.
Kedua, karena dikejar waktu. Dikhawatirkan kalau diedit, tulisannya tidak kelar. Ya..boleh saja alasannya. Tapi jangan menyesal kalau ada apa-apa nanti.
Ketiga, tidak percaya diri. Malu jika tulisannya diketahui orang lain. Apalagi oleh saudara, teman, tetangga atau siapapun yang kenal dengannya. Alasan yang masuk akal juga, tetapi tidak berlaku jika memang menulis untuk dikirimkan ke surat kabar/majalah/penerbit. Toh akhirnya memang buat dibaca orang lain. Ketimbang ketahuan salah nantinya, mending diedit/dibaca dulu deh. Tidak semua orang loh mau jadi editor.

7. Menulis dengan mencuri sumber lain
Plagiat adalah dosa yang harus dihindari. Dosa besar. Mending tidak menulis ketimbang mencuri ide orang lain. Kalau dulu waktu sekolah/kuliah sering begitu. Sekarang lupakan. Bisa-bisa kita mendapatkan karma. Tulisan-tulisan kita tidak ada yang mau baca.

Beberapa kali aku juga merasa dibohongi oleh penulis. Pada suatu ketika, aku beli buku yang kelihatan menarik. Bahkan bukan hanya sekali. Selang beberapa waktu kemudian, entah berapa bulan atau sekian tahun aku menemukan buku aslinya, dalam bahasa Inggris. Kecewa dong. Saya kira waktu itu mendapatkan buku bagus, ternyata hanya terjemahan yang diambil sebagian-sebagian. Artinya dalam buku aslinya tebal, tapi diambil separuhnya dulu kemudian dibuat 2 atau 3 edisi buku. Entah pakai istilah buku 1, buku 2, buku 3 dan seterusnya, Atau pakai istilah agak keren edisi beginner, edisi advance. Yakinlah jangan seperi itu, Kalau menerjemahkan tuliskan saja itu buku terjemahan. Blas...di buku tersebut tidak ada tulisan yang menunjukkan buku tersebut terjemahan, bahkan daftar referensinya pun tidak ada.

Kok mau-maunya ya aku beli buku itu? 

Apalagi berpikir mencuri ide dari penulis negeri sendiri. Jangan sampai deh. Meski mungkin tidak ketahuan. Tidak deh.

Begitulah inti dari tulisan 7 dosa (seorang) penulis. Banyak kekurangan tentunya, Tapi tunggu saja eposide tulisan The Seven Deadly Sins yang lain. Nunggu ada ide dan waktu ya....
Ditulis oleh: Arsyad R Bahasa dan Sastra Updated at : 5:15 AM

Saturday, January 24, 2015

Bentuk Resensi Buku

Bentuk Resensi Buku

resensi buku
Resensi Buku

Setidaknya ada 3 bentuk penyajian resensi buku, yaitu :
1. Meringkas
2. Menjabarkan 
3. Mengulas

Marilah kita jabarkan ketiga bentuk resensi tersebut.
1. Meringkas
Dalam sebuah buku, permasalahan yang ditulis biasanya masih melebar. Tugas seorang peresensi adalah membuat permasalahan yang ada dibuka menjadi padat jelas.

2. Menjabarkan
Menjabarkan artinya menguraikan hal-hal yang telah diringkas sebelumnya.

3. Mengulas
Mengulas artinya memberikan ulasan yang terdiri dari :
1) isi atau materi buku yang sudah dipadatkan kemudian diulas
2) organisasi/kerangka tubuh
3) bahasa yang digunakan
4) kesalahan cetak
5) perbandingan dengan buku sejenis
6) penilaian, terkait dengan keunggulan dan kelemahan buku

Dengan adanya ketiga bentuk resensi tersebut, tentu bukan tugas yang ringan untuk menjadi seorang peresensi  yang handal. Meringkas, menjabarkan dan mengulas menjadi kata kunci dalam membuat resensi.

Tidak boleh tidak kemampuan memahami isi buku yang akan diresensi tidak boleh ditawar lagi. Pengalaman selama ini mencoba menulis resensi, tidak sepenuhnya berusaha memahami isi buku tersebut. Bisa karena mengejar target. Tapi yang jelas, kurangnya rasa tanggung jawab dalam membuat resensi. Tepatnya belum sadar bahwa tugas seorang peresensi, selain memberikan pendapat atau opini terhadap isi buku, tetapi terlebih dulu memahami apa tujuan si pengarang/penulis buku. Bagaimana dia mengorganisir gagasannya. Detilkah? Runtutkah? Bagaimana bahasa yang dipakai? Tercapaikan tujuan penulisan bukunya?

Dari buku yang ada, kita harus bisa meringkas atau mencari inti sari permasalahan yang ditulis di buku tersebut dan tentunya menangkap solusi yang dijabarkan oleh penulis. Di samping itu, ketika memang apa yang sudah kita ringkas perlu penjelasan, maka seorang penulis resensi pun harus mampu menjabarkannya.

Dan tentunya bersikap jujur, adil/tidak berat sebelah, obyektif, melihat permasalahan secara utuh menjadi dasar bagi seorang peresensi buku.

Sumber bacaan : Warsidi, Edi. 2008. Resensi Buku : Apa dan Bagaimana Tekniknya. Mitra Utama

Ditulis oleh: Arsyad R Bahasa dan Sastra Updated at : 1:55 PM

Friday, January 23, 2015

Mengapa Menulis Resensi?

Mengapa Menulis Resensi?

Setidaknya dengan melakukan resensi kita telah memberikan penghormatan/sambutan atas kehadiran suatu karya/buku baru.
Kok gitu sih jawabannya?

Ya..apa yang harus kita lakukan ketika ada buku baru. Apakah kita menyerbunya di toko-toko, bahkan nyari di penerbitnya demi buku tersebut. Boro-boro..untuk membacanya saja belum tentu.

Apakah minat baca kita memang berkurang. Ya mungkin begitu pengamatanku. Belum ada sejarahnya berkunjung di perpustakaan, baik sekolah maupun umum, di sana melihat pengunjung berjubel-jubel. Atau kalau ada pameran/bazar buku, maka banyak diserbu oleh masyarakat.

Kayaknya belum pernah mengalaminya. Sekitar 5 tahun yang lalu sih, pameran buku di tempatku masih ramai. Tapi kalau sekarang wah, kayaknya selalu sepi.

Lah, apa hubungannya antara menulis resensi dengan minat baca masyarakat.
Setidaknya begitulah alasan kenapa kita menulis resensi.
1. Meningkatkan minat baca kita sendiri.
2. Melatih daya kritis
3. Meningkatkan kejujuran, obyektif dan berpikir secara menyeluruh.
4. Melatih menulis ide/gagasan secara runtut dan terpadu.

Dengan keempat alasan itu, sebenarnya cukup bagi kita untuk terus menerus membaca buku dan akhirnya membuat resensi. Alasan yang lain silakan ditambah sendiri.

Tetapi kayaknya egois ya kalau hanya berpikir untuk diri sendiri.

Berikut adalah alasan yang lebih bersifat sosial (baca juga : lebih bermutu), mengapa kita menulis resensi.
1. Membantu masyarakat agar tertarik membaca buku, khususnya buku yang kita resensi.
2. Membantu masyarakat dalam menilai suatu buku, apakah layak dibaca atau tidak.
3. Membantu pengarang buku, mendapatkan resume/ringkasan maupun promosi melalui resensi yang kita buat.
4. Membantu siapapun bagi yang malas atau tidak ada waktu membaca buku, tetapi ingin mengetahui sekilas isi buku yang diresensi.

Alasan yang terakhir, kayaknya tidak bermutu ya.

Ada banyak alasan untuk menulis resensi dan ada banyak alasan untuk tidak melakukannya. Kembali pada diri kita, mau lebih bermanfaat atau tidak untuk meningkatkan minat baca masyarakat. Meski menulis resensi hanyalah salah satu di antaranya.


Ditulis oleh: Arsyad R Bahasa dan Sastra Updated at : 2:42 PM

Teknik Menulis Resensi Buku: Bukan Sekadar Ringkasan, Tapi Panduan untuk Pembaca

Teknik Menulis Resensi Buku: Bukan Sekadar Ringkasan, Tapi Panduan untuk Pembaca

Banyak blogger bertanya-tanya: "Apakah tulisan saya ini sebuah resensi, ringkasan, atau hanya menulis ulang isi buku?" Memahami perbedaan ini sangat penting. Resensi bukan hanya soal menceritakan kembali isi buku, melainkan memberikan pertimbangan kritis bagi calon pembaca.

Merujuk pada buku legendaris "Komposisi" karya Gorys Keraf, mari kita bedah teknik dasar menulis resensi yang profesional dan objektif.

Apa Itu Resensi?

Secara sederhana, resensi adalah ulasan atau penilaian terhadap suatu karya. Tujuan utamanya adalah memberikan pertimbangan kepada masyarakat: Apakah buku ini layak dibaca atau tidak?

Penting untuk diingat bahwa gaya resensi harus menyesuaikan audiensnya. Resensi untuk majalah ilmiah tentu akan berbeda bahasa dan sasarannya dengan resensi untuk blog pribadi yang lebih santai.

2 Dasar Utama Sebelum Menulis Resensi

Gorys Keraf menekankan dua faktor penting yang harus dipahami penulis resensi sebelum mulai mengetik:

  1. Memahami Tujuan Pengarang: Cermati bagian kata pengantar atau pendahuluan. Apakah isi buku tersebut benar-benar mencapai target yang diinginkan oleh penulisnya?

  2. Menyadari Tujuan Resensi: Untuk siapa Anda menulis? Pahami tingkat pengetahuan, selera, dan latar belakang pendidikan calon pembaca blog Anda agar bahasa yang digunakan tepat sasaran.

4 Sasaran Utama Penilaian Resensi

Agar resensi Anda berbobot, Gorys Keraf menyarankan untuk fokus pada empat pilar berikut:

1. Latar Belakang dan Deskripsi

Mulailah dengan tema buku secara singkat. Sertakan data bibliografi yang lengkap (identitas buku):

  • Judul dan Pengarang.

  • Penerbit dan Tahun Terbit.

  • Tebal halaman dan harga (opsional).

  • Latar belakang atau sejarah mengapa buku ini ditulis.

2. Klasifikasi (Jenis Buku)

Tentukan jenis buku tersebut (fiksi, non-fiksi, memoar, atau karya ilmiah). Ini membantu pembaca agar tidak "salah pilih" sebelum membeli.

3. Keunggulan Buku (Kualitas Isi & Bahasa)

Ini adalah bagian terpenting dari sebuah resensi:

  • Organisasi: Bagaimana kerangka bukunya? Apakah bab satu dengan bab lainnya memiliki hubungan yang kuat?

  • Bahasa: Apakah bahasanya lugas (ilmiah) atau konotatif (sastra)? Apakah gaya bahasanya konsisten dan mudah dipahami?

  • Keunikan: Apa yang membedakan buku ini dengan buku bertema sama lainnya?

4. Teknik dan Perwajahan (Casing)

Nilailah aspek fisik buku, seperti:

  • Layout dan tipografi.

  • Kualitas cetakan dan desain sampul (cover).

  • Kesalahan cetak atau tanda baca yang mungkin terlewat.

Kejujuran dan Objektivitas: Etika Penulis Resensi

Menulis resensi menuntut kejujuran. Nilailah buku secara keseluruhan, baik kelebihan maupun kekurangannya. Jangan biarkan selera pribadi membuat penilaian menjadi berat sebelah. Tugas Anda adalah menunjukkan kriteria yang jelas mengapa sebuah buku layak atau tidak layak diterima oleh masyarakat.

Kesimpulan

Menulis resensi adalah sebuah keterampilan yang tumbuh seiring jam terbang. Sebagaimana dijelaskan dalam ulasan saya mengenai buku Buku dan Pengarang karya Yus Badudu, memahami intisari karya orang lain akan sangat membantu kita dalam mengasah kemampuan menulis kita sendiri.


 Sumber : Keraf, Gorys. 2001. Komposisi. Cetakan ke-12. Ende : Nusa Indah
Ditulis oleh: Arsyad R Bahasa dan Sastra Updated at : 4:53 AM

Wednesday, January 21, 2015

Mengenal Kitab Nirata Praketa

Mengenal Kitab Nirata Praketa


Isi dari kitab Nirata Praketa,  saya kutip dari buku Sastra Jawa Kuna Puisi yang ditulis oleh Dr. Purwadi, M.Hum
Pada buku tersebut dibahas beberapa kitab seperti Kitab Nirata Praketa, Kitab Barata Yuda, Kitab Negara Kertagama, dan Kitab Arjuna Wiwaha.
Sebenarnya ingin mengupas tuntas isi buku ini, tetapi karena rasa penasaranku, saya ingin fokus ke ktiba Nirata Praketa. Karena di antara kitab-kitab lain, kitab ini yang baru kudengar namanya.
Kitab Nirata Praketa ini merupakan konstitusi atau undang-undang bagi rakyat Kahuripan.




Isi dari kitab Nirata Praketa ini meliputi :
- Menegakkan Supremasi Hukum
Berisi permohonan ampun kepada Tuhan Yang Maha Tinggi, yang selalu ada di hati sebagai tujuan samadi. Tuhanlah yang dapat memberikan ilmu pengetahuan.
Usahakanlah untuk berteman dengan orang yang baik dan sabar. Orang yang jahat /tidak dapat dipercaya hanya akan membawa bencana. Seperti angsa yang berteman dengan burung gagak, maka keluarganya akan habis mati dimangsa gagak tersebut.

- Hendak Mencapai Kepandaian
Kepandaian dapat dicapai melalui kesabaran. Seperti pohon beringin yang mula-mula berasal dari biji yang kecil.
Segala jenis kepandaian hendaklah dijaga erat-erat, meski kelihatan tidak berguna. Seperti seorang pedagang yang bersusah payah, mencari barang-barang dagangan agar bisa memenuhi kebutuhan pembelinya.
Dan tidak ada kekayaan apa pun yang dapat menggantikan amal saleh. Harta, anak, istri akan ditinggal setelah kita mati.

- Karma dan Loba
Kekayaan, saudara, anak, istri akan ditinggal setelah kita mati. Hanya amal baik dan buruk yang selanjutnya sebagai penunjuk jalan.
Karma lah yang menyebabkan seseorang mendapat celaka. Sikap kopa (angkara) akan menimbulkan lobba (tamak), yang akhirnya menimbulkan moha (kebingungan). Moha akan menimbulkan mada (kemabukan) yang akhirnya akan menyebabkan matsara (iri), kujana (pikiran jahat), katungka (kekebalan), dan garwita (kecerobohan).

- Karmendriya
Karma (perbuatan=amal) indriya (indra) yang akan menjadi pemimpin dari hati kita sebagai jalan bertemu dengan Suksma.
Kejahatan dan kebaikan di dunia sangat sulit untuk dipisahkan. Keduanya berasal dari trikarya perbuatan, kata-kata, pikiran) yang bisa menjerumuskan manusia ke dalam Yama (=naraka) maupun menimbulkan “triwarga” (kesalehan, cinta, dan harta).

- Menjaga ‘Trikaya’
Jagalah ‘Trikaya’ agar selalu suci dan terhindar dari kejahatan. Lakukan doa, sembahyang dan segala sesuatu sesuai ketentuan.

- Tujuan Pertapa
Hanya orang yang ‘diam’ dan ‘tak merasa menemukanNya’ hilang segala rasa dan akarnya yang dapat bertemu dengan Dia.

-Adyatmika Paramatma
Tiadalah perbuatan seserang tanpa kehadiran Dia. KehadiranNya ‘maya’, tidak dapat ditunjukkan.
Pada waktu hati telah hining (diam , suci) maka ia akan hilang dan timbullah kesadaran baru. Ketika Kenyataan Tertinggi menyatu pada seseorang, maka ketemulah Roh yang Tertinggi (=Adyatmika =Paramatma).

- Kesaktian Ada Batasnya
Orang yang telah mencapai pertemuan ga’ib yang utama. Menyatu dengan Bhatara, kesaktiannya tak ada batasnya, meliputi seluruh dunia, serta membawa kebahagiaan yang kekal.
Orang yang suci, bukan hanya dirinya yang suci, bahkan orang lain pun suci karenanya. Kepentingan orang lain adalah kepentingannya sendiri.
Baginya semua orang sama, tidak ada yang nista (=hina), madya (=pertengahan) maupun uttama (=utama)
Berbeda dengan orang-orang biasa, yang hanya memuaskan hatinya. Hatinya sangat senang jika ada orang lain yang kesusahan. Menghina orang dengan segala macam cara, memperkecil orang yang berjasa padanya. Berusaha mencai-cari kesalahan orang lain.

- Hati Seorang Pendeta Besar
Pendeta besar lebih tinggi kedudukannya dari orang lain, karena kasihnya bukan karena lobanya. Kesempurnaan  ilmunya yang membuat permata dan lainnya mendatanginya.

Sampai sini dulu postingannya. Mohon maaf seandainya masih banyak kekurangan dalam menuliskan inti kitab Nirata Praketa ini. Sulitnya memahami isi dari buku rujukan menjadi kendala tersendir bagi saya.
Ditulis oleh: Arsyad R Bahasa dan Sastra Updated at : 9:26 PM

Ensiklopedi Sastra Indonesia Modern

Ensiklopedi Sastra Indonesia Modern

ensiklopedia sastraJudul buku : Ensiklopedia Sastra Indonesia Modern

Penyunting  Utama : Dr. Dendy Sugono

Penerbit : PT Remaja Rosdakarya bekerja sama dengan Pusat Bahasa, Departemen Pendidikan Nasional

Cetakan  pertama, Oktober 2003

Cetakan kedua, November 2003

Cetakan ketiga, November 2009

Jumlah Halaman : xii + 271 halaman

 

Sebuah buku, yang bisa dikatakan wajib, dimiliki atau dibaca oleh para peminat sastra, mahasiswa, pelajar dan siapapun yang ingin memperdalam wawasannya mengenai kesusasteraan Indonesia.

Dalam ensiklopedia ini dibahas mengenai :

1. “Sang pengarang” Indonesia sebagai manusia Indonesia yang berkreasi untuk Indonesia.

2. Karya sastra dalam berbagai genre dan bentuknya.

3. Penerjemah, yang karya terjemahannya semakin menambah khazanah sastra Indonesia.

4. Penerbit, yang berperan penting dalam distribusi sastra.

5. Peristiwa sastra, penghargaan sastra, mitologi, dan istilah khusus sastra

Isi dari ensiklopedia ini didasarkan pada huruf abjad. Dimulai dari Abadi, Abdul Moeis, Abdul Hadi W.M, Abu Hanifah, Achdiat Karta Mihardja sampai ada Wildan Yatim, Wing Kardjo, Wisran Hadi, dan diakhiri dengan Yayasan Buku Utama.

Abadi adalah surat kabar harian di Jakarta yang terbit tahun 1951. Para pengarang yang menulis di Abadi diantaranya Tuty Alawiyah A.S, Taufiq Ismail, Mansur Samin, Slamet Rahardjo dll.

Abdul Moeis, terkenal dengan novelnya yang berjudul Salah Asuhan, Karyanya yang lain adalah Surapati dan Untung Anak Surapati. Beliau juga penerjemah Tom Sawyer karya Mark Twain ke dalam bahasa Indonesia. (Wuih…tidak menyangka deh..)

Untuk yang lain bisa membaca sendiri ensiklopedia ini. Saya sendiri malah tertarik dengan pengarang yang juga penerjamah.

Ajib Rosidi , terkenal sebagai sastrawan dan pengarang yang serba bisa. Selain menciptakan puisi, cerpen, novel, menulis berbagai artikel, menyadur cerita-cerita rakyat juga sebagai penerjemah. Ada terjemahan dari bahasa Sunda dan juga menerjemahkan bahasa Jepang.

H.B Jassin, selain menulis banyak buku sastra juga banyak menerjemahkan, seperti Max Havelaar karya Multatuli, Tjuk  (Vuk) karya Vincent Mahieu, Noevelles Roumaines (Kisah-kisah Rumania), Vol de Nuit  (Terbang Malam) karya A. de St. Exupery dan masih banyak lagi.

Seandainya tidak memiliki buku ini sendiri, kita bisa meminjam di perpustakaan di kala butuh berbagai hal tentang sastra Indonesia.

Ditulis oleh: Arsyad R Bahasa dan Sastra Updated at : 9:08 PM

PEMAIN EBEG (2)

Sambungan dari postingan sebelumnya.
SCENE 5 INT. LABORATORIUM KOMPUTER – SIANG HARI
Pemain : Budi, Pak Ardi dan beberapa siswa
Budi sedang asyik di depan komputer ditemani Pak Ardi. Sesekali Pak Ardi mengampirinya.
Pak Ardi     : Toni mana, kok gak kelihatan.
Budi           : Biasa Pak, manggung.
Pak Ardi     : Ooo..ya sudah dilanjut.
Budi           : Siap Pak. Oh ya Pak, mau tanya. Bagaimana membuat menu-menu di blog agar kelihatan lebih profesional. Saya lihat ada blog kok bagus banget. Gimana caranya ya Pak?
Pak Ardi menghampiri Budi dan membimbingnya dengan sabar. Di mata dia, meskipun dari desa terpencil, Budi adalah siswa yang sangat cerdas dan punya keinginan yang tinggi.

SCENE 6 EXT. SEBUAH RUMAH – SORE HARI
Pemain       : Budi, Toni
Sedang ada pertunjukkan ebeg atau kuda lumping. Tidak seperti biasa, Toni menari dengan semangatnya. Tidak sedikitput dia merasa malu. Dia bertekad akan membantu Budi mengerjakan proyek tentang kuda lumpin yang melibatkan dirinya. Sebuah karya yang unik dan orisinil.
Seorang penonton, yaitu Budi sesekali maju mengambil gambar menggunakan handphone –nya.


SCENE 7 INT. KAMAR BUDI – MALAM HARI
Budi menulis di buku catatannya. Sesekali dia mengerinyitkan dahinya. Garuk-garuk kepala. Berulang kali menguap. Akhirnya berbaring di tempat tidur. Matanya terpejam. Dia tidur dengan senyum di bibir. Dalam mimpinya dia merasa sedang berselancar di alam maya. Dan anehnya ada iringan suara gending khas yang ada dipertunjukkan kuda lumping.

SCENE 8 INT. LABORATORIUM KOMPUTER – SIANG HARI
Pak Ardi     : Kamu memang telaten Bud. Jarang loh, penulis blog yang mau repot-repot nulis tangan. Maunya langsung ngetik di komputer atau laptop.
Budi           : Wah, Bapak tahu sendiri saya punyanya ini dan ini. ( Sambil menunjukkan tangan ke dahi dan bolpoinnya)
Pak Ardi     : Satu lagi, gambar yang kamu ambil sangat mengesankan. Orisinil. Dan tulisan-tulisan juga bagus. Bahasanya sederhana. Menarik dan mudah dipahami. Oh ya, tapi masih ada yang kurang. Sayang dilewatkan.
Budi           : Apa itu Pak.
Pak Ardi     : (menghampiri Toni) Toni..bangun. Malah tidur.
Toni            : (tertawa) Hehehehehe. Ada apa Pak?
Pak Ardi     : Kapan kamu ada pertunjukkan lagi.
Toni            : Hmm…mungkin minggu depan Pak. Kebetulan di kampung saya ada yang punya hajatan.
Pak Ardi     : Bud. Secepatnya kalau Toni dapat job. Kamu ambil videonya. Nanti saya pinjami handycam. Nanti videonya dipasang di blogmu. Pasti akan lebih menarik.
Budi           : (tertawa) Asyik. Tapi ajari dulu ya Pak?
Pak Ardi     : (ikut tertawa) Loh..biasa begitu kan?
Toni ikut-ikutan tertawa
Pak Ardi     : Menulis di blog, kalau serius pasti banyak manfaatnya. Membaca blog kamu, Pak guru merasa lebih paham apa itu budaya kuda lumping. Apalagi tulisanmu, bukan sekedar mencari bahan di internet. Tapi juga dilengkapi dengan bukti-bukti yang kamu cari secara langsung. Dan pembaca yang tidak tahu apa-apa, pun bisa benar-benar ikut merasakan dan menikmatinya.
                     Apalagi pada postingan kamu kemarin yang berjudul “Pengakuan Seorang Pemain Ebeg”, wah…tak terbayangkan.
Toni            : (Toni menyambung perkataan Pak Ardi) Saya hanya bisa membantu sebisanya. Mungkin karena saya akrab dengan Budi. Tanpa saya bicara pun, dia bisa menulis dengan baik.
Budi           : (tersenyum dengan tulus) Ya, tidak seperti itu Tom. Tulisan saya lebih mengena pada pembaca, mungkin karena apa yang kutuliskan bukan cerita rekaan. Tetapi memang nyata, sesuatu kehidupan dari teman akrabku.
Pak Ardi     : (Bertepuk tangan sekali) Oke. Hari ini sudah cukup dulu. Masih ada waktu kurang lebih dua minggu sebelum batas akhir pengiriman. Budi, kamu terus saja menulis. Jangan hanya berpikir blog ini dilombakan. Setidaknya kamu sudah berusaha mengenalkan salah satu budaya kita di internet. Yang membaca dari segala penjuru dunia loh.  Dan saya yakin, banyak yang menyukai tulisan-tulisanmu.
                     Tutup programnya. Dan matikan komputernya dengan benar.

SCENE 9. LAPANGAN UPACARA – PAGI HARI
Hari senin, seperti biasa siswa-siswa dan guru serta para karyawan melaksanakan upacara bendera. Bapak kepala sekolah memberikan sambutan
Pak Banung         :  Anak-anaku yang berbahagia. Tadi malam, Pak Ardi datang ke rumah dan meminta saya untuk memberitahukan sesuatu pada kalian semua.
(Pak Banung terdiam sejenak)
Beberapa anak saling berpandangan. Toni melirik pada Budi. Budi balas melirik dan hanya mengangkat bahu.
Pak Banung         :  Benar-benar saya terharu dan bangga. Meski sekolah kita jauh dari kota, tidak menghalangi bagi kita untuk berkomunikasi, untuk mengenal dunia luar tanpa terhalang oleh kesulitan geografis sekolah kita. Awalnya banyak yang mentertawakan, ketika sekolah ini diberi fasilitas internet. Buat apa ada internet di sekolah ndeso. Sekolah metroboletan..bukan metropolitan. Prinsip saya adalah jangan sampai hanya karena keadaan maka menghalangi kita untuk maju atau mengenal dunia lain. Internet adalah salah satu solusi yang tepat.
(Kembali pak Banung terdiam)
Kembali anak-anak berpandangan. Tak tahu apa arah perkataan Bapak Kepala Sekolah. Tiba-tiba, Budi dan Toni merasa ada sesuatu yang menyesakkan dadanya.
Pak Banung         :  Hari ini saya sangat bahagia sekali, ada siswa kita yang mau memanfaatkan fasilitas ini dengan baik.
                               (terdiam sejenak)
                               Dan mereka sekaligus mengenalkan salah satu budaya yang berkembang di sini, yaitu ebeg melalui internet. Dan atas keberhasilan mereka, panitia lomba blog remaja tingkat nasional mengundang Budi untuk mempresentasikan karyanya minggu depan. Toni selaku nara sumber dan Pak Budi sebagai pembimbingnya untuk mendampingi Budi.
Siswa-siswa bersorak-sorai dan bertepuk tangan.
Tak kuasa Budi dan Toni menahan air matanya.


SELESAI
Demikian naskah sederhana ini, nggak tahu juga kalau sudah dibuatkan film bisa menjadi seru atau biasa-biasa saja. Terpikir juga sih untuk membuatkan filmnya tapi versi animasi. Kapan ya?
Ditulis oleh: Arsyad R Bahasa dan Sastra Updated at : 6:12 AM

Tuesday, January 20, 2015

Bahkan Einstein Pun Berduka

Bahkan Einstein Pun Berduka


Judul Buku : Bahkan Einstein Pun Berduka'
Penulis : Yoyok Dwi Prastyo
Penerbit : Era Adicitra Intermedia
Tahun Terbit : 2012
Jumlah Halaman : x + 158 halaman
ISBN : 978-3414-79-0

Yoyok Dwi Prasetyo, S.Pd, penulis buku ini, ternyata sarjana Bahasa dan Sastra Asing dari salah satu perguruan tinggi ternama di Semarang. Hal ini berbeda sekali dengan tema yang ditulis dari buku ini yaitu tentang eksperimen ilmiah. 

Meski demikian, dia tetap konsisten menulis sesuai keilmuwannya. Terbukti dengan karya-karya yang dapat dilihat di Cadence, Suara Merdeka Cybernews, Bonjour, Je Suis le Meilleur!!!, Mieux, Genial, Curieux 1 dan Curieux 2.

Kumpulan cerpen ini bukan saja berisi tentang sains/ilmu pengetahuan, tetapi juga tentang dunia komputer dan matematika. Dimulai dengan cerpen berjudul "Magnitis Lithos", yang berarti batu magnesian. Cerpen ini berisi tentang sejarah magnet, sifat-sifat magnet, sampai cara membuat magnet dijabarkan dengan lugas melalu cerita yang mengasyikan.

Demikian juga cerpen berjudul "Mejikuhibiniu", yang berisi tentang peristiwa pelangi, fenomena cahaya putih, spektrum warna sampai cara membuktikannya.

Dan masih banyak lagi cerpen-cerpen yang menarik, baik dari sisi judul maupun isinya. Seperti "Bahkan Einstein Pun Berduka" yang menjadi judul utama kumpulan cerpen ini ataupun juga The Secret of 9.
Silakan baca saja kumpulan cerpen ini, sebagai bacaan ilmiah yang disajikan secara populer dan menyenangkan.
Ditulis oleh: Arsyad R Bahasa dan Sastra Updated at : 12:02 PM

Monday, January 19, 2015

“PEMAIN EBEG”

Coba-coba membuat naskah untuk dibuatkan film animasi. Mencoba memahami istilah-istilah yang digunakan dalam pembuatan naskah untuk film. Dan inilah karya pertamaku yang berjudul  “PEMAIN EBEG”

Sinopsis
Ada dua sahabat, bernama Budi dan Toni. Keduanya sekarang duduk di bangku SMP. Selain sebagai pelajar, Toni juga berprofesi sebagai pemain kuda lumping atau ebeg. Tentu saja kegiatannya sebagai pemain kuda lumping, selanjutnya ditulis dengan ebeg, sering mengganggu sekolahnya, tidak jarang sehari bahkan tiga harus bolos sekolah karena manggung di berbagai tempat.
Sebagai teman karibnya, Budi sangat prihatin dengan keadaan Toni. Toni berasal dari keluarga yang tidak mampu. Ayahnya sebagai buruh tani dan ibunya bekerja sebagai kuli pabrik rambut. Dengan menjadi pemain ebeg, dia mempunyai uang tambahan yang bisa digunakan sebagai penambah uang saku, bahkan kadang untuk membayar uang sekolah.
Sekolah mereka baru 3 tahun berdiri, berada di pelosok dan harus melewati perkebunan penduduk yang seperti hutan. Meskipun demikian, sekolah mereka mempunyai sarana yang lumayan lengkap. Sekolah tersebut mempunyai laboratorium komputer yang sudah terhubung ke internet melalui antena yang sangat tinggi.
Sebuah kompetisi yang diberitakan di internet, mengubah jalan hidup Budi dan Toni. Dengan penuh ketekunan, keduanya mengubah pola pikir mereka dari seorang pelajar kampungan menjadi pelajar yang terbuka pikirannya.

Pemain
Budi : Seorang pelajar SMP, sahabat Toni. Budi memiliki semangat juang yang tinggi untuk menjadi pelajar yang maju. Anaknya santai tetapi bisa sangat serius ketika mempunyai keinginan yang tinggi.
Toni : Toni, selain sebagi pelajar yang satu sekolah dengan Budi, juga berprofesi sebagai pemain kuda lumping atau ebeg. Anaknya santai dan banyak humor.
Pak Ardi : Guru baru di sekolah Budi dan Toni. Dia seorang guru yang punya banyak kepedulian dengan anak. Perhatian dan banyak humor.
Pak Banung : Bapak kepala sekolah
ebeg
Sumber gambar : http://storyandphotograph.blogspot.com/
SCENE 1 EXT. SEBUAH RUMAH – SORE HARI
Pemain : Toni
- [Musik tradisional mengiringi pertunjukkan kuda lumping]
Di depan sebuah rumah penduduk sedang ada pertunjukkan ebeg atau kuda lumping. Keempat pemain kuda lumping yang mulai kesurupan bertingkah aneh-aneh. Toni, salah satu pemain, lari menyerbu ke meja berisi makanan dan minuman, dengan kondisi tangan berada di kedua pinggang, dia makan dan minum dengan ganasnya. Kemudian dia kembali menari, kepalanya menggeleng-geleng, terus menerus seperti kuda yang kebingungan.

SCENE 2 JALAN KAMPUNG - PAGI
Pemain : Budi dan Toni
Sepanjang jalan kedua sahabat mengobrol dengan asyik. Perjalanan dari rumah ke sekolah membutuhkan waktu 30 menit. Jalan yang mereka tempuh rusak parah, tidak ada angkutan. Kadang satu dua mobil pribadi lewat dengan sangat pelan. Demikian juga motor yang melintas pun harus ekstra hati-hati.
Budi : Bagaimana pertunjukkan kemarin Ton.
Toni menoleh dan tersenyum.
Toni : Biasa Bud. Ramai banget. Tapi tubuhku pegal semuanya. Kemarin jadi ulangan matematika, nggak?
Budi : Jadi dong. Dan seperti biasa kamu ikut ulangan susulan di ruang guru.
(menoleh ke arah Toni) Ton, kalau misalnya kamu ikut main ebegnya pas hari esuknya libur gimana?
Toni : Penginnya sih kayak gitu Bud. Tapi tahu sendiri lah, kalau saya menolak ya mungkin suatu saat tidak terpakai lagi. Artinya siapa nanti yang membantu keuangan keluargaku.
Budi : Susah juga ya Ton. Dah ganti topik saja. Oh ya nanti, mau pulang agak siang nggak. Satu atau dua jam main internet di sekolah. Sekalian mau nanya sama Pak Ardi, cara membuat tulisan di internet. Masa selama ini, kita bisanya hanya mengambil apa-apa yang ada di internet. Pengin juga, nulis di sana dan nantinya banyak yang akan membacanya. Dan kita bisa terkenal.
Toni : (tertawa) Mimpi kali ye.
Budi : (ikut tertawa) Asem kamu. Sudahlah. Cepetan jalannya, nanti terlambat.
Mereka berdua kemudian melanjutkan perjalanannya sambil terus bercanda ria. Jalanan yang rusak tidak menghalangi semangat mereka untuk terus belajar.

SCENE 3 INT. LABORATORIUM KOMPUTER – SIANG
Pemain : Budi, Toni, Pak Ardi
Pak Ardi : Anak-anak, hari ini mainnya jangan kelamaan ya. Bapak mau pulang. Ada keperluan mendadak di rumah
Budi : Tapi, besok kami bisa mainan lagi kan Pak?
Pak Ardi : Ya bolehlah, fasilitas ini kan buat kalian. Yang penting ada saya di sini.
Toni : Ditinggal saja gak apa-apa Pak. Nanti kuncinya dititipkan sama mas Sapin.
Budi : (tertawa) Alasan saja si Toni Pak. Pasti mau melihat video atau gambar yang aneh-aneh.
Pak Ardi : (tersenyum) Pokoknya tidak boleh. Di sini aku yang bertanggung jawab terhadap kerusakan komputer, termasuk kerusakan otakmu.
Toni : Bapak, ada-ada saja. Ini otak masih bener. Iya kan Bud.
Budi : Tentu dong.
Pak Ardi : Budi, Tomi. Saya ada informasi, ini ada lomba buat blog. Temanya bebas seputar budaya daerah. Peserta minimal berumur 14 tahun. Berminat nggak?
Budi : Blog itu apa pak?
Toni : (tertawa) Hehehehehe..
Pak Ardi : (garuk-garuk kepala). Waduh. Itu loh, yang biasa Bapak mengajar. Berisi materi-materi, kemudian soal-soal, gambar, video yang dibuka lewat internet.
Toni : Oooo..itu sih saya tahu Pak.
Budi : (mata terbinar-binar) Wah kebetulan saya memang ingin belajar menulis di internet. Namanya blog toh. (tertawa) Saya mau dong Pak diajari.
Pak Ardi : Boleh. Tapi syaratnya kamu serius. Bikin blog itu mudah. Cuma mengisinya harus telaten. Apalagi kamu di rumah gak punya komputer.
Budi : Tenang saja Pak. Asalkan diperbolehkan, selepas pulang sekolah, saya sama Toni akan di sini untuk menulis.
Pak Ardi : Istilahnya posting. Oke, sini saya ajari.
Selanjutnya, mereka asyik menghadapi monitor di depannya. Belajar, mencari informasi, menjelajah dunia maya tanpa batas.

SCENE 4 INT. KAMAR BUDI – MALAM HARI
Pemain : Budi
Malam ini Budi tidak bisa memejamkan matanya. Matanya menatap langit-langit rumah yang menghitam. Kepalanya terus berputar. Internet yang dikenalnya lewat Pak Ardi, telah mengubah pandangannya. Dari seorang kampungan, yang punya pikiran sederhana menjadi orang yang berpikiran luas. Dia mempunyai keinginan besar untuk maju. Tidak mau kalah dengan pelajar-pelajar lain yang dikenalnya di Internet. Informasi adanya lomba blog, membuat harapannya kian melambung untuk menjadi orang yang terkenal. Masalahnya, apa yang akan dituliskan.
Tiba-tiba dia tersentak. Kemudian tersenyum lebar.
Budi : Aha, aku tahu apa yang akan kutuliskan. Iya..Toni.
Akhirnya dia tertidur sambil membawa senyum di bibir.
(bersambung)
Ditulis oleh: Arsyad R Bahasa dan Sastra Updated at : 11:01 PM

Suara Perih Perempuan

Suara Perih Perempuan : Lesbian & Kawin Bule


Judul Buku : Suara Perih Perempuan : Lesbian dan Kawin Bule
Penulis : Putri Kartini
Penerbit : Galang Press, Yogyakarta
Hal : 335 halaman
Cetakan I, September 2003
Cetakan II, Februari 2006



Sania, namanya. Dia menjadi perempuan yang berbeda. Belaian cinta dan kasih sayang sesama jenisnya yang dirindukannya. Berbagai penderitaan dan pelecehan yang diterimanya, menjadikan dia terpuruk di titik nadir. Mencintai sesamanya adalah pilihan.

Perempuan selalu menjadi korban. Perempuan selalu menjadi objek. Baik atas nama norma adat, norma agama dia dipandang sebagai kelas kedua. Banyak perempuan yang kehilangan kesadaran akan eksistensinya sebagai makhluk yang seharusnya sejajar dengan kaum laki-laki.

Hari-hari Sania yang hidup di antara nyinyiran masyarakat. Yang menganggap dirinya seperti binatang. Binatang yang bercinta dengan sesamanya. Entah..apakah ada binatang yang mengawini sesama jenisnya ya?

Bertemu sesama wanita uang lain, kehadiran dirinya  juga bukan hanya menimbulkan kejengkelan. Tetapi bisa kekhawatiran kalau tertular dirinya. Perjalanan panjang yang sulit untuk dilewati oleh seorang Sania.

Pintu hatinya tertutup rapat-rapat untuk jenis lelaki manapun.
Entah sampai kapan terus bertahan ketika bertemu dengan bule yang memberi harapan baru padanya. Menghilangkan ketakutan terhadap lelaki sekaligus mengangkat derajatnya sama dengan mereka.

"Walaupun mereka memanggilku perempuan hina dina penuh noda, tetapi hatiku begitu putih, seputih susu ibu yang telah memberiku kehidupan".

Masyarakat menilainya dari sudut pandang aspek dan moralitas saja, Tanpa mau melihat kehidupan Sania secara utuh. Hidup terus berjalan...dan harus kuat menghadapi. Selalu berbuat baik untuk kehidupan manusia yang lain.

Bahkan selalu siap berkorban...

Ditulis oleh: Arsyad R Bahasa dan Sastra Updated at : 5:42 AM

Sunday, January 11, 2015

Berakhir Sudah

Berakhir Sudah

Detik demi detik..terasa begitu lama
Sepi di luar...di dalam ada pergulatan
Antara ya dan tidak....
Antara ingin melepas atau tetap bertahan...
Ketika tenaga mulai menghilang...
Mata pun tak mampu menatap...
Telinga pun enggan mendengar...
Dan sang pencabut nyawa tersenyum...
Menyambut dengan ketulusan...
Jiwa ini semakin matang...
Untuk lepas selama-lamanya

Untuk lepas..selama-lA
Ditulis oleh: Arsyad R Bahasa dan Sastra Updated at : 7:22 PM

Tuesday, January 6, 2015

Teman Maya (1)

Teman maya yang jauh di sana..

Malam minggu adalah malam yang ditunggu-tunggu Maya. Karena hanya pada malam itu, dia diijinkan untuk main internet. Tentu saja orang tuanya sekali-kali menghampirinya dan memperingatkan kalau sudah malam.
Irma, adalah salah satu teman yang dikenalnya lewat facebook. Kebetulan hobi mereka juga sama, yaitu menulis. Persahabatan keduanya makin dekat ketika keduanya sempat bertemu pada lomba menulis cerpen antar sekolah di kabupaten. Persahabatan mereka terus berlanjut, meski lewat internet.
Sudah beberapa minggu ini, Irma tidak pernah terlihat online. Ini adalah minggu yang keempat, Maya tidak bertemu dengannya. Pesan maupun komentar yang dikirimnya tidak pernah dibalas. Nomor handphone yang tertulis di profilnya juga tidak aktif.
Maya bertanya-tanya dalam hati, “Ada apa dengannya?” Apakah dia marah kepadaku.” Malam itu, belum ada jam 8 malam, Maya sudah mematikan komputernya dan ikut duduk-duduk bersama orang tuanya di ruang keluarga.
Melihat wajah Maya yang kusut, Pak Argo, ayahnya bertanya.
“Kamu kenapa, gak biasanya jam segini sudah selesai main internetannya.”
“Malas Pak,” jawab Maya sekenanya.
“Kok malas sih, biasanya dipanggil-panggil saja kamu nggak mau nengok,” sambung Ibunya.
“Pasti ada masalah sama teman di facebook ya, ” ledek ayahnya sambil tersenyum. “Masa hanya gara-gara facebook kamu jadi murung begitu,”
“Bapak dan mamaku tersayang. Maya nggak ada apa-apa. Lagi males aja.”
Pak Argo dan istrinya saling berpandangan mata. Kemudian keduanya tertawa.
“Ya sudahlah. Sini nonton TV saja,” kata Ibunya dengan lembut.
“Nggaklah Bu. Maya mau tidur saja.”
“Kok tidur sih. Baru jam 8 . Coba kamu cerita deh, tentang temanmu,” kata Pak Argo sambil mengecilkan volume televisinya.
“Teman yang mana Pak.” Pura-pura Maya mengelak.
“Itu loh, teman internetmu. Yang katanya kamu pernah ketemu. Si Irma.”
Maya menghela napas dan terdiam.
“Pak, Bu boleh nggak kalau besok pagi kita mencari rumah Irma. Sudah sebulan Irma nggak pernah nongol. Maya kuatir dia kenapa-kenapa.”
“Buat apa sayang. Dia kan cuma kamu kenal di internet.” Ibunya menambahkan. “Emangnya kamu tahu alamatnya.”
“Pak Bu, Irma bukan sekedar teman di internet. Coba kalau gak ada dia. Pasti tiap malam minggu, Maya keluar malam. Maya kangen Bu? Pokoknya besok anterin. Maya punya alamatnya kok.” Mata Maya berkaca-kaca.
Kedua orang tuanya hanya saling berpandangan kebingungan. Maya kemudian lari menuju kamarnya dan mengunci diri.
(bersambung)
Ditulis oleh: Arsyad R Bahasa dan Sastra Updated at : 8:52 PM
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...