Showing posts with label puisi Chairil Anwar. Show all posts
Showing posts with label puisi Chairil Anwar. Show all posts

Friday, November 25, 2016

Puisi Charil Anwar : Deru Campur Debu

Deru Campur Debu Chairil Anwar
Puisi Chairil Anwar ini, saya temukan pada buku kumpulan puisi yang berjudul "Deru Campur Debu". Buku yang saya baca ini merupakan buku cetakan keenam tahun 2016 dari Penerbit Dian Rakyat.

Awalnya, saya tidak menyangka bisa menemukan kumpulan-kumpulan puisi Chairil Anwar dalam sebuah buku yang ada di perpustakaan sekolah. Sungguh, kalau dulu saat sekola (SMP/SMA) hanya menemukan cukilan-cukilan puisi dalam buku paket Bahasa Indonesia atau saat dibacakan oleh guru Bahasa Indonesia saat itu.

Kemudahan dalam mengakses informasi, menjadi keuntungan tersendiri. Tidak usah menunggu lama atau mencari ceceran-ceceran puisi Chairil Anwar, tetapi langsung dalam buku kumpulan puisinya yang berjudul "Deru Campur Debu".

Dalam kumpulan puisi "Deru campur Debu" tersebut ada 27 puisi plus 1 buah Tulisan Chairil Anwar. Sayang sekali saya kesulitan dalam membaca tulisan Chairil Anwar tersebut.

Puisi-puisi yang ada dalam kumpulan buku "Deru Campur Debu" adalah sebagai berikut :

  1. Aku
  2. Hampa
  3. Selamat Tinggal
  4. Orang Berdua
  5. Sia-Sia
  6. Doa
  7. Isa
  8. Kepada Peminta-minta
  9. Kesabaran
  10. Sajak Putih
  11. Kawanku dan Aku
  12. Kepada Kawan
  13. Sebuah Kamar
  14. Lagu Siul
  15. Malam di Pegunungan
  16. Catetan Th. 1946
  17. Nocturno
  18. Kepada Pelukis Affandi
  19. Buah Album D.S
  20. Cerita Buat Dien Tamaela
  21. Penerimaan
  22. Kepada Penyair Bohon
  23. Senja di Pelabuhan Kecil
  24. Kabar dari Laut
  25. Tuti Artic
  26. Sorga
  27. Cintaku Jauh di Pulau
  28. Tulisan Chairil Anwar
Dari ke-28 judul itu ada beberapa yang sudah saya kenal ketika SMP/SMA yaitu Aku (yang begitu legendaris), puisi Doa, Kepada Peminta-Minta, Cerita Buat Dien Tamaela, serta Senja di Pelabuhan Kecil. Sedangkan judul-judul puisi Chairil Anwar yang lain baru kenal beberapa waktu kemarin.

Ternyata ada puisi yang sangat pendek, tidak sebanding judulnya. Puisi yang saya maksud berjudul Malam di Pegunungan, yang berbunyi sebagai berikut.

Malam di Pegunungan
Aku berpikir : Bulan inikah yang membikin dingin,
Jadi pucat rumah dan kaku pepohonan?
Sekali ini aku terlalu sangat dapat jawab kepingin
Eh, ada bocah cilik main kejaran dengan bayangan!

Coba baca dan cermati puisi Chairil Anwar di atas.

Saya kira puisi itu bicara tentang seseorang yang merasakan kesepian di pegunungan. Sendirian. Beku. Mati..dan seterusnya. Ternyata....jauh dari bayangan saya.

Aku berpikir :Bulan inikah yang membikin dingin
Maksudnya..apakah Chairil Anwar bertanya pada bulan ataukah "bulan" yang tidak dijelaskan sedang terang benderang atau redup, bulat penuh atau separuh bahkan seperempat sebagai penyeban malam di pegunungan menjadi dingin. 
Masa iya membuat rumah menjadi pucat dan pepohonan menjadi kaku. Ketika digambarkan bulannya bulan pucat, atau tidak terang boleh jadi rumah pun menjadi pucat. Tetapi apa hubungannya dengan kekakuan pepohonan?

Eh, ada bocah cilik main kejaran dengan bayangan!
Apakah dalam bayangan Chairil Anwar, pegunungan tersebut sebagai sebuah desa atau setidaknya dekat dengan desa, sehingga ditemukan anak kecil. Kayaknya ndak deh, hanya ada seorang anak kecil yang bermain sendirian di pegunungan...

Entahlah...Begitulah mungkin imajinasi seorang penyair. Seorang Chairil Anwar yang dengan ide-idenya yang diluar persangkaan orang biasa.


 

Ditulis oleh: Arsyad R Bahasa dan Sastra Updated at : 11:24 PM

Wednesday, November 2, 2016

Puisi Chairil Anwar : ISA

Sebuah puisi karya Chairil Anwar berjudul ISA, tak sengaja saya temukan di buku Ensiklopedia Sastra Indonesia Modern (2009).
Isa sendiri adalah seorang nabi, bagi umat Islam. Dia adalah seorang nabi dan rasul yang dilahirkan oleh Maryam,ibunya. Dalam sejarahnya, Isa membawa ajaran monoteisme tentang ketuhanan.

Isa, bagi umat Kristen adalah Yesus Kristus, yang dipandang sebagai Allah manusia. Selama hidupnya di dunia Isa (Yesus) banyak melakukan perbuatan mukjizat, antara lain menyembuhkan orang sakit dan membangkitkan orang mati. Namun, Isa (Yesus) sendiri akhirnya dihukum mati oleh musuh-musuhnya dengan disalib di bukit Golgota. Bagi umat kristen, kematian Isa (Yesus) tersebut meruakan upaya penyelamatan dan penebusan dosa umat manusia.

Dalam puisi Indonesia modern, kisah tentang Isa tersebut banyak dikupas, Misalnya dalam puisi Chairil Anwar berikut yang ditujukan kepada Nasrani sejati.

ISA

Itu Tubuh
mengucur darah
mengucur darah

rubuh
patah

mendampar tanya : aku salah?
kulihat Tubuh mengucur darah
aku berkaca dalam darah

terbayang terang di mata masa
bertukar rupa ini segera

mengatup luka
aku bersuka

itu Tubuh
mengucur darah
mengucur darah

Dalam puisi Isa tersebut, Chairil Anwar menggambarkan Isa sebagaimana kepercayaan Kristen, yaitu Isa yang disalib untuk menebus dosa manusia.
Tergambar jelas dalam kata-kata

"Itu Tubuh
mengucur darah
mengucur darah"

Kalau dibaca, nampak oleh saya ada nada kepasrahan yang luar biasa.
Tidak ada pemberontakan. Seperti dalam ungkapan "mendampar tanya : aku salah?"
Bahkan menikmati, terungkap dalam kata-kata
 "terbayang terang di mata masa
bertukar rupa ini segera

mengatup luka
aku bersuka".

Kata-kata singkat pengungkapan Chairil Anwar yang menusuk hati. Kata-kata yang penuh kontradiksi....sindiran luar biasa terutama kepada para penyalib.
Rasa sakit sekaligus bisa menikmati rasa itu.

Sumber : Sugono, Dendy (Penyunting). 2009. Ensiklopedia Sastra Modern. Cetakan ketiga. PT Remaja Rosdakarya bekerja sama dengan Pusat Bahasa, Departemen Pendidikan Nasional.

Sumber gambar : http://chairil-anwar.blogspot.co.id/
Ditulis oleh: Arsyad R Bahasa dan Sastra Updated at : 8:31 AM

Saturday, October 15, 2016

Puisi Chairil Anwar : Orang Berdua

Orang Berdua

Kamar ini jadi sarang penghabisan
di malam yang hilang batas

Aku dan dia hanya menjengkau
rakit hitam

'Kan terdamparkah
atau terserah
pada putaran pitam?

Matamu ungu membatu.
Masih berdekapkankah kami atau
mengikut bayangan itu?
Ditulis oleh: Arsyad R Bahasa dan Sastra Updated at : 10:13 PM

Friday, October 14, 2016

Puisi Chairil Anwar : Selamat Tinggal

Aku berkaca

Ini muka penuh luka
Siapa punya?

Kudengar seru menderu
..... dalam hatiku? .....
Apa hanya angin lalu?

Lagu lain pula
Menggelepar tengah malam buta

Ah.........................??

Segala menebal, segala mengental
Segala tak kukenal ............................!!
Selamat tinggal .............................!!
Ditulis oleh: Arsyad R Bahasa dan Sastra Updated at : 10:10 PM

Thursday, October 13, 2016

Puisi Chairil Anwar : Hampa

Hampa
                                            kepada Siti
Sepi di luar. Sepi menekan mendesak.
Lurus kaku pohonan. Tak bergerak
Sampai ke puncak. Sepi memagut,
Tak satu kuasa melepas-renggut
Segala menanti. Menanti. Menanti
Sepi
Tambah ini menanti jadi mencekik
Memberat-mencekung punda
Sampai binasa segala. Belum apa-apa
Udara bertuna. Setan bertempik
Ini sepi terus ada. Dan menanti

Ditulis oleh: Arsyad R Bahasa dan Sastra Updated at : 10:07 PM

Thursday, March 26, 2015

Puisi Chairil Anwar : Selamat Tinggal

Chairil Anwar
Sumber : https://rahmatnawisiregar.wordpress.com














SELAMAT TINGGAL

Aku berkaca

Ini muka penuh luka
Siapa punya?

Kudengar seru menderu
.....dalam hatiku? .....
Apa hanya angin lalu?

Lagu lain pula
Menggelepar tengah malam buta

Ah.....................................??

Segala menebal, segala mengental
Segala tak kukenal .................................!!
Selamat Tinggal ...............................!!

------------------------------------------------------
Selamat Tinggal adalah salah satu puisi karya Chairil Anwar yang tidak bisa kupahami. Di benakku susunan kata-katanya tidak runtut. Bagaimana alur cerita dari puisi tersebut tidak kumengerti.

Saat mengatakan "Aku berkaca" terus diikuti kata-kata "Ini muka penuh luka. Siapa punya?"
Apakah yang dimaksudkan. Lukanya berasal dari mana? Apakah luka karena perang ataukah luka secara psikis. Siapa punya? Ini pertanyaan buat siapa? Ataukah sekedar pertanyaan yang tidak membutuhkan jawaban. Ataukah dia merasa tidak ada seorang pun yang memilikinya atau berharap akan kehadirannya. Ada nada keputuasaan. Seolah-olah tidak ada orang lain yang punya harapan padanya.

Kudengar seru menderu
.....dalam hatiku? .....
Apa hanya angin lalu?

Bagaimana ceritanya kok dilanjutkan dengan bait-bait seperti ini. Apa hubungannya dengan bait pertama, Kelihatan meloncat-loncat alur ceritanya, Ini setidaknya menurut saya.
Bagaimana mungkin menganggap gemuruhnya hatinya sekedar angin lalu. Apakah yang dimaksudkan, dia mulai gelisah. Gugup. Mulai kehilangan kesadaran.

Lagu lain pula
Menggelepar tengah malam buta

Lagu lain apa yang menggelepar di tengah malam buta. Selain kegelisahan yang dirasakannya apakah semakin bertambah dengan hadirnya bunyi-bunyian lain yang entah..dianggap memekakan telinga atau setidaknya membuat dirinya makin gundah. Gelisah, Semakin tidak terkendali.
Sampai akhirnya dia mulai menyerah.

Ah.....................................??

Segala menebal, segala mengental
Segala tak kukenal .................................!!
Selamat Tinggal ...............................!!

Apanya yang menebal apanya yang mengental. Apakah kesadarannya mulai nyaris hilang. Tidak mampu merasakan apa-apa lagi. Tidak bisa mengenali dirinya sendiri. Tidak bisa mengenali orang lain, Semakin melemah. Merasa sendiri. Sampai akhirnya hanya menyisakan kata-kata 
"Selamat Tinggal...................."
Mudah-mudahan dengan sedikit senyum di bibir.
Ditulis oleh: Arsyad R Bahasa dan Sastra Updated at : 10:48 PM

Tuesday, February 3, 2015

Puisi Chairil Anwar tentang Cinta

Puisi Chairil Anwar tentang Cinta

Cintaku Jauh di Pulau Chairil Anwar
Sumber : ernybinsa.blogspot.com
Membaca puisi Chairil Anwar tentang cinta membuat jiwa yang rapuh makin rubuh. Membaca puisi Chairil Anwar membuat jiwa yang kuat makin tak terkendali. Membuat yang menerima akan makin menerima. Coba resapi puisinya yang berjudul Senja di Pelabuhan Kecil, membuat kita makin pasrah dengan penantian yang tak bertepi. Atau mungkin menikmati puisi tersebut, sedangkan di sisi lain membayangkan diri sebagai binatang jalang dari kumpulan yang terbuang. Cintanya akan makin menderu...menggebu...lupa diri.

Pada puisi Chairil Anwar kali ini, yang berjudul Cintaku Jauh di Pulau, apakah yang akan kita rasakan. Seperti berikut ini puisinya :
CINTAKU JAUH DI PULAU

Cintaku jauh di pulau
gadis manis, sekarang iseng sendiri.

Perahu melancar, bulan memancar
di leher kukalungkan oleh-oleh buat si pacar.
angin membantu, langit terang, tapi terasa
aku tidak 'kan sampai padanya.

Di air yang tenang, di angin mendayu
di perasaan penghabisan segala melaju
Ajal bertakhta, sambil berkata
"Tujukan perahu ke pangkuanku saja".

Amboi! Jalan sudah bertahun kutempuh!
Perahu yang bersama 'kan merapuh!
Mengapa Ajal memanggil dulu
Sebelum sempat berpeluk dengan cintaku?

Manisku jauh di pulau,
kalau 'ku mati, dia mati iseng sendiri.
..........................................................................
Membaca puisi Chairil Anwar tersebut, aku malah bingung sendiri dengan adanya kata-kata iseng sendiri. Cintaku jauh di pulau gadis manis, sekarang iseng sendiri atau kalau 'ku mati, dia iseng sendiri. Maksudnya apa ya? Apakah cinta Chairil Anwar hanya main-main. Ataukah si dia, yang tak punya rasa. Atau bahkan dia menjadi gila? Karena penantian yang berkepanjangan.


Mengapa Ajal memanggil dulu
Sebelum sempat berpeluk dengan cintaku?
Siapa sih sebenarnya yang meninggal. Apakah sih Chairil Anwar atau kekasihnya. Mati sebelum cinta keduanya bertemu. Ataukah sebenarnya cinta tak terbalas. Tapi kalau membaca bait terakhir "kalau 'ku mati, dia mati iseng sendiri", seolah-olah keduanya adalah soulmate, satu hati, Mati satu, yang satunya pun ikut mati. Tapi kok kesannya gimana. Kepasrahan pada takdir sebegitunya. Tidak ada energi untuk memancarkan cinta. 

Yang penting menemui. Entah bertemu atau tidak. Entah terlambat atau tidak bukanlah menjadi soal. Yang penting hati ini ingin bertemu, entah kapan sampainya.

angin membantu, langit terang, tapi terasa
aku tidak 'kan sampai padanya.

Kenapa tidak dijelaskan, mengapa dia yakin bertemu dengannya. Mengapa dengan keyakinan yang seperti itu dia terus melajukan perahunya. Apakah sebenarnya pulau yang dituju tidak pernah ada. Ataukah pulau yang dituju sebegitu jauhnya, sehingga tidak mungkin ditempuh. Ataukah juga yang dianggap kekasih itu sudah 'raib'. Entah ke mana?

Setiap orang berhak menafsirkan puisi Chairil Anwar tersebut. Dengan benak yang berbeda-beda, penafsiran pun berbagai macam. Yang jelas dapat disimpulkan dari puisi berjudul Cintaku Jauh di Pulau adalah Chairil Anwar tidak pernah bertemu dengan seseorang yang dianggap kekasihnya. Ya...itu yang kurasakan.

Ditulis oleh: Arsyad R Bahasa dan Sastra Updated at : 3:07 PM

Sunday, February 1, 2015

Puisi Chairil Anwar yang Romantis

Puisi Chairil Anwar yang Romantis

Chairil Anwar
Sumber : en.wikipedia.org

Puisi Chairil Anwar, puisi yang melegenda. Puisi yang menginspirasi. Puisi yang memotivasi. Puisi yang menjadikan lupa. Lupa akan fisik yang makin rapuh. Sedang semangat terus bergejolak. Semangat yang tak dapat siapa pun menahan. Untuk terus berkarya. Untuk bersikap jalang kalau memang diperlukan. Menjadi gila kalau memang waras sudah bukan lagi pilihan yang baik. Terus menerkam. Menghadang. Tak lekang oleh jaman.

Kok, jadi ikut-ikutan emosi (baca semangat) membayangan bait-bait puisi karya Chairil Anwar. Wah, bagaimana kalau judul postingannya diganti dari Puisi Chairil Anwar menjadi Puisi Chairil Anwar yang romantis. Wah, tapi harus mengingat-ingat dulu. Dulu guru bahasa Indonesiaku, saat SMA pernah membacakannya.

Senja di Pelabuhan Kecil
                         buat Sri Ayati

Ini kali tidak ada yang mencari cinta
di antara gudang, rumah tua, pada cerita
tiang serta temali. Kapal, perahu tidak berlaut
menghapus diri dalam mempercaya mau berpaut

Gerimis mempercepat kelam, Ada juga kelepak elang
menyinggung muram, desir hari lari berenang
menemu bujuk pangkal akanan. Tidak bergerak
dan kini tanah dan air tidur hilang ombak

Tiada lagi. Aku sendiri. Berjalan
menyisir semenanjung, masih pengap harap
sekali tiba di ujung dan sekalian selamat jalan
dari pantai keempat, sedu penghabisan bisa terdekap.

(Diambil dari kumpulan puisi Deru Campur Debu, PT Dian Rakyat - Jakarta).

Kalau membaca dari judul puisi Chairil Anwar tersebut yang diawali dengan adanya  kata senja, pelabuhan, bahkan pelabuhan kecil sudah tercium aroma romantisnya. Beda kalau judulnya misalnya senja diganti siang, yang terpikir oleh saya adalah ada kejadian yang tidak diinginkan, tidak jauh dari unsur-unsur kekerasan misalnya kecelakaan maupun perkelahian. Pilihan kata senja ada dua hal yang muncul di bayangan, bisa bicara pertemuan dengan seseorang, penantian tak berakhir, maupun sekedar mengenang.

Demikian juga pilihan kata pelabuhan kecil. Dalam bayangan saya, ada seseorang yang sedang melakukan penantian. Menantikan kekasih. Berbeda kalau diganti dengan pelabuhan besar, penantiannya sangat umum. Bisa menunggu orang tua, teman, atau siapapun. Setelah itu diikuti dengan kata-kata hiruk pikuk, terik, kebisingan, jauh-jauh dari unsur romantik. Ya terserah juga sih Chairil Anwar memilih kata dalam puisinya.

Kalau saya hanya berusaha menggali atau menafsirkannya. Apalagi di bawah judul, jelas menunjukkan puisi ini untuk seseorang yaitu Sri Ayati. Siapa sih Sri Ayati. Mantan pacarnya. Atau seseorang yang pernah dicintai. Kasih tak sampai. Ataukah seorang perempuan yang pernah ditemuinya, di suatu saat. Hanya sesaat. Tetapi membawa kenangan sepanjang masa. Silakan ditafsirkan. Yang nampak jelas oleh saya, puisi tersebut isinya penantian. Penantian yang berkepanjangan.

Dan penantian tersebut agaknya akan terus dilakukan. Meskipun dia hanya sendiri di sana. Ketika tidak ada kapal yang melaut. Hanya ada kelepakan elang dan deburan ombak yang tak habis-habisnya. Tiada lagi yang bisa diharapkan untuk datang. Pada saat itu. Hari itu. Karena di hari selanjutnya, dia akan kembali ke sana. Menunggu. Berharap. Dan itu yang dilakukannya sepanjang waktu.

Suasana hati pun ikut terbawa membaca puisi Chairil Anwar yang romantis tersebut. Ternyata. Tidak ada semangat yang menggelegak. Yang ada hanyalah pasrah. Setia melakukan penantian yang tak bertepi. Tapi...tak perlu ada air mata.




Ditulis oleh: Arsyad R Bahasa dan Sastra Updated at : 5:19 AM

Monday, May 28, 2012

Puisi Chairil Anwar : Sebuah Kamar

Chairil Anwar : Sebuah Kamar


SEBUAH KAMAR

Sebuah jendela menyerahkan kamar ini
pada dunia. Bulan yang menyinar ke dalam
mau lebih banyak tahu.
"Sudah lima anak bernyawa di sini
Aku salah satu!"

Ibuku tertidur dalam tersedu
Keramaian penjara sepi selalu,
Bapakku sendiri berbaring jemu
Matanya menatap orang tersalib di batu!

Sekeliling dunia bunuh diri!
Aku minta adik lagi pada
Ibu dan bapakku, karena mereka berada
di luar hitungan : Kamar begini,
3 x 4 m, terlalu sempit buat meniup nyawa!

Sajak yang ditulis tahun 1946, menggambarkan sesuatu yang ironis dengan gaya yang ironis pula. Dalam keadaan yang susah, orang masih ingin menambah kesusahan lagi. Dengan kamar berukuran 3 x 4, yang telah dihuni 7 orang ( 5 anak dan kedua orang tuanya), tokoh Aku masih meminta satu adik lagi.

Melalui tokoh Aku, Chairil Anwar ingin menggambarkan kemiskinan. Sang ibu tidur dalam keadaan menangis, sedangkan sang ayah tidak melakukan apa-apa ("Bapakku sendiri berbaring jemu / Matanya menatap orang tersalib di batu!").

Kamar yang dihuni banyak anak tersebut, seharusnya menjadi ramai. Tapi sebaliknya, kamar itu seperti penjara. Putus asa ("Sekeliling dunia bunuh diri!")
Itulah gambaran penduduk Indonesia yang semakin padat. Jumlah penduduk bertambah, demikian juga kemiskinan.

"Sebuah jendela menyerahkan kamar ini pada dunia. Bulan yang menyinar ke dalam
mau lebih banyak tahu"
Bait tersebut bisa diartikan bahwa hanya melalui sebuah jendela, orang luar (bulan) bisa melihat seisi kamar tersebut. Seperti rumah di perkotaan yang cenderung kecil, apalagi dengan harga yang selangit. Siapa yang bisa beli, kalau bukan hanya segelintir orang.


Sumber : 
Pradopo, Rachmat Djoko. 2008. Beberapa Teori Sastra , Metode Kritik, dan Penerapannya. Yogyakarta : Pustaka Pelajar
Ditulis oleh: Arsyad R Bahasa dan Sastra Updated at : 12:26 AM

Thursday, May 10, 2012

Puisi Chairil Anwar : "Aku"

Puisi Chairil Anwar : "Aku"


AKU

Kalau sampai waktuku
'Ku mau tak seorang, 'kan merayu
Tidak juga kau

Tak perlu sedu sedan itu

Aku ini binatang jalang
Dari kumpulannya terbuang

Biar peluru menembus kulitku
Aku tetap meradang menerjang

Luka dan bisa kubawa berlari
Berlari
Hingga hilang pedih peri

Dan aku akan lebih tidak peduli
Aku mau hidup seribu tahun lagi

Komentar :
Membaca puisi tersebut, saya sangat iri. Mengapa puisi seperti itu bisa begitu terkenal?
Apakah karena pilihan kata-katanya yang tidak biasa?
Dengan mengatakan "Aku ini binatang jalang". Begitu beraninya dia "menelanjangi" atau "menjelekkan" diri sendiri. Apakah karena kemarahan atau keputusasaan. Apa yang dimaksud dengan kata-kata "Kalau sampai waktuku". Apakah maksudnya dia mau meninggal. Tapi gak mungkin, karena di paling bawah dia berucap "Aku mau hidup seribu tahun lagi".
Di samping keberanian "mengatai" dirinya. Sekaligus juga berani menantang untuk terus "meradang" dan "menerjang", meski peluru menembus dirinya.
Jadi apa yang dimaksud dengan "Kalau sampai waktuku". Sebuah keputusan pentingkah. Tekad yang kuat. Atau keberanian melakukan sesuatu yang selama ini dipendam.
Tidak peduli!!
Ditulis oleh: Arsyad R Bahasa dan Sastra Updated at : 8:31 PM
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...