Wednesday, January 21, 2026

Rona Budaya: Festschrift untuk Sapardi Djoko Damono

 

Rona Budaya adalah buku penghargaan untuk Sapardi Djoko Damono. Buku ini berisi kumpulan tulisan dari mantan mahasiswa dan kolega yang menunjukkan besarnya pengaruh Sapardi dalam memajukan ilmu sastra dan budaya di Indonesia.

Beberapa poin utama buku ini meliputi:

  • Perluasan Ilmu: Mengisahkan peran Sapardi dalam mengubah Fakultas Sastra menjadi Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya melalui pendekatan lintas disiplin.
  • Beragam Bidang Sastra: Membahas topik yang ditekuni Sapardi, mulai dari sosiologi sastra, sastra populer, hingga alih-wahana (perubahan karya ke bentuk lain).
  • Dialog Antarilmu: Menunjukkan bagaimana sastra bisa diperkaya oleh ilmu lain seperti filsafat, sejarah, arkeologi, hingga sains.

Singkatnya, buku ini adalah bukti nyata dedikasi Sapardi dalam mengembangkan dunia pendidikan, bahasa, dan kebudayaan.

Judul-judul tulisan pada buku ini,yakni :

  1. Tanah Tak Berjejak Para Penyair (Donny Gahral Adian)
  2. Li Bai : Bulan, Arak, dan Cinta (Rahdjeng Pulungsari)
  3. Penerjemahan Puisi Klasik Cina. Catatan Kecil untuk SDD (Iwan Fridolin)
  4. Membaca Karya Sastrawan Melalui Achmad Bakrie Award (M. Yoesoef)
  5. Pesona Kata pada Puisi Sapardi (Ganjar Hwia)
  6. Memahami Imaji Sapardi Djoko Damono (Jabrohim)
  7. Nedelia Kak Nedelia Karya N. V. Baranskaya (Mina Elfira)
  8. Harga Perempuan dalam Cerita Andhe-Andhe Lumut dan Dewi Sri Tanjung (Ayu Sutarto)
  9. Perempuan di Mata Oka Rukmini : Telaah atas Kenanga dan Sagra (I Gusti Ayu Agung Mas Triadnyani)
  10. "Kaki"Versus "Helikopter" : Analisis Cerpen "Kaki yang Terhormat" (Dewaki Kramadibrata)
  11. Alam dan Estetika Perlawanan : Kumpulan Puisi Asrizal Nur (Lily Tjahjandari)
  12. The Road, dari Novel ke Film : Kajian Ahli Wahana (Turita Indah Setyani)
  13. Bukan Sekedar Porno : Adaptasi, Ideologi, dan Permainan dalam Film Pirates (Hendra Kaprisma)
  14. Museum : Antara Edukasi dan Rekreasi (Kresno Yudianto)
  15. Batik Koleksi Naskah FIB-UI (Nany Sri Lestari)
  16. Dua Perempuan Belanda Melihat Indonesia (Zeffry Alkatiri)
  17. Pemanfataan Tanah di Batavia Ommelanden Awal Abad XIX (Djoko Marihandono)
  18. Memprediksi Bahasa Indonesia Sebagai Lingua Franca di Asia Tenggara (Felicia N. Utorodewo)
  19. Tindak Tutur Komunikasi Puisi (Wahyu Wibowo)
  20. Merasai Warna, Mewarnai Rasa : Sebuah Pendekatan Komputasional terhadap Asosiasi Warna dan Emosi (Totok Suhardijanto)
Luar biasa bukan, kumpuan tulisan yang didedikasikan buat Sapardi Djoko Damono dengan berbagai sudut pandang. Hal ini membuktikan bahwa beliau memang menjadi inspirator dalam berbagai lini kehidupan.
Kira-kira tulisan mana dulu yang akan dikupas?


Ditulis oleh: Arsyad R Bahasa dan Sastra Updated at : 6:00 AM

Wednesday, January 14, 2026

Puan, Teman Bercerita

Puan, Teman Bercerita


aku bercerita karena lelah
mendengarkan berbagai paradoks.
Aku berharap kau mau mendengar,
meski kau pun telah lelah.

Jika kata-kataku nyaris hilang,
biarlah diam sebagai bentuk mengerti.
Sebab sedikit senyuman,
lebih dari cukup.

Ditulis oleh: Arsyad R Bahasa dan Sastra Updated at : 6:58 AM

Monday, January 12, 2026

Sapa Puan

 Sapa Puan

Sapa Puan
Sapa puan yang tak terkejar
Sapa puan yang terlewat
menunggu fajar
semalaman tersesat

Sapa puan yang sendiri
Sapa puan yang menepi
bukan lari
tetapi mencari sepi

Sapa puan yang menjauh
Sapa puan yang sendu
untuk bersimpuh
pada Tuhan yang dirindu 

Sapa Tuan yang menahan menyapa dan disapa







Ditulis oleh: Arsyad R Bahasa dan Sastra Updated at : 12:20 PM

Thursday, July 6, 2023

Langit Pagi yang Tak Sama

 Langit Pagi yang Tak Sama

Langit Pagi yang Tak Sama

Di langit yang sama, saat bulan tak tampak
Gelap yang mendominasi, tanpa cahaya yang menghampar
Namun janganlah sedih, meski menjelang pagi tanpa sinar
Masih ada keindahan yang tersembunyi dalam peredaran waktu

Gelap pagi, selalu ada yang baru bagi misteri yang tersembunyi
Bintang-bintang tak lagi berkeliaran, menyisakan harapan dalam jiwa
Mereka menyemai mimpi, memandu langkah yang ragu
Menyulam benang cahaya di gulita yang kelam

Tataplah kegelapan dengan hati yang terbuka
Dalam kelam, terlahir kreativitas yang menggetarkan
Seperti lukisan yang tercipta di atas kanvas hitam
Gelap pun membawa pesona yang tak terduga

Di dalam keheningan pagi yang mempesona
Kita belajar mencari cahaya dari dalam diri
Gelap memberi kita kesempatan untuk bertumbuh
Melampaui ketakutan, menemukan kekuatan sejati

Janganlah takut akan gelap yang menguasai,
Sebab dalam kegelapan terbentuknya kesempurnaan.
Seperti matahari yang kembali setelah terbenam
Bulan pun akan kembali, bersinar dalam keindahan


Meski bulan tak terlihat dalam langit ini
Kita masih memiliki kekuatan dalam diri
Biarkan kita menjadi sumber cahaya bagi dunia
Menerangi jalan dalam setiap langkah yang kita raih
Ditulis oleh: Arsyad R Bahasa dan Sastra Updated at : 6:19 AM

Wednesday, July 5, 2023

Puisi Bulan Pucat di Awal Juli

Puisi Bulan Bulat di Awal Juli
Bulan yang tak seterang karena terbatasnya mata menangkap


Di awal Juli, bulat-bulat tampak pucat

Seperti bulan malu bersembunyi di celah awan

Tak lagi berseri, hati pun tertutup rapat

Dalam kelam, rasa yang dulu bergelora sirna


Namun jangan biarkan sunyi merajai

Dalam diamnya, ada hikmah tersimpan

Seperti malam yang menemani

Mengajarkan arti kehadiran dalam setiap hela nafas


Kala pagi mulai datang semburat merah

Ingatkan diri untuk menikmati setiap diri

iSaat hati mulai tertata hadirkan berbagai warna

Bulan itu pun kembali utuh bercahaya dan berseri



Ditulis oleh: Arsyad R Bahasa dan Sastra Updated at : 5:38 AM

Sunday, April 10, 2022

Puisi : Hujan Bulan Juni (Sapardi Djoko Pamono)

Puisi : Hujan Bulan Juni (Sapardi Djoko Pamono)

Puisi : Hujan Bulan Juni (Sapardi Djoko Pamono)
Tak ada yang lebih tabah

Dari hujan bulan juni

Di rahasiakannya rintik rindunya

Kepada pohon berbunga itu


Tak ada yang lebih bijak

Dari hujan bulan juni

Di hapusnya jejak-jejak kakinya

Yang ragu-ragu di jalan itu


Tak ada yang lebih arif

Dari hujan bulan juni

Di biarkannya yang tak terucapkan

Di serap akar pohon bunga itu

------------------------------
Cantik banget bukan puisinya?
Selanjutnya saya coba bacakan dan nyanyikan, tentunya tidak semerdu musikalisasinya Ari - Reda ya? Buat hepi2 saja sih.



Ditulis oleh: Arsyad R Bahasa dan Sastra Updated at : 11:19 PM

Saturday, April 9, 2022

Musikalisasi Puisi : Pada Suatu Hari Nanti (Sapardi Djoko Damono)

Pada Suatu Hari Nanti (Sapardi Djoko Damono)



Pada Suatu Hari Nanti (Sapardi Djoko Damono)

pada suatu hari nanti jasadku tak akan ada lagi tapi dalam bait-bait sajak ini kau takkan kurelakan sendiri pada suatu hari nanti suaraku tak terdengar lagi tapi di antara larik-larik sajak ini kau akan tetap kusiasati pada suatu hari nanti impianku pun tak dikenal lagi namun di sela-sela huruf sajak ini kau takkan letih-letihnya kucari




Ditulis oleh: Arsyad R Bahasa dan Sastra Updated at : 10:11 PM

Friday, April 8, 2022

Membaca Puisi Sajak Palsu

Sajak Palsu

Sajak Palsu




Selamat pagi pak, selamat pagi bu, ucap anak sekolah dengan sapaan palsu. 
Lalu merekapun belajar sejarah palsu dari buku-buku palsu. 

Di  akhir sekolah mereka terperangah melihat hamparan nilai mereka yang palsu.
Karena tak cukup nilai, maka berdatanganlah mereka ke rumah-rumah bapak dan ibu guru untuk menyerahkan amplop berisi perhatian dan rasa hormat palsu.
Sambil tersipu palsu dan membuat tolakan-tolakan palsu, akhirnya pak guru dan bu guru terima juga amplop itu sambil berjanji palsu untuk mengubah nilai-nilai palsu dengan nilai-nilai palsu yang baru. 

Masa sekolah demi masa sekolah berlalu, merekapun lahir sebagai ekonom-ekonom palsu, ahli hukum palsu, ahli pertanian palsu, insinyur palsu. 

Sebagian menjadi guru, ilmuwan atau seniman palsu. 

Dengan gairah tinggi mereka  menghambur ke tengah pembangunan palsu dengan ekonomi palsu sebagai panglima palsu. 

Mereka saksikan ramainya perniagaan palsu dengan ekspor dan impor palsu yang mengirim dan mendatangkan berbagai barang kelontong kualitas palsu.

Dan bank-bank palsu dengan giat menawarkan bonus dan hadiah-hadiah palsu tapi diam-diam meminjam juga pinjaman dengan ijin dan surat palsu kepada bank negeri yang dijaga pejabat-pejabat palsu. 

Masyarakatpun berniaga dengan uang palsu yang dijamin devisa palsu. Maka uang-uang asing menggertak dengan kurs palsu sehingga semua blingsatan dan terperosok krisis yang meruntuhkan pemerintahan palsu ke dalam nasib buruk palsu. 

Lalu orang-orang palsu meneriakkan kegembiraan palsu dan mendebatkan gagasan-gagasan palsu di tengah seminar dan dialog-dialog palsu menyambut tibanya demokrasi palsu yang berkibar-kibar begitu nyaring dan palsu.


1998

sumber : https://agusrsarjono.wordpress.com/2007/02/13/sajak-palsu/

Ditulis oleh: Arsyad R Bahasa dan Sastra Updated at : 10:05 PM
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...