Showing posts with label tokoh sastra. Show all posts
Showing posts with label tokoh sastra. Show all posts

Thursday, March 3, 2016

Lebih Dekat dengan Arswendo Atmowiloto

Arswendo AtmowilotoArswendo Atmowiloto. Siapa sih yang belum mengenalnya setidaknya pernah mendengar namanya. jangan mengaku pecinta sastra Indonesia kalau tidak pernah mendengar nama beliau. Atau ada yang mengaku hobby membaca buku cerita atau baca novel, tapi kok belum pernah dengar nama Arswendo. Wah tak dapat dipercaya.

Arswendo Atmowiloto adalah salah satu pengarang yang serba bisa. Cerita yang dibuatnya sangat beragam. Humoris. Fantastis. Spekulatif. Sensasional. Pada saat ditahan, beliau juga menulis novel yang berjudul Surkumur, Mudukur dan Plekenyun (1995).

Penghargaan yang pernah didapat
Tahun 1972 mendapatkan Hadiah Zakse untuk esainya yang berjudul "Buyung Hok dalam Kreativitas Kompromi"
Tahun 1972 dan Tahun 1973 mendapat Hadiah Harapan dan Hadiah Perangsang Minat Menulis Sandiwara DKJ dengan dramanya yang berjudul "Penantang Tuhan" dan "Bayiku yang Pertama".
Tahun 1975 mendapat hadiah harapan juga pada lomba serupa melalui dramanya yang berjudul "Sang Pangeran" dan "Sang Pemahat".
Tahun 1981, tahun 1985 dan tahun 1987 mendapat hadiah Yayasan Buku Utama Departemen P & K melalui karyanya Dua Ibu (1981), Keluarga Bahagia (1985) dan Mendoblang (1987).
Tahun 1982 mendapat Hadiah Sastra Asean.

Karya-karya lain
Cerita Anak : Ito (1973) dan Lawan jadi Kawan (1973)

Novel : Bayang-bayang Baur (1976), Semesta Merapi Merbabu (1977), The Circus (1977), 2 x Cinta (1978), Saat-saat (1981), Pelajaran Pertama Calon Ayah (1981), Dua Ibu (1981), Airlangga (1985), Senopati Pamungkas (1986), Canting (1986), Pengkhianatan G 30S/PKI (1986), Abal-abal (1994), Projo dan Brojo (1994) dan Kisah-kisah Para Ratib (1996).

Drama anak-anak : Sang Pemahat (1976)
Kumpulan cerpen : Surat untuk Sampul Putih (1979), Senja yang Paling Tidak Menarik (2001)
Kumpulan Esai : Telaah tentang Televisi (1986)

Buku lain : Mengarang Itu Gampang (1982).

Kalau di perpustakaan sekolah sendiri ada Serial Detektif Cilik Imung : Pembajakan Pesawat Terbang (Buku 1), Matinya Raja Batik (Buku 2), Operasi Lintah (Buku 3).

Pokoknya asyik deh membaca buku-buku karangan Arswendo. Mau berburu buku-bukunya...yuuukk

Ditulis oleh: Arsyad R Bahasa dan Sastra Updated at : 5:08 PM

Wednesday, October 21, 2015

Lebih Dekat dengan Chairil Anwar

Siapa yang tidak mengenal Chairil Anwar? Kalau tidak mengenal, malulah kalau mengaku sebagai penyair. Pelajar SMP/SMA saja, kalau tidak mengenal Chairil Anwar itu juga lucu. Yang salah siapa? Guru Bahasa Indonesianya atau dasar anaknya. Itu waktu saya masih SMP di era 90 an. Kalau sekarang entahlah..

Chairil Anwar dilahirkan di Medan, 26 Juli 1922 dan meninggal di Jakarta, 28 April 1949. Sangat muda ya, 27 tahun hidup di dunia. Suratan takdir, persis dalam sajaknya Sekali berarti setelah itu mati atau Aku mau hidup seribu tahun lagi. Kehidupan yang sebentar jauh lebih bermakna ketimbang hidup lama tetapi tidak bermanfaat. Apa daya ingin hidup yang jauh lebih lama, tapi takdir bicara yang berbeda.

Mengapa Chairil Anwar begitu terkenal? Ada yang mengatakan karena pemberitaan. Atau karena begitu ditonjolkan dalam buku-buku teks bahasa Indonesia. Bagi saya, semangat dalam setiap sajak-sajaknya itu yang membuat menonjol. Pilihan kata-kata yang indah..juga menghujam sanubari.
Dalam Ensiklopedi Sastra Indonesia yang diterbitkan oleh Titian Ilmu 2004, dituliskan Chairil Anwar terkenal karena dua hal.
Lebih dekat dengan Chairil Anwar
Pertama, ia menulis sajak-sajak bermutu tinggi dengan jenis sastra yang menyandang suatu ideologi atau pemikiran besar tertentu seperti perang, revolusi dan sebagainya. Satra yang seperti itu disebut Sastra Mimbar, yaitu jenis sastra yang secara tematis erat hubungannya dengan keadaan  dan persoalan zaman. Misalnya pada karyanya yang berjudul Aku, Catatan Tahun 1946, Perjanjian dengan Bung Karno serta Kerawang Bekasi.
Kedua, ia juga menulis sajak yang menjadi bahan perenungannya yang lahir dari persoalan-persoalan keseharian. Karya jenis ini disebut sebagai Sastra Kamar. Misalnya dalam karyanya Senja di Pelauhan Kecil, Derai-derai Cemara, dan Penghidupan.



Dunia sastra merupakan pilihan hidupnya. Dan dia tidak mau setengah-setengah. Sebagai sastrawan "jalang" ternyata dia selalu menggunakan pakaian yang rapi, baju yang disetrika licin. Kesungguhan dalam menentukan pilihan hidupnya sebagai satrawan lengkap dengan suka dukanya menjadi tauladan bagi kita semua.
Sekali berarti setelah itu mati ...Aku mau hidup seribu tahun lagi.

Nama Chairil Anwar pun sampai sekarang masih dipakai oleh Dewan Kesenian Jakarta sebagai anugerah kepada sastrawan dan penyair yang disebut Anugrah Sastra Chairil Anwar. Mochtar Lubis dan Sutardji Calzoum Bachri telah berkesempatan menerima anugrah tersebut.

Chairil Anwar... Sang pendobrak dan pelopor Angkatan 45 Kesusastraan Indonesia.
Karya-karyamu akan selalu hidup sampai akhir zaman.

Ditulis oleh: Arsyad R Bahasa dan Sastra Updated at : 8:16 AM

Saturday, March 28, 2015

Mengenal Sutardji Calzoum Bachri

 

Sutardji Calzoum Bachri O Amuk KapakSiapa yang tidak mengenal puisi Tragedi Winka & Sihka? Dan tidak puas rasanya kalau kita tidak mengenalnya. Dialah Sutardji Calzoum Bachri, yang diberi gelar “presiden” penyair. Kalau Amir Hamzah dikenal sebagai Raja Penyair Pujangga baru, maka Sutardji dikenal sebagai presiden penyair modern Indonesia.

Sajak-sajak Sutardji dianggap fenomenal dan sekaligus kontroversial. Dalam sajak-sajaknya dia menemukan bahasa pengucapannya sendiri dan sekaligus menciptakan konsep dan pengertian baru tentang bahasa sajak. Karya-karya sajaknya menjadi perdebatan sengit apakah karya-karyanya tersebut layak dianggap sebagai karya sajak, seperti halnya karya sastra.

Dalam sebuah kredo pusisi yang dikukuhkannya pada tanggal 30 Maret 1973 di Bandung, dia menuangkan konsep kepenyairannya sebagai berikut. “Kata-kata bukanlah alat mengantarkan pengertian. Dia bukan seperti pipa yang menyalurkan air. Kata adalah pengertian itu sendiri. Dia bebas.”

Kalau dibandingkan dengan kursi, maka kata adalah kursi itu sendiri dan bukan sebagai tempat untuk duduk. Dibandingkan dengan pisau, maka kata adalah pisau itu sendiri dan bukan alat untuk memotong atau menikam.

Kumpulan sajaknya, Amuk (1977) mendapatkan Hadiah Puisi DKJ 1976/77. Kumpulan sajaknya yang lain : O (1973), Amuk (1979), dan O Amuk Kapak (1981). Sajak-sajak dalam bahasa Inggris dimuat dalam Harry Aveling (ed.), Arjuna in Meditation (Calcuta, 1976).

Kumpulan cerpennya yang telah diterbitkan adalah Hujan Menulis Ayam (2001). Bersama Taufiq Ismail dan Slamet Sukirnanto beliau menjadi editor buku Mimbar Penyair Abad 21 (1996). Sajak-sajaknya juga dimuat dalam antologi yang terbit di luar negeri : Writing from the World (Amerika Serikat), Westerly Review (Australia), Dichters in Rotterdam (Belanda, 1975), dan Ik Will Nog Duizend Jaar Leven, Negen Moderne Indonesisdie Dichters (Belanda, 1979).

Berbagai penghargaan telah diraihnya, seperti Hadiah Sastra ASEAN tahun 1979. Hadiah seni tahun 1993 dan pada tahun 1998 menerima Anugerah Sastra Chairil Anwar. Sutardji Calzoum Bachri dianggap sebagai pelopor “Angkatan 70”.

Begitulah sekilas mengenai Sutardji Calzoum Bachri yang kukenal lewat puisi Tragedi Winka & Sihka. Semoga bisa memburu karya-karyanya yang lain.

Sumber :

Ensiklopedi Sastra Indonesia. 2004. Bandung : Titian Ilmu

Ditulis oleh: Arsyad R Bahasa dan Sastra Updated at : 5:25 PM

Monday, January 21, 2013

Mengenal Ahmad Tohari


Ahmad Tohari adalah sastrawan yang terkenal sebagai pengarang trilogi novel Ronggeng Dukuh Paruk (1982), Lintang Kemukus Dinihari (1985) dan Jantera Bianglala (1986).

Ahmad TohariKarya-karyanya banyak yang mendapatkan penghargaan, seperti cerpennya yang berjudul "Jasa-Jasa buat Sanwirya" memenangi Hadiah Harapan Sayembara Cerpen Kincir Emas Radio Nederland Wereldomproep (1977). Novel Di Kaki Bukit Cibalak memperoleh salah hadiah Sayembara Penulisan Roman yang diselenggarakan oleh Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) tahun 1979. Novel Kubah mendapatkan penghargaan dari Yayasan Buku Utama sebagai bacaan terbaik dalam bidang fiksi tahun 1980. Novel Jentera Bianglala dinyatakan sebagai fiksi terbaik (1986). Melalui novelnya yang berjudul Bekisar Merah, Ahmad Tohari meraih hadiah Sastra Asean 1995.

Cerpennya yang lain adalah sebagai berikut :
1. "Tanah Gantungan" dalam Amanah, 28 Desemebr 92 - Januari 1993
2. "Mata yang Enak Dipandang" dalam Kompas, 29 Desember 1991
3. "Zaman Nalar Syngsang" dalam Suara Merdeka, 15 Desember 1993
4. "Sekuntum Bunga Telah Gugur" dalam Suara Merdeka, 7 Mei 1994
5. "Di Bawah Langit Dini Hari" dalam Suara Merdeka, 1 November 1993
6. "Pencuri" dalam Pandji Masjarakat, 11 Februari 1985
7. dll

Sumber : Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional. 2009. Ensiklopedi Sastra Indonesia.   Bandung : PT Remaja Rosdakarya
Sumber gambar : http://jogjanews.com/ahmad-tohari-menulis-adalah-hidup-saya
Ditulis oleh: Arsyad R Bahasa dan Sastra Updated at : 11:04 PM
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...