Showing posts with label novel Indonesia. Show all posts
Showing posts with label novel Indonesia. Show all posts

Thursday, June 25, 2020

Nyai Dasimah


Nyai Dasimah, jujur selama ini saya belum pernah mendengar nama tersebut. Entah saking katroknya saya, atau memang yang punya nama tersebut belum pernah mampir ke rumah saya.

Buka-buka referensi di wikipedia.org didapatkan informasi jika kata Njai Dasima merujuk pada tokoh novel Tjerita Njai Dasima yang ditulis oleh G.Francis pada tahun 1896.  Nama ini juga merujuk pada judul film Njai Dasima, adaptasi dari novel yang disutradarai oleh Lie Tek Swie pada tahun 1929. Nama ini juga merujuk pada film Njai Dasimah, adaptasi novel yang disutradarai oleh Bachtiar  Effendi.

Pada wikipedia.org juga dijelaskan tentang sebuah film yang dibuat berdasarkan buku yang ditulis oleh  G. Francis, terbit pada tahun 1896. Buku ini ditulis berdasarkan kisah nyata seorang istri simpanan bernama Nyai Dasima. Nyai Dasima awalnya seorang gadis dari dess Kuripan yang dijadikan istri simpanan oleh seorang bangsawan Inggris bernama bernama Edward William. Kemudian dia diboyong ke Batavia. Nyai Dasima terkenal dengan kecantikan dan kekayaannya. Sampai akhirnya dia rela menjadi istri Samiun lewat perantara Mak Buyung. Samiun sendiri sudah punya istri yang bernama Hayati.  Namun, setelah berhasil menjadikan Dasima sebagai istri mudanya, Samiun malah menyia-nyiakannya.

Dalam buku Nyai Dasimah, yang ditulis kembali oleh S.M. Ardian, banyak sekali penokohan yang dirombak termasuk juga latar belakang tradisi-budaya dan religi yang melingkupi kehidupan tokoh-tokohnya. Nyai Dasimah, sebagai sosok yang menjadi korban kolonial yang ingin mengembalikan jati dirinya sebagai pribumi. Dia datang ke Samiun atas keinginannya sendiri, bukan karena diguna-guna. Dia memang hidup bergelimang harta tetapi dibiarkan dalam kebodohan dan memang kehadirannya sebatas penyalur hasrat seksual kulit putih. Nyai Dasimah berontak, lari dan jatuh dalam pelukan Samiun. 

Menjadi istri muda dari Samiun, bukan berarti masalah selesai. Makin habisnya harta karena kelakuan Hayati, istri pertama Samiun dan tragisnya kematiannya akibat sabetan golok Bang Puasa menambah pilu kisah Nyai Dasimah ini. Apapun versinya, baik menurut G. Francis maupun versi S.M. Ardian, kenyataannya Nyai Dasimah telah mati. Entah didalangi oleh Tuan Edward William maupun oleh Samiun sendiri.

Nanar. Kepala berputar. Membayangkan kematian Nyai Dasimah.

Ditulis oleh: Arsyad R Bahasa dan Sastra Updated at : 1:25 AM

Wednesday, March 2, 2016

Berbagai Karya Sastra Indonesia

Berbagai karya sastra Indonesia makin lama makin pudar. Seingat dulu ketika masih SMA, guru Bahasa Indonesia saya masih membacakan atau setidaknya masih mengulas karya-karya seperti "Ziarah" karya Iwan Simaputang, "Pada Sebuah Kapal" karya NH. Dini. Ya..itu pada tahun di antara tahun 1993 - 1996.
Meski belum banyak karya-karya sastra Indonesia yang belum saya baca. Kalau saya ingat-ingat apa ya..
1. Atheis karya Achdiat Kartamihardja
2. Burung-Burung Manyar karya Y.B Mangunwijaya
3. Canting karya Arswendo Atmowiloto
4. Cinta dan Kewajiban karya L. Wairata
5. Di Bawah Lindungan Kabah karya Hamka
6. Di Kaki Bukit Cibalak karya Ahmad Tohari
7. I Swasta Setahun di Bedahuku karya A.A. Panji Tisna
8. Layar Terkembang karya Sutan Takdir Alisyahbana
9. Mekar Karena Memar karya Alex L. Tobing
10. Pada Sebuah Kapal karya N. H Dini
11. Robert Anak Surapati karya Abdul Muis
12. Ronggeng Dukuh Paruk karya Ahmad Tohari
13. Salah Asuhan karya Abdul Muis
14. Sengsara Membawa Nikmat karya Tulis Sutan Sati
15. Si Jamin dan Si Johan karya Merari Siregar
16. Siti Nurbaya karya Marah Rusli
Ya...tentunya masih banyak karya-karya sastra Indonesia lain yang belum sempat saya baca. Ya novel-novel klasik yang tak bakal tergantikan oleh novel-novel yang ada sekarang.
Meskipun bukan berarti, novel-novel baru tidak dibaca. Sayang banget kan melewatkan karya-karya Andrea Hirata kayak Laskar Pelangi atau karya Langit Kresna Hariadi dengan "Gajah Mada"-nya.
Membaca karya-karya Langit Kresna Hariadi tak ubahnya seperti mendengarkan sandiwara radio. Ya..beliau kan penulis naskah radio zaman dulu kala...

Kalau diingat-ingat dulu banyak sekali sandiwara radio yang mengharu biru seperti Saur Sepuh, Tutur Tinular, Sabda Pandita Ratu, Babad Tanah Leluhur, Misteri Gunung Merapi, Putri Cadar Biru, dan lain-lain.

Kangen ya..dengan karya-karya seperti itu...Ya semoga dengan perkembangan teknologi informasi yang begitu pesat...begitu banyaknya buku..karya-karya best seller terbaru..tidak akan membuat karya-karya Indonesia klasik tersebut terkubur oleh zaman.







Ditulis oleh: Arsyad R Bahasa dan Sastra Updated at : 1:24 AM
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...