Showing posts with label Chairil Anwar. Show all posts
Showing posts with label Chairil Anwar. Show all posts

Wednesday, October 21, 2015

Lebih Dekat dengan Chairil Anwar

Siapa yang tidak mengenal Chairil Anwar? Kalau tidak mengenal, malulah kalau mengaku sebagai penyair. Pelajar SMP/SMA saja, kalau tidak mengenal Chairil Anwar itu juga lucu. Yang salah siapa? Guru Bahasa Indonesianya atau dasar anaknya. Itu waktu saya masih SMP di era 90 an. Kalau sekarang entahlah..

Chairil Anwar dilahirkan di Medan, 26 Juli 1922 dan meninggal di Jakarta, 28 April 1949. Sangat muda ya, 27 tahun hidup di dunia. Suratan takdir, persis dalam sajaknya Sekali berarti setelah itu mati atau Aku mau hidup seribu tahun lagi. Kehidupan yang sebentar jauh lebih bermakna ketimbang hidup lama tetapi tidak bermanfaat. Apa daya ingin hidup yang jauh lebih lama, tapi takdir bicara yang berbeda.

Mengapa Chairil Anwar begitu terkenal? Ada yang mengatakan karena pemberitaan. Atau karena begitu ditonjolkan dalam buku-buku teks bahasa Indonesia. Bagi saya, semangat dalam setiap sajak-sajaknya itu yang membuat menonjol. Pilihan kata-kata yang indah..juga menghujam sanubari.
Dalam Ensiklopedi Sastra Indonesia yang diterbitkan oleh Titian Ilmu 2004, dituliskan Chairil Anwar terkenal karena dua hal.
Lebih dekat dengan Chairil Anwar
Pertama, ia menulis sajak-sajak bermutu tinggi dengan jenis sastra yang menyandang suatu ideologi atau pemikiran besar tertentu seperti perang, revolusi dan sebagainya. Satra yang seperti itu disebut Sastra Mimbar, yaitu jenis sastra yang secara tematis erat hubungannya dengan keadaan  dan persoalan zaman. Misalnya pada karyanya yang berjudul Aku, Catatan Tahun 1946, Perjanjian dengan Bung Karno serta Kerawang Bekasi.
Kedua, ia juga menulis sajak yang menjadi bahan perenungannya yang lahir dari persoalan-persoalan keseharian. Karya jenis ini disebut sebagai Sastra Kamar. Misalnya dalam karyanya Senja di Pelauhan Kecil, Derai-derai Cemara, dan Penghidupan.



Dunia sastra merupakan pilihan hidupnya. Dan dia tidak mau setengah-setengah. Sebagai sastrawan "jalang" ternyata dia selalu menggunakan pakaian yang rapi, baju yang disetrika licin. Kesungguhan dalam menentukan pilihan hidupnya sebagai satrawan lengkap dengan suka dukanya menjadi tauladan bagi kita semua.
Sekali berarti setelah itu mati ...Aku mau hidup seribu tahun lagi.

Nama Chairil Anwar pun sampai sekarang masih dipakai oleh Dewan Kesenian Jakarta sebagai anugerah kepada sastrawan dan penyair yang disebut Anugrah Sastra Chairil Anwar. Mochtar Lubis dan Sutardji Calzoum Bachri telah berkesempatan menerima anugrah tersebut.

Chairil Anwar... Sang pendobrak dan pelopor Angkatan 45 Kesusastraan Indonesia.
Karya-karyamu akan selalu hidup sampai akhir zaman.

Ditulis oleh: Arsyad R Bahasa dan Sastra Updated at : 8:16 AM

Sunday, February 1, 2015

Puisi Chairil Anwar yang Romantis

Puisi Chairil Anwar yang Romantis

Chairil Anwar
Sumber : en.wikipedia.org

Puisi Chairil Anwar, puisi yang melegenda. Puisi yang menginspirasi. Puisi yang memotivasi. Puisi yang menjadikan lupa. Lupa akan fisik yang makin rapuh. Sedang semangat terus bergejolak. Semangat yang tak dapat siapa pun menahan. Untuk terus berkarya. Untuk bersikap jalang kalau memang diperlukan. Menjadi gila kalau memang waras sudah bukan lagi pilihan yang baik. Terus menerkam. Menghadang. Tak lekang oleh jaman.

Kok, jadi ikut-ikutan emosi (baca semangat) membayangan bait-bait puisi karya Chairil Anwar. Wah, bagaimana kalau judul postingannya diganti dari Puisi Chairil Anwar menjadi Puisi Chairil Anwar yang romantis. Wah, tapi harus mengingat-ingat dulu. Dulu guru bahasa Indonesiaku, saat SMA pernah membacakannya.

Senja di Pelabuhan Kecil
                         buat Sri Ayati

Ini kali tidak ada yang mencari cinta
di antara gudang, rumah tua, pada cerita
tiang serta temali. Kapal, perahu tidak berlaut
menghapus diri dalam mempercaya mau berpaut

Gerimis mempercepat kelam, Ada juga kelepak elang
menyinggung muram, desir hari lari berenang
menemu bujuk pangkal akanan. Tidak bergerak
dan kini tanah dan air tidur hilang ombak

Tiada lagi. Aku sendiri. Berjalan
menyisir semenanjung, masih pengap harap
sekali tiba di ujung dan sekalian selamat jalan
dari pantai keempat, sedu penghabisan bisa terdekap.

(Diambil dari kumpulan puisi Deru Campur Debu, PT Dian Rakyat - Jakarta).

Kalau membaca dari judul puisi Chairil Anwar tersebut yang diawali dengan adanya  kata senja, pelabuhan, bahkan pelabuhan kecil sudah tercium aroma romantisnya. Beda kalau judulnya misalnya senja diganti siang, yang terpikir oleh saya adalah ada kejadian yang tidak diinginkan, tidak jauh dari unsur-unsur kekerasan misalnya kecelakaan maupun perkelahian. Pilihan kata senja ada dua hal yang muncul di bayangan, bisa bicara pertemuan dengan seseorang, penantian tak berakhir, maupun sekedar mengenang.

Demikian juga pilihan kata pelabuhan kecil. Dalam bayangan saya, ada seseorang yang sedang melakukan penantian. Menantikan kekasih. Berbeda kalau diganti dengan pelabuhan besar, penantiannya sangat umum. Bisa menunggu orang tua, teman, atau siapapun. Setelah itu diikuti dengan kata-kata hiruk pikuk, terik, kebisingan, jauh-jauh dari unsur romantik. Ya terserah juga sih Chairil Anwar memilih kata dalam puisinya.

Kalau saya hanya berusaha menggali atau menafsirkannya. Apalagi di bawah judul, jelas menunjukkan puisi ini untuk seseorang yaitu Sri Ayati. Siapa sih Sri Ayati. Mantan pacarnya. Atau seseorang yang pernah dicintai. Kasih tak sampai. Ataukah seorang perempuan yang pernah ditemuinya, di suatu saat. Hanya sesaat. Tetapi membawa kenangan sepanjang masa. Silakan ditafsirkan. Yang nampak jelas oleh saya, puisi tersebut isinya penantian. Penantian yang berkepanjangan.

Dan penantian tersebut agaknya akan terus dilakukan. Meskipun dia hanya sendiri di sana. Ketika tidak ada kapal yang melaut. Hanya ada kelepakan elang dan deburan ombak yang tak habis-habisnya. Tiada lagi yang bisa diharapkan untuk datang. Pada saat itu. Hari itu. Karena di hari selanjutnya, dia akan kembali ke sana. Menunggu. Berharap. Dan itu yang dilakukannya sepanjang waktu.

Suasana hati pun ikut terbawa membaca puisi Chairil Anwar yang romantis tersebut. Ternyata. Tidak ada semangat yang menggelegak. Yang ada hanyalah pasrah. Setia melakukan penantian yang tak bertepi. Tapi...tak perlu ada air mata.




Ditulis oleh: Arsyad R Bahasa dan Sastra Updated at : 5:19 AM

Monday, May 28, 2012

Puisi Chairil Anwar : Sebuah Kamar

Chairil Anwar : Sebuah Kamar


SEBUAH KAMAR

Sebuah jendela menyerahkan kamar ini
pada dunia. Bulan yang menyinar ke dalam
mau lebih banyak tahu.
"Sudah lima anak bernyawa di sini
Aku salah satu!"

Ibuku tertidur dalam tersedu
Keramaian penjara sepi selalu,
Bapakku sendiri berbaring jemu
Matanya menatap orang tersalib di batu!

Sekeliling dunia bunuh diri!
Aku minta adik lagi pada
Ibu dan bapakku, karena mereka berada
di luar hitungan : Kamar begini,
3 x 4 m, terlalu sempit buat meniup nyawa!

Sajak yang ditulis tahun 1946, menggambarkan sesuatu yang ironis dengan gaya yang ironis pula. Dalam keadaan yang susah, orang masih ingin menambah kesusahan lagi. Dengan kamar berukuran 3 x 4, yang telah dihuni 7 orang ( 5 anak dan kedua orang tuanya), tokoh Aku masih meminta satu adik lagi.

Melalui tokoh Aku, Chairil Anwar ingin menggambarkan kemiskinan. Sang ibu tidur dalam keadaan menangis, sedangkan sang ayah tidak melakukan apa-apa ("Bapakku sendiri berbaring jemu / Matanya menatap orang tersalib di batu!").

Kamar yang dihuni banyak anak tersebut, seharusnya menjadi ramai. Tapi sebaliknya, kamar itu seperti penjara. Putus asa ("Sekeliling dunia bunuh diri!")
Itulah gambaran penduduk Indonesia yang semakin padat. Jumlah penduduk bertambah, demikian juga kemiskinan.

"Sebuah jendela menyerahkan kamar ini pada dunia. Bulan yang menyinar ke dalam
mau lebih banyak tahu"
Bait tersebut bisa diartikan bahwa hanya melalui sebuah jendela, orang luar (bulan) bisa melihat seisi kamar tersebut. Seperti rumah di perkotaan yang cenderung kecil, apalagi dengan harga yang selangit. Siapa yang bisa beli, kalau bukan hanya segelintir orang.


Sumber : 
Pradopo, Rachmat Djoko. 2008. Beberapa Teori Sastra , Metode Kritik, dan Penerapannya. Yogyakarta : Pustaka Pelajar
Ditulis oleh: Arsyad R Bahasa dan Sastra Updated at : 12:26 AM

Thursday, May 10, 2012

Puisi Chairil Anwar : "Aku"

Puisi Chairil Anwar : "Aku"


AKU

Kalau sampai waktuku
'Ku mau tak seorang, 'kan merayu
Tidak juga kau

Tak perlu sedu sedan itu

Aku ini binatang jalang
Dari kumpulannya terbuang

Biar peluru menembus kulitku
Aku tetap meradang menerjang

Luka dan bisa kubawa berlari
Berlari
Hingga hilang pedih peri

Dan aku akan lebih tidak peduli
Aku mau hidup seribu tahun lagi

Komentar :
Membaca puisi tersebut, saya sangat iri. Mengapa puisi seperti itu bisa begitu terkenal?
Apakah karena pilihan kata-katanya yang tidak biasa?
Dengan mengatakan "Aku ini binatang jalang". Begitu beraninya dia "menelanjangi" atau "menjelekkan" diri sendiri. Apakah karena kemarahan atau keputusasaan. Apa yang dimaksud dengan kata-kata "Kalau sampai waktuku". Apakah maksudnya dia mau meninggal. Tapi gak mungkin, karena di paling bawah dia berucap "Aku mau hidup seribu tahun lagi".
Di samping keberanian "mengatai" dirinya. Sekaligus juga berani menantang untuk terus "meradang" dan "menerjang", meski peluru menembus dirinya.
Jadi apa yang dimaksud dengan "Kalau sampai waktuku". Sebuah keputusan pentingkah. Tekad yang kuat. Atau keberanian melakukan sesuatu yang selama ini dipendam.
Tidak peduli!!
Ditulis oleh: Arsyad R Bahasa dan Sastra Updated at : 8:31 PM
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...