Tuesday, May 4, 2021

Bahkan Seekor Burung pun Bisa Mencari Makan

Bahkan Seekor Burung pun Bisa Mencari Makan


Bahkan seekor burung pun bisa mencari makan
apalagi manusia
Seuntai kalimat yang senantiasa terasa membekas
Merasuk di sanubari tak lekang oleh waktu yang terus berlalu
Semakin dewasa dan menua

Kata-kata penggugah rasa
Untuk tak lagi bermuram durja
Tunduk dan patuh pada perasaan tak berguna
Terlalu memanjakan diri pada rasa yang tak tentu arah

Awal menjadi lelaki sebenarnya
Berjuang demi hidup dan cinta
Tak perlu minta dikasihani
Tak perlu mengutuk diri untuk menjadi tak berarti

Aku yang akan menjalani
Segala rasa penderitaan dengan tegar
Tak perlu ada air mata
Tak perlu ada gundah kelana

Di sana kamu menanti
Meski bukan cinta yang ditemui
Tetapi menjadi laki-laki sejati
Yang tak pernah berkecil hati

Atas nama cinta dan senyuman

4 Mei 2021
Ditulis oleh: Arsyad R Bahasa dan Sastra Updated at : 1:45 AM

Tentang Engkau yang Telah Pergi

Tentang Engkau yang Telah Pergi

Puisi Cinta Tentangmu

Engkau pernah menjadi puisi dan menguasai hati ini.
Engkau adalah yang pertama membuat gelombang aneh 
pada  hati ini setiap mengingatmu.

Pada masa yang sama saat berseragam putih abu,
senyummu adalah satu-satunya yang mengganggu tidurku...
mungkin itulah rindu pertamaku.
Kau tak pernah tahu
Aku tak pernah memberi tahu

Tetapi waktu telanjur menuliskan namamu 
sebagai cinta pertamaku.
Selamat Jalan 
wahai perempuan pertama 
pemberi gelombang rasa.

Tak ada kenangan
Tak ada prasasti
Tapi ada yg abadi di hati ini...

3 Mei 2021

Ditulis oleh: Arsyad R Bahasa dan Sastra Updated at : 1:35 AM

Wednesday, April 14, 2021

Di Era Pandemi ini....

Di Era Pandemi ini...


Puisi Era Pandemi

Di era pandemi ini banyak orang yang diuji
Meski ada juga yang tak mau diuji

Tidak ke tempat ibadah
Tidak ke tempat kerja
Tidak ke sekolah
Tidak ke mana-mana

Para ahli agama di rumah
Para pedagang..karyawan...di rumah
Para guru dan siswa di rumah
Ah apa iya?

Masa menguji dengan tidak mengunjungi tempat ibadah
Masa menguji dengan tidak ke tempat kerja
Masa menguji dengan tidak ke sekolah
Masa menguji dengan tidak ke mana-mana

Di era normal
Di rumah...liburan..
adalah saat yang menyenangkan bagi sebagian orang
Sebagian kecil orang yang mengunjungi masjid-masjid
Sebagian kecil orang yang bekerja sepenuh hati
Sebagian kecil siswa yang benar-benar belajar di sekolah

Ah...Anda meremehkan banyak orang
Anda menggunakan sudut pandang sendiri
Sebagian besar orang suka mendatangi masjid
Sebagian besar orang bekerja sepenuh hati siang dan malam
Sebagian besar siswa tekun belajar di rumah

Kujawab
Semoga...
Ada pandemi dan tidak semua menjalankan peran dengan baik
Tak perlu berteriak-teriak mengatasnamakan kebaikan
Untuk melegalkan keluar rumah
Mengabaikan Corona
dan mengabaikan 
....Tuhan

Cilacap, 14 April 2021




Ditulis oleh: Arsyad R Bahasa dan Sastra Updated at : 6:34 AM

Saturday, April 3, 2021

Puisi Pandemi : Tangan Sahabat yang Tersakiti

Puisi Pandemi :  Tangan Sahabat yang Tersakiti

Puisi Pandemi :  Tangan Sahabat yang Tersakiti


Berawal kisah bertandang ke rumah sahabat
Ada tamu yang juga datang ke sana
Tatkala sang tamu merasa ada rasa tak enak
Ketika jabat tangannya tak terbalas
Jabat tangan baginya bukan hanya sebagai tanda mengenal
atau ingin dikenal

Memang nasib teman seorang pejabat
Tapi trauma akibat sebuah jabat tangan
Niat sungkem pada saudara jauh yang datang
Tak terbayang virus datang menyerang
Dengan terbata sang sahabat mencoba menjelaskan

Tapi apa daya, senyuman getir tetap terbayang
Akibat jabat tangan yang terbalaskan
Bicara kekuatan dan pasrah pada Tuhan
Tak mampu menghapus rasa tak nyaman
Tetap harus bertahan

Tak ada jabat tangan
Tetap saja tak menjadi penghalang
untuk menjadi sahabat yang menyenangkan


Sumber gambar : https://www.happywednesday.id/r/112/masa-depan-jabat-tangan

Ditulis oleh: Arsyad R Bahasa dan Sastra Updated at : 10:48 PM

Friday, April 2, 2021

Puisi Pandemi : Pagar dan Makanan

Puisi Pandemi : Pagar dan Makanan


Puisi Pandemi : Pagar dan Makanan - Bahasa dan Sastra Indonesia


Kukayuh sepedaku
Menuju rumah seorang sahabat
Tak dapat menanggung pilu
Ketika melihat pagar rumah
Tertambat berbagai makanan
Kiriman saudara, tetangga, dan sahabat

Semua merasa peduli
Akan derita yang dia alami
Ketika meninggalkan anak sendiri
Ketika semua orang tak bisa mengunjungi
Setidaknya ada makanan yang bisa dibagi

Trenyuh yang terjadi
Rumah terkunci 
Tapi harus menahan diri
untuk tidak memasuki
Hanya cantelan plastik menjadi saksi
Ada yang peduli
Atas apa yang terjadi
 






Sumber gambar :
Sumber : https://kaltimtoday.co/tekad-kuat-mujiono-dan-keluarga-sembuh-dari-covid-19-undang-simpati-tetangga-sekitar/



Ditulis oleh: Arsyad R Bahasa dan Sastra Updated at : 11:12 PM

Thursday, March 11, 2021

Matahari yang menunggu

 Matahari yang menunggu 


Birunya langit 
Gumpalan awan putih
kadang tipis
Matahari bersembunyi 
Bukan lari
Di singgasananya yang sunyi

Sunyi tak berarti
Di hadapan lelaki 
yang tak peduli pagi
Dengan pintu dan jendela terkunci
Berhari-hari..puluhan..ratusan..ribuan hari
Tak ada yang perlu dilihat lagi

Matahari itu merasa sunyi
Merasa tak tak berarti
Berharap sedikit dipuji
Dari lelaki yang selalu sendiri
Yang boleh jadi
Memiliki cahaya yang abadi

Matahari itu ingin dipuji
Atas segala sinarnya yang "dikira" abadi


Ditulis oleh: Arsyad R Bahasa dan Sastra Updated at : 6:16 AM

Wednesday, March 10, 2021

Matahari yang Tak Menampakkan Sinarnya

Matahari yang Tak Menampakkan Sinarnya

Matahari yang Tak Menampakkan Sinarnya

Senja yang menenggelamkan sang surya
Dan akhirnya bumi gulita
Tentunya hal yang biasa
Esok hari akan kembali tiba


Hari ini berbeda
Bukan karena digantikan rembulan
dan tak juga bintang
Matahari itu tiada
Menenggelamkan diri di birunya awan
Eh..tak ada awan biru dengan matahari dibaliknya


Matahari itu mematikan dirinya
Berharap bumi merindukannya
Berharap bumi akan memuji sinarnya
Ketika memang tak ada yang menyadarinya


Tak juga oleh manusia
Tak juga oleh lelaki pejalan
Yang senantiasa menjelajah malam




Ditulis oleh: Arsyad R Bahasa dan Sastra Updated at : 3:45 AM

Tuesday, February 23, 2021

Jalan Tak Berujung

Jalan Tak Berujung


Bahasa dan Sastra - arsyad riyadi

Menyusuri jalanan itu
Berulangkali selalu begitu
Seolah tak ada ujung
Untuk membunuh waktu

Di setiap jejak yang tersembunyi
Seribu satu langkah kaki
Tak jua ada yang menanti
Semua dalam hati

Jejak langkah yang menjadikan sembilu
Belum lagi lemparan seribu satu batu
Tak ada luka yang terlihat lebam
Dipendam dengan senyuman

Jejak itu akan selalu ada
Yang tak nampak oleh mata biasa
Hanya sahabat
dan kita
Yang memahaminya
Kalau ada



Ditulis oleh: Arsyad R Bahasa dan Sastra Updated at : 8:14 AM
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...