Showing posts with label review. Show all posts
Showing posts with label review. Show all posts

Saturday, December 7, 2013

REVIEW FILM "SAPU TANGAN FANG YIN"


Panggil saja dia Fang Yin. Hamparan rumput harum artinya. Fang Yin, yang setiap malam menangis. Trauma. Selalu teringat peristiwa pahit yang menimpanya. Ditemani sapu tangan pemberian kekasihnya, Albert Kho, Fang Ying hidup dalam bayang-bayang masa lalunya.




Tiga belas tahun lalu, Fang Yin, bermimpi untuk menampung anak-anak tidak mampu agar bisa belajar. Bersama kekasihnya, Fang Yin berjuang untuk mencapai mimpi-mimpinya.





Namun, kenyataan berkata lain. Kerusuhan Mei 1998 mengubah kehidupannya. Hari ini tidak ada hukum. Huru-hara di mana-mana. Gerakan anti Cina.Massa memasuki rumah-rumah warga keturunan. Menyeret para penghuni, menghajar para pria dan menganiaya para wanita. Termasuk Fang Yin yang menjadi korban. Keperawanannya terenggut.



Banyak warga keturunan Tionghoa yang bernasib seperti Fang Yin. Tercatatat 78 warga keturunan yang mengalami perkosaan dan 85 orang mengalami kekerasan seksual.lainnya. Trauma mendalam. Seorang guru spiritual mencoba membantunya. Katanya dengan tenang, ““Keikhlasan akan mengalahkan kemalangan. Keyakinan akan mengalahkan derita”.


Ribuan keturunan Tionghoa meninggalkan Indonesia. Termasuk Fang Yin yang berpindah ke Amerika. Minggu-minggu pertama di Amerika , Fang Yin belum tersadar apa yang sebenarnya terjadi. Jiwa dan raganya lemah.


Raisa, psikolog mencoba membantunya. Tidak mudah bagi Fang Yin untuk kembali seperti dulu. Senyumannya lenyap. Seorang Fang Ying yang ceria, tidak mudah putus asa kini telah berubah.






Fang Yin, yang merindukan Albert. Fang Yin yang membutuhkan kehadiran Albert. Tetapi keinginannya sia-sia. Entah kemana Albert berada. Hanya sapu tangan pemberian Albert yang selalu menemaninya.





Fang Yin, yang selalu ketakutan ketika ada segerombolan orang. Ketika tidur, terasa mereka mendatanginya. Trauma masih menghantui. Beberapa kali Fang Yin mencoba bunuh diri. Tetapi dengan bantuan Raisa, Fang Yin beranjak sembuh.






Fang Yin akhirnya memutuskan kuliah lagi. Banyak laki-laki yang mendekatinya, tetapi Fang Yin selalu menolaknya. Meski jiwanya mulai pulih, bayang-bayang Albert Kho tidak bisa hilang begitu saja.
 


Tiga belas tahun berlalu. Indonesia kembali stabil. Ayah Fang Yin pun kembali ke Indonesia. “Fang Yin, kau anak Indonesia sejati”, begitu nasehat ayah Fang Yin. Tetapi Fang Yin bersikeras. Dia benci INDONESIA.



Lama-kelamaan, kemarahan Fang Yin mulai reda. Mimpi-mimpi yang terkubur. Dia ingin berguna bagi sesamanya. Sapu tangan, saksi satu-satunya, trauma masa lalu. Tentang Albert Kho yang telah menjadi milik orang lain. Kemarahan pada Indonesia dan kesakitan akan masa silam. Tentang dirinya yang lama. TERBAKAR.




Fang Yin lahir kembali. Indonesia masuk kembali ke dalam kalbunya. Negeri ini menjadi cermin dirinya untuk terus berubah. Indonesia harus bisa menang melawan masa lalu. Seperti dirinya. INDONESIA BARU.
Ditulis oleh: Arsyad R Bahasa dan Sastra Updated at : 9:14 PM

Monday, August 6, 2012

NASIONALISME PEREMPUAN YANG TERKOYAK REVIEW PUISI ESAI “SAPU TANGAN FANG YIN”

NASIONALISME PEREMPUAN YANG TERKOYAK
REVIEW PUISI ESAI “SAPU TANGAN FANG YIN”

Dunia sastra Indonesia sempat digemparkan dengan lahirnya genre baru bernama puisi esai. Salah satu karya yang paling menggetarkan dalam genre ini adalah "Sapu Tangan Fang Yin" karya Denny JA. Di balik deretan rima yang panjang, tersimpan catatan kaki sejarah yang pahit, menjadikannya sebuah karya yang bukan sekadar fiksi, melainkan rekaman tragedi kemanusiaan yang nyata.

Mengenal Genre Puisi Esai dan Denny JA

Denny JA, yang dikenal sebagai The King Maker di dunia politik, membawa terobosan baru lewat buku "Atas Nama Cinta". Puisi esai karyanya bukan hanya sekadar untaian kata puitis, melainkan puisi panjang yang dilengkapi dengan data faktual melalui catatan kaki dari berbagai media. Hal ini memberikan dimensi kejujuran pada setiap konflik diskriminasi yang ia angkat.

Tragedi Mei 1998 dan Trauma Fang Yin

Membaca "Sapu Tangan Fang Yin" adalah sebuah perjalanan emosional yang pedih. Tokoh utamanya, Fang Yin, adalah seorang mahasiswi keturunan Tionghoa yang menjadi korban kebiadaban dalam huru-hara Mei 1998.

Ia dan keluarganya, yang tidak memahami hiruk-pikuk politik, tiba-tiba harus menghadapi gelombang kebencian. Puisi ini dengan sangat lugas (dan menyakitkan) menggambarkan bagaimana kehormatan Fang Yin direnggut secara paksa oleh sekelompok pria bertubuh tegap di ranjang kamarnya sendiri.

"Pintu kamar Fang Yin didobrak, masuklah lima pria..." "Bagaikan sekawanan serigala mereka..."

Jeritan Fang Yin di rumah sakit adalah jeritan sebuah etnis yang merasa dikhianati oleh tanah airnya sendiri.

Konflik Nasionalisme: Antara Amerika dan Indonesia

Setelah tragedi tersebut, Fang Yin pindah ke Amerika Serikat. Di sana, ia menemukan perlindungan hukum dan kebebasan. Namun, di sinilah letak konflik batin yang menarik:

  • Sisi Ayah: Tetap mencintai Indonesia dan bersikeras bahwa "kita lahir di Indonesia, jadi mati sebaiknya di sana". Ia memandang Indonesia sebagai identitas sejati yang tak bisa ditukar.

  • Sisi Fang Yin: Menyimpan kebencian mendalam. Baginya, Indonesia adalah tempat penuh kekerasan yang telah menghancurkan hidupnya.

Sapu tangan pemberian Kho, kekasihnya, menjadi saksi bisu. Sapu tangan yang menampung air mata selama 13 tahun itu telah berubah fungsi menjadi sebuah buku harian visual bagi Fang Yin.

Berdamai dengan Masa Silam

Proses penyembuhan Fang Yin tidaklah instan. Melalui filsafat, sastra, dan agama, ia perlahan mulai meredakan kemarahannya. Puncaknya adalah momen simbolis ketika ia membakar sapu tangan tersebut.

Membakar sapu tangan adalah cara Fang Yin untuk:

  1. Melepaskan derita masa lalu.

  2. Menghapus rasa cemburu pada sahabatnya yang kini menjadi istri Kho.

  3. Terlahir kembali sebagai sosok yang baru.

Akhirnya, Fang Yin memilih kembali ke Indonesia. Ia ingin Indonesia belajar dari masa lalu, sebagaimana ia telah berhasil berdamai dengan luka lamanya.

Kesimpulan

Puisi esai "Sapu Tangan Fang Yin" bukan sekadar bicara tentang diskriminasi atau kekerasan seksual. Ini adalah gugatan sekaligus surat cinta untuk nasionalisme Indonesia yang pernah terkoyak. Karya ini mengingatkan kita bahwa luka sejarah tidak akan hilang dengan cara dilupakan, melainkan dengan cara diakui dan didamaikan.

Ditulis oleh: Arsyad R Bahasa dan Sastra Updated at : 4:24 PM
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...