Showing posts with label puisi cinta. Show all posts
Showing posts with label puisi cinta. Show all posts

Monday, January 12, 2026

Sapa Puan

 Sapa Puan

Sapa Puan
Sapa puan yang tak terkejar
Sapa puan yang terlewat
menunggu fajar
semalaman tersesat

Sapa puan yang sendiri
Sapa puan yang menepi
bukan lari
tetapi mencari sepi

Sapa puan yang menjauh
Sapa puan yang sendu
untuk bersimpuh
pada Tuhan yang dirindu 

Sapa Tuan yang menahan menyapa dan disapa







Ditulis oleh: Arsyad R Bahasa dan Sastra Updated at : 12:20 PM

Tuesday, May 4, 2021

Tentang Engkau yang Telah Pergi

Tentang Engkau yang Telah Pergi

Puisi Cinta Tentangmu

Engkau pernah menjadi puisi dan menguasai hati ini.
Engkau adalah yang pertama membuat gelombang aneh 
pada  hati ini setiap mengingatmu.

Pada masa yang sama saat berseragam putih abu,
senyummu adalah satu-satunya yang mengganggu tidurku...
mungkin itulah rindu pertamaku.
Kau tak pernah tahu
Aku tak pernah memberi tahu

Tetapi waktu telanjur menuliskan namamu 
sebagai cinta pertamaku.
Selamat Jalan 
wahai perempuan pertama 
pemberi gelombang rasa.

Tak ada kenangan
Tak ada prasasti
Tapi ada yg abadi di hati ini...

3 Mei 2021

Ditulis oleh: Arsyad R Bahasa dan Sastra Updated at : 1:35 AM

Tuesday, December 29, 2020

Terkapar

 

Lelaki itu tiap malam selalu berjalan
Tak tahu arah entah ke mana
Ketika menemukan rumah itu
Seolah dia tahu jalan pulang
Tapi dia harus selalu pergi

Setiap malam rumah itu didatangi
Kadang hanya dilewati manakala lampu di ruang depan masih terang
Mungkin pemilik rumahnya belum tidur
Berulangkali ke sana sebenarnya dia pun tak tahu
Itu rumah milik siapa

Sang pemilik rumah pun tahu kehadiran laki-laki itu
Dibiarkan saja selama tak mengganggunya
Hitung-hitung sebagai tukang ronda
Tapi...
Dua tiga hari ini lelaki itu menghilang
Ke manakah?
Ataukah dia sudah punya tempat yang lain untuk singgah
Kenapa aku menghawatirkannya?

Di seberang sana lelaki itu sedang tak kuasa bergerak
Deraan matahari  membuatnya terkapar
Sebenarnya masih cukup pagi 
Yang harusnya membuat lelaki itu sehat oleh sengatan matahari
Mungkin dia lelaki yang berbeda
Sepanjang malam bukannya tidur
Tetapi berjalan tak tahu arah

"Tapi kurasa aku dah mulai kuat"
bisik lelaki itu
Besok malam aku akan mulai berjalan lagi
Semoga



Ditulis oleh: Arsyad R Bahasa dan Sastra Updated at : 11:00 PM

Sunday, December 27, 2020

Malam yang Tak Kunjung Berakhir: Kisah Sunyi Matahari dan Rembulan

 

Sastra seringkali menjadi cermin bagi kesepian yang tak terucapkan. Dalam puisi naratif berikut, kita diajak menyusuri jalanan sepi bersama seorang lelaki yang menemukan sebuah rahasia alam di balik sampul buku tua. Ini adalah kisah tentang pencarian, perjumpaan singkat, dan kerinduan yang abadi.

Puisi: Malam yang Tak Kunjung Berakhir

Seorang laki-laki menyusuri jalanan yang sepi
Senyap bertemankan lampu buram sepanjang jalan
Tak ada seorang pun yang ditemui
Untuk sekedar menyapa saja

Lelaki itu terus berjalan
Tak terasa hari telah berganti
Lelaki itu terus melangkah
Akhirnya dia berhenti

Sebuah gerbang rumah yang selalu terbuka
Entah penghuninya lupa atau sengaja tak menutupnya
Lelaki itu perlahan masuk
Di lihatnya ada meja di teras rumah
Lumayan untuk sekedar melepaskan lelah

Lelaki itu duduk
Ada sebuah buku di atas meja
Berjudulkan Percintaan Senja
Dibukanya buku itu

Ternyata kisah tentang matahari dengan rembulan
Rembulan yang selalu sembunyi di siang hari
Ternyata sangat berharap bisa menikmati sengatan matahari
Meskipun hadirnya tak pernah kelihatan

Di akhir cerita
Rembulan itu tak pernah menyadari
Matahari pun merindukan yang sama
Menunggu malam agar bisa melihat bulan dengan utuh

Saat senja ternyata matahari dan rembulan saling menangis

Matanya terlelap
Buku itu terjatuh
Lelaki itu tersentak
Hilang rasa kantuk

Dibiarkan buku itu jatuh
Lelaki itu beranjak keluar
Ditutupnya gerbang rumah itu

Bedah Makna: Simbolisme dalam "Malam yang Tak Kunjung Berakhir"

Puisi ini mengandung lapisan makna yang menarik untuk direnungkan:

1. Jalan Sepi dan Lampu Buram

Menggambarkan perjalanan hidup atau fase pencarian identitas yang seringkali terasa sunyi dan minim petunjuk. Lelaki dalam puisi ini adalah representasi dari jiwa yang sedang mencari jawaban di tengah keheningan.

2. Metafora Matahari dan Rembulan

Kisah dalam buku Percintaan Senja adalah inti dari puisi ini. Matahari dan Rembulan adalah simbol dari dua pribadi yang saling merindu namun terhalang oleh takdir dan waktu.

  • Rembulan ingin merasakan hangatnya matahari.

  • Matahari ingin melihat keutuhan rembulan. Keduanya hanya bisa "bertemu" dan saling menangis saat Senja—sebuah momen singkat sebelum mereka kembali terpisah.

3. Menutup Gerbang Rumah

Tindakan lelaki itu di akhir puisi, yakni menutup kembali gerbang yang tadinya terbuka, bisa diartikan sebagai simbol penutupan luka atau kesadaran baru. Setelah membaca kisah tragis matahari dan rembulan, ia mungkin menyadari sesuatu tentang perjalanannya sendiri, lalu memilih untuk melangkah kembali ke dunianya dan menutup masa lalu.

Penutup

Puisi naratif seperti ini memberikan ruang bagi pembaca untuk berimajinasi. Apakah lelaki itu adalah sang penulis sendiri? Ataukah ia adalah representasi dari pembaca yang sedang mencari kedamaian dalam kata-kata?






Ditulis oleh: Arsyad R Bahasa dan Sastra Updated at : 1:10 AM

Saturday, December 26, 2020

Kisah 2 Hari Yang Lalu

 



Dua hari yang lalu
harusnya aku datang
lewat mimpi-mimpi

Dua hari yang lalu
harusnya aku datang
dengan sapaan panjang

Sudah kucoba untuk menemani
Tapi kenapa mata terasa selalu ingin terpejam

Hingga saat ini pun
Hari telah berganti

Aku berhutang dua hari
untuk menemani

Namun kuyakinkan
akan tetap memanggil namamu
Seberapa lama  pun tak bertemu


Ditulis oleh: Arsyad R Bahasa dan Sastra Updated at : 1:01 AM

Hujan Yang Tak Kunjung Reda


Hujan Yang Tak Kunjung Reda

Tiap rintik hujan menjadi lara
Tiap rintik hujan menjadi cerita
Antara kau dan dia
Eh...antara aku dan dia
Benarkah?

Ketika hujan yang tak kunjung reda
maka akan ada air mata yang tumpah

Ketika hujan yang tak kunjung reda
maka akan ada hati yang terluka

Ketika hujan tak kunjung reda
ada kisah yang ingin terulang

Ketika hujan yang tak kunjung reda
ada hati yang merindu

Padamu....
Ditulis oleh: Arsyad R Bahasa dan Sastra Updated at : 12:32 AM

Tuesday, February 3, 2015

Puisi Chairil Anwar tentang Cinta

Puisi Chairil Anwar tentang Cinta

Cintaku Jauh di Pulau Chairil Anwar
Sumber : ernybinsa.blogspot.com
Membaca puisi Chairil Anwar tentang cinta membuat jiwa yang rapuh makin rubuh. Membaca puisi Chairil Anwar membuat jiwa yang kuat makin tak terkendali. Membuat yang menerima akan makin menerima. Coba resapi puisinya yang berjudul Senja di Pelabuhan Kecil, membuat kita makin pasrah dengan penantian yang tak bertepi. Atau mungkin menikmati puisi tersebut, sedangkan di sisi lain membayangkan diri sebagai binatang jalang dari kumpulan yang terbuang. Cintanya akan makin menderu...menggebu...lupa diri.

Pada puisi Chairil Anwar kali ini, yang berjudul Cintaku Jauh di Pulau, apakah yang akan kita rasakan. Seperti berikut ini puisinya :
CINTAKU JAUH DI PULAU

Cintaku jauh di pulau
gadis manis, sekarang iseng sendiri.

Perahu melancar, bulan memancar
di leher kukalungkan oleh-oleh buat si pacar.
angin membantu, langit terang, tapi terasa
aku tidak 'kan sampai padanya.

Di air yang tenang, di angin mendayu
di perasaan penghabisan segala melaju
Ajal bertakhta, sambil berkata
"Tujukan perahu ke pangkuanku saja".

Amboi! Jalan sudah bertahun kutempuh!
Perahu yang bersama 'kan merapuh!
Mengapa Ajal memanggil dulu
Sebelum sempat berpeluk dengan cintaku?

Manisku jauh di pulau,
kalau 'ku mati, dia mati iseng sendiri.
..........................................................................
Membaca puisi Chairil Anwar tersebut, aku malah bingung sendiri dengan adanya kata-kata iseng sendiri. Cintaku jauh di pulau gadis manis, sekarang iseng sendiri atau kalau 'ku mati, dia iseng sendiri. Maksudnya apa ya? Apakah cinta Chairil Anwar hanya main-main. Ataukah si dia, yang tak punya rasa. Atau bahkan dia menjadi gila? Karena penantian yang berkepanjangan.


Mengapa Ajal memanggil dulu
Sebelum sempat berpeluk dengan cintaku?
Siapa sih sebenarnya yang meninggal. Apakah sih Chairil Anwar atau kekasihnya. Mati sebelum cinta keduanya bertemu. Ataukah sebenarnya cinta tak terbalas. Tapi kalau membaca bait terakhir "kalau 'ku mati, dia mati iseng sendiri", seolah-olah keduanya adalah soulmate, satu hati, Mati satu, yang satunya pun ikut mati. Tapi kok kesannya gimana. Kepasrahan pada takdir sebegitunya. Tidak ada energi untuk memancarkan cinta. 

Yang penting menemui. Entah bertemu atau tidak. Entah terlambat atau tidak bukanlah menjadi soal. Yang penting hati ini ingin bertemu, entah kapan sampainya.

angin membantu, langit terang, tapi terasa
aku tidak 'kan sampai padanya.

Kenapa tidak dijelaskan, mengapa dia yakin bertemu dengannya. Mengapa dengan keyakinan yang seperti itu dia terus melajukan perahunya. Apakah sebenarnya pulau yang dituju tidak pernah ada. Ataukah pulau yang dituju sebegitu jauhnya, sehingga tidak mungkin ditempuh. Ataukah juga yang dianggap kekasih itu sudah 'raib'. Entah ke mana?

Setiap orang berhak menafsirkan puisi Chairil Anwar tersebut. Dengan benak yang berbeda-beda, penafsiran pun berbagai macam. Yang jelas dapat disimpulkan dari puisi berjudul Cintaku Jauh di Pulau adalah Chairil Anwar tidak pernah bertemu dengan seseorang yang dianggap kekasihnya. Ya...itu yang kurasakan.

Ditulis oleh: Arsyad R Bahasa dan Sastra Updated at : 3:07 PM
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...