Showing posts with label artikel bahasa. Show all posts
Showing posts with label artikel bahasa. Show all posts

Saturday, February 21, 2026

KKA Sastra: Analisis Estetika antara Algoritma, Intuisi, dan Kanon Sastra

KKA Sastra: Analisis Estetika antara Algoritma, Intuisi, dan Kanon Sastra

KKA Sastra: Analisis Estetika antara Algoritma, Intuisi, dan Kanon Sastra

Dalam perkembangan Koding dan Kecerdasan Artifisial (KKA), batas antara kreativitas manusia dan hasil kalkulasi mesin semakin menipis. Sastra, yang selama berabad-abad dianggap sebagai benteng terakhir emosi manusia, kini bersinggungan langsung dengan logika biner. Artikel ini menyajikan analisis mendalam terhadap tiga jenis entitas puisi: puisi hasil kecerdasan artifisial, puisi hasil intuisi manusia (penulis umum), dan puisi karya maestro yang telah menjadi kanon dalam sastra Indonesia.

1. Puisi Algoritma (Kecerdasan Artifisial)

Puisi yang dihasilkan oleh KKA bekerja berdasarkan probabilitas linguistik. AI tidak "merasakan" kesedihan saat menulis tentang duka; ia hanya menghitung kata apa yang paling sering muncul setelah kata "air mata" dalam ribuan korpus data yang pernah dipelajarinya.

  • Karakteristik: Struktur cenderung sangat rapi, seringkali menggunakan rima yang konsisten (A-A-B-B atau A-B-A-B), dan menggunakan diksi yang estetis namun terkadang terasa "generik".

  • Kekuatan: Kecepatan produksi dan kekayaan kosa kata yang luas. AI mampu memadukan kata-kata langka dari kamus tua dengan struktur modern secara instan.

  • Kelemahan: Sering kehilangan "lompatan logika" yang mengejutkan. Puisi AI cenderung linear dan terkadang gagal dalam membangun subteks atau makna yang tersirat di balik baris-barisnya.

2. Puisi Intuisi (Penulis Manusia)

Puisi ini adalah manifestasi dari pengalaman empiris. Ketika seseorang menulis tentang "Hujan", ada memori tentang aroma tanah atau dingin yang merasuk ke tulang. Inilah yang kita sebut sebagai "denyut" dalam tulisan.

  • Karakteristik: Struktur mungkin tidak selalu rapi, kadang terjadi patahan ritme (enjambemen) yang tidak teratur, namun memiliki kejujuran emosional.

  • Kekuatan: Kedalaman rasa dan orisinalitas pengalaman. Ada keterhubungan batin (chemistry) antara penulis dan pembaca karena keduanya berbagi kemanusiaan yang sama.

  • Kelemahan: Bagi penulis pemula, keterbatasan diksi seringkali membuat puisi terasa klise atau terlalu deskriptif tanpa kekuatan metafora yang kuat.

3. Puisi Kanon (Karya Maestro)

Puisi dari para maestro seperti Chairil Anwar, Sapardi Djoko Damono, atau Sitor Situmorang adalah titik temu antara penguasaan teknik tingkat tinggi dan kedalaman filosofis.

  • Karakteristik: Setiap kata bersifat esensial. Tidak ada kata yang mubazir. Maestro menggunakan metafora yang sederhana untuk menjelaskan konsep yang sangat kompleks (misalnya: "Hujan bulan Juni" untuk menjelaskan ketabahan).

  • Karakteristik Visual: Penataan tipografi (visual puisi) seringkali menjadi bagian dari makna itu sendiri.

  • Analisis Estetika: Karya maestro melampaui zamannya. Mereka tidak hanya mengikuti pola, tetapi menciptakan pola baru. Jika AI belajar dari pola yang sudah ada, Maestro adalah entitas yang menghancurkan pola lama untuk menciptakan sejarah baru.

Tabel Komparatif Analisis

Parameter

Puisi AI (KKA)

Puisi Intuisi (User)

Puisi Maestro

Diksi

Mewah, namun terkadang artifisial

Jujur, namun terkadang terbatas

Presisi, tajam, dan filosofis

Struktur

Sangat teratur dan simetris

Organik dan emosional

Arsitektural dan eksperimental

Makna

Deskriptif (Literal)

Ekspresif (Curahan Hati)

Transendental (Mendalam)

Fokus

Probabilitas Kata

Katarsis Perasaan

Inovasi Sastra

Kesimpulan: Kolaborasi di Era Baru

Membandingkan ketiga jenis puisi ini bukan untuk menentukan siapa yang terbaik, melainkan untuk memahami posisi kita di era digital. KKA (Koding dan Kecerdasan Artifisial) bukan ancaman bagi penyair, melainkan cermin. AI menunjukkan kepada kita bagaimana struktur bahasa bekerja, sementara manusia—baik itu kita maupun sang maestro—menunjukkan kepada dunia bagaimana perasaan bekerja.

Sastra di masa depan mungkin tidak lagi tentang siapa yang menulis, tetapi tentang bagaimana sebuah tulisan mampu menggetarkan jiwa pembacanya, entah itu dirakit oleh kode atau dilahirkan dari hati.

Mau ikut bertarung? Jalankan aplikasi berikut.


Ditulis oleh: Arsyad R Bahasa dan Sastra Updated at : 1:28 PM

Saturday, March 21, 2020

Mengenal Guritan : Antologi Puisi Jawa Modern (1940-1980)

Mengenal Guritan : Antologi Puisi Jawa Modern (1940-1980)

Guritan atau geguritan dapat ditemukan pada kesusastraan Jawa Mutakhir, yang biasa disebut Kasusastraan Jawa Gagrag Anyar (Kesusastraaan Jawa Modern).

Guritan tradisional terikat pada aturan tertentu :
1. jumlah gatra (baris) tidak tetap
2. setiap gatra berisi 8 wanda (suku kata)
3. bunyi akhir pada akhir gatra bersuara sama
4. permulaan guritan memakai perkataan sun gegurit, yang bermakna aku mengarang guritan.
Guritan ini berfungsi sebagai alat pendidikan dan alat untuk menyindir keadaan masyarakat.


Contoh :
Sun-gegurit :
Watake wong kampung Jati,
Satiti angati-ati,
Waning gawe weding juti,
Tresna mring janma sesami,
Bawa leksana ber budi,
Lega lila trusing budi,
Tuhu maring sakeh janji,
Bekting Gusti yayah wibi.

Artinya :
Ku-gurit :
Tabiat orang kampung Jati
Teliti dan berhati-hati
Berani bekerja dan takut jahat di hati
Cinta sesama manusia
Bersopan santun baik budi
Rela dan ikhlas sampai di hati
Benar-benar menepati janji
Tuhan, ayah ibu mereka berbakti.

Guritan seperti itu tidak muncul lagi pada sejarah kesusastraan modern yang berarti "puisi bebas". Bicara puisi bebas baik versi bahasa Jawa atau bahasa Indonesia sebenarnya hampir sama. Tidak ada pakem, baik jumlah baris per bait, jumlah suku kata, rima yang sama pada tiap baris, bahkan tujuan penulisan serta aturan ketat lainnya.

Guritan baru ini muncul dalam majalah dan surat kabar berbahasa Jawa seperti Kejawen, Penyebar Semangat, Jaya Baya, Panji Pustaka, Api Merdeka dan sebagainya. Perintis penulisan puisi Jawa modern ini misalnya R. Intoyo, Subagijo Ilham Notodidjojo, Nineik I.N, Khairul Anam, Joko Mulyadi, R. Sumanto, Purwadhie Atmodiharjo, Ismail, Ri, Tatiek Lukiaty, Hari Purnomo, Partiyah Kartodigdo, S. Wishnukuncahaya, Endang Sukarti, Sunyoto GN, Sustiyah, dan lain-lain.

Dalam perintisannya, guritan modern ini tentunya tidak mudah karena para redaktur pada waktu itu belum mau menerima atau menghargai kehadiran puisi seperti itu. Hal yang wajar memang, seperti saat sekarang banyak sekali pelatihan-pelatihan yang menghasilkan buku-buku berisi puisi-puisi produk pelatihan lepas dari pesertanya berbakat atau tidak. Produk mereka menimbulkan pro kontra baik dengan alasan pakem maupun hasilnya tidak nyastra.

Berikut contoh puisi yang ditulis oleh Tamsir A.S. yang berjudul Suling (ditulis pada akhr Januari 1957).

SULING
Suling thethulitan
awirama kuna
alelagon kuna
nganyut-nganyut ngelangut
endah
ngresepake
nanging aku gela, aku cuwa
wis waleh
nikmati wirama kuna
aku bisa nyipta
lelagon & wirama anyar
manut siliring angin
mekroking kembang
ombaking segara
nggawa gingsiran
angrenggani patamanan
ngikis pesisir, ngremuk ing karang
ayo padha lelagon anyar
wirama anyar
manut siliring angin anyar

Artinya :
Bunyi suling
berirama kuna
berlagu kuna
menghanyutkan pikiran
indah
menarik hati
tapi aku kecewa, aku kecewa
sudah bosan
menikmati irama kuna
aku dapat mencipta
nyanyian & irama baru
mengikuti embusan angin
bunga yang mekar
ombak laut
yang membawa perubahan
menghiasi taman
mengikis pantai
menghancurkan karang
mari kita sama-sama menyanyikan lagu baru
berirama baru
mengikuti embusan angin baru

Bisakan kita membedakan dua puisi di atas baik dari sisi bentuk maupun isinya. Isinya bukan lagi nasihat-nasihat tapi curahan hati penulisnya untuk menyuarakan bentuk baru. Tidak terpaku pada bunyi-bunyian usang dari suling tetapi mencipta bunyi-bunyian baru yang modern. Dan ketika menggunakan suling pun untuk menghasilkan bunyian baru yang beraneka macam hasilnya.

Bagi kita yang sedang belajar membuat guritan/puisi baik berbahasa Jawa maupun bahasa Indonesia tidak perlu berkecil hati. Proses masih sangat panjang untuk mencipta karya yang semakin berkualitas.

Berikut contoh-contoh guritan yang dimuat dalam buku Guritan : Antologi Puisi Jawa Modern (1940-1980) yang disusun oleh Suripan Sadi Hutomo.
Selamat menikmati

ILAT
Amung sawelat
Ambaning ilat

Prandene wasis murba misesa
Gawe begja cilakaning angga

Aywa kendhat
Ngreksa ilat

Njaga wetuning wicara saru
Kang njalari tatuning kalbu

Obahing ilat
Darbe kasiat

Lamun nuju prana bisa mikat
Yen tan pener, gawe oreging rat

(Karya Subagijo Ilham Notodidjojo dimuat dalam Panji Pustaka, No.17, XXII, 1 September 2604)
......................................................

ASMA SUCI
aku lelumban tengahing samudra rahmat
nikmat

lereng ning karang
sembahyang

nggoleki sangkaning dumadi
ning ngendi

jroning pepadhang neng awang-awang
suwung

jroning pepeteng katon sapucuk jarum
nglangut

iku dudu rupaNe
asmaNe

(Karya Priyanggana yang dimuat di Jaya Baya, No. 28, XVIII, 8 Maret 1964)
.........................................................

ING RUMAH SAKIT

ana nyonya tuwa, clathune : "Aku lara mata. Lara sing banget nganyelake."
ana ibu mudha, clathune: "Aku lara untu. Lara sing banget nganyelake."
ana taruna bagus, clathune: "Aku watuk pilek. Lara sing banget nganyelake."
ana kere boroken, clathune: "Aku kere. Aku luwe. Aku sing waras dewe."

Karya Rahadi Purwanto (Malang,  Juli 1975)

Oke..selamat berkarya...mulai menuliskan puisi sebagai curahan hati atas diri pribadi maupun sebagai wujud kepekaan sosial.



Ditulis oleh: Arsyad R Bahasa dan Sastra Updated at : 5:27 PM

Friday, March 13, 2020

Sejarah Kesusatraan Inggris : Periodisasi, Pengarang dan Karyanya (Bagian 1)

Ada yang tahu siapa gambar di samping?
Dialah William Shakespeare. Dia dikenal sebagai seorang pujangga, dramawan, dan aktor Inggris.  HamletOthelloKing Lear, dan Macbeth dianggap sebagai karyanya yang terbaik.

Dalam tulisan ini kita akan membahas mengenai tokoh sastra Inggris yang lain dari periode Anglo Saxon-Medieval, periode renaissance, restoration period, periode romantis, periode victoria, dan periode awal abad ke-20 (Setyo Kuncoro : 2005).





Anglo Saxon-Medieval
Anglo Saxon
Anglo Saxon merupakan istilah bagi imigran Jerman yang tinggal di Inggris. Dialek yang digunakan mereka adalah bahasa Inggris kuno atau dikenal sebagai bahasa Anglo-Saxon. Sedangkan kata medieval merujuk pada gambaran Inggris pada abad pertengahan (800 - 1500 SM).

Dalam periode ini dikenal penyair bernama Caedmon dan Cynewulf. 
Caedmon merupakan penyair religius dengan karya-karyanya banyak didasarkan pada cerita dalam Perjanjian Lama. Karya-karyanya misalnya sajak berjudul Incarnation, Fall of Angels, Passion, Christ and Satan, Ressurection, Daniel, the Teaching of the Apostles, the Last Judgment, Hell and Heaven, serta Descent of the Holy Ghost. Karya Caedmon yang terkenal adalah Genesis A dan Genesis B.
Di samping Caedmon ada juga penyair bernama Cynewulf dengan karyanya seperti Elene, Christ, Andreas, Juliana, Guthlac, Phoenix, The Dream of the Rood, dan The Fates of the Apostles. Sajak beliau yang terbaik adalah Julian.

Selain itu dikenal juga kumpulan sajak Anglo-Saxon Chronicle yang terdiri dari 30.000 baris sajak-sajak dan 10%-nya adalah sajak yang berjudul Beowulf. Sajak Beowulf ini terdiri dari 43 bab dan 3.182 baris. Tak ada yang tahu siapa penulis sajak Beowulf ini. Beowulf ini berisi syair kepahlawanan  (epic) terpanjang dan merupakan sajak Inggris kuno yang paling terkenal.  Puisi ini berisi tentang kepahlawanan seorang ksatria bernama Beowulf melawan monster bernama Grendle dan seekor naga.

Pada masa Anglo-Saxon itu dikenal juga seorang biarawan dan sejarawan bernama Bede. Bede menulis prosa sejarah yang sangat panjang berjudul Ecclesiastical History of English Nation. Atas karyanya tersebut Bede dijuluki The Father of English History. Karya Bede yang lain adalah sajak History of Abbots dan The Life of St. Cuthbert. Dari tulisan Bede itulah dapat diketahui bahwa Caedmon dan Cynewulf hidup pada era Anglo-Saxon.

Medieval
Perkembangan sastra Inggris pada masa pertengahan tidak terlepas dari peran King Alfred. Kontribusinya yang sangat besar terhadap perkembangan bangsa Inggris menghantarkan dia dengan julukan King Alfred The Great. Dan sebagai bentuk kekagumannya terhadap beliau, penyair G K Chesterton menuliskan puisi berjudul The Ballad of The White Horse yang berisi narasi panjang mengenai kisah King Alfred.

Pada era ini, di bidang puisi dan sastra dikenal Geofre Chaucer (perintis dengan puisinya yang terkenal berjudul Canterbury Tales), John Gower, William Langland, dan Sir Thomas Malory. Sedangkan drama yang pertama yang muncul berupa Litugical drama, yaitu drama yang kisahnya terdapat pada cerita dalam bible. Drama-dramanya bertemakan keagamaan yang dikenal sebagai miracle plays atau mystery play yang akhirnya berkembang tentang kehidupan sehari-hari yang dikenal sebagai Morality play.

Selain itu, banyak karya sastra yang tidak diketahui pengarangnya seperti puisi berjudul Everyman, Sir Gwain and Green Night, The Harley Lyriscs, the Alliterative Morthe Arthure, Orrmulum, Pearl, The Owl and Nighttingale, Sales warde dan The Siege of Jerusalem.


Periode Renaissance
1. Edmund Spencer, dengan karyanya yaitu sajak The Shepheardes Calender, The Faerie Queen, Epithalamion, Prothalamion dan juga 88 buah soneta.
2. Sir Thomas More, dengan puisinya berjudl Defence of the Seven Sacrament yang berkisah penolakan terhadap Luther.
3. King Henry VIII, dengan puisinya berjudul Partime With Good Company, Whereto Should I Expres, Whoso that will for grace sue, Green Groweth the Holly, dan Departure is my chief pain. 
4. John Skelton, dengan karyanya berjudul Elegy on the Death of Early of Northumberland, buku pelajaran Speculum Principle, satir politik berjudul The Bowge of Courte, Phllyp Sparrowe, sebuah elegi untuk Henry VII berjudul A Lawde and Prayse Made for Our Soureigne Lord the King, karya dramatis Magnycence, Speak, Parrot, Collin Clout Why Come Ye Not to Court, karya autografi berjudul The Garland of Laurel, serta puisi terakhir berjudul A Replycaion.
5. Willliam Shakespeare, dengan karya besarnya yang muncul di layar lebar seperti Romeo and Juliet, A Midsummer Night's Dream, Antony and Cleopatra, Hamlet dan Macbeth. Karya-karya Shakespeare dibagi dalam 3 kategori yaitu tragedy, comedy, dan history.
6. Christopher Marlowe, dengan karyanya berjudul Passionate Shepherd to his Love, drama berjudul Tamburlaine the Great, The Jew of Malta, Tamburine 1 dan Tamburine 2, Edward II, Passionate Shepard to his love, Hero and Leader, The Tragical History of Doctor Faustus dan sebagainya.
7. Thomas Nash, dengan karyanya berjudul Pierce Penilesse, The Devil, pamlet berjudul Christ's Tears, prosa petualangan manusia berjudul The Life of Jacke Wilton.
8. John Lyly, dengan prosanya berjudul Euphues : The Anatomy of Wit, Euphues and His England, juga drama berjudul Campaspe dan The Woman in the Moon.
9. Francis Bacon, dengan bukunya berjudul Advancement of Learning, A History of Henry VII dan The New Atlantis.
10. Thomas Kyd, dengan dramanya berjudul The Spanish Tragedy, Soliman and Perseda, dan Arden of Feversham.
11. Ben Jonson, dengan drama komedinya berjudul Every Man Out of Hits Humour, Eastward Hol (kolaborasi dengan John Marston dan George Chapman), Volpone, Cynthia's Revels, The Poetaster, Epicoene, dan The Devil is an Ass.

Untuk postingan selanjutnya akan dibahas mengenai periodisasi restoration period, periode romantis, periode victoria, dan periode awal abad ke-20.

Dan sejujurnya saya masih asing dengan nama-nama pengarang maupun karyanya. Dari ke-11 pengarang di atas paling familiar dengan William Shakespeare serta Francis Bacon. 




Ditulis oleh: Arsyad R Bahasa dan Sastra Updated at : 1:04 AM

Thursday, February 20, 2020

Periodisasi Sejarah Sastra Indonesia Modern

Periodisasi Sejarah Sastra Indonesia Modern

Sarwadi (2004 : 19 - 20) mengemukaan periodisasi sejarah sastra Indonesia sebagai berikut :
Periodisasi Bujung Saleh
1. Sebelum tahun 20-an
2. Antara tahun 20-an hingga tahun '33
3. Tahun 1933 - Mei 1942
4. Mei 1942- sekarang





Periodisasi H.B. Jassin
I. Sastra Melayu Lama
II. Sastra Indonesia Modern
1. Angkatan 20
2. Angkatan 33 atau Pujangga Baru
3. Angkatan 45 mulai sejak 1942
4. Angkatan 66 mulai kira-kira tahun 1955

Periodisasi Nugroho Notosusanto
I. Sastra Melayu Lama
II. Sastra Indonesia Modern
A. Masa Kebangkitan
1. Periode '20
2. Periode '33
3. Periode '42
B. Masa Perkembangan
1. Periode '45
2. Periode '50

Periodisasi Ajib Rosidi
I. Sastra Nusantara Klasik (Sastra dari berbagai bahasa daerah di Nusantara)
II. Sastra Indonesia Modern
A. Masa Kelahiran (Masa Kebangkitan)
1. Periode awal - 1933
2. Periode 1933 - 1942
3. Periode 1942 - 1945
B. Masa Perkembangan
1. Periode 1945 - 1953
2. Periode 1953 - 1961
3. Periode 1961 - sekarang


Sarwadi (2004 : 22) menyusun suatu periodisasi sejarah sastra Indonesia modern sebagai berikut :
A. Sastra Melayu Lama/Klasik
B. Sastra Indonesia Modern
I. Periode Tahun '20
1. Angkatan Balai Pustaka
2. Sastra di luar Balai Pustaka
II. Periode tahun '30
1. Angkatan Pujangga Baru
2. Sastra di luar Pujangga Baru
III. Periode tahun '42
IV. Periode tahun '45
1. Angkatan 45
2. Sastra di luar Angkatan 45
V. Periode tahun '50
VI. Periode tahun '66
Angkatan 66
VII. Periode tahun '70
Angkatan 70/80
VIII. Periode tahun 2000
Angkatan 2000

Kalau dicermati periodisasi di atas nampak bahwa ada tahun-tahun tertentu yang menjadi tonggak batas periodisasi seperti tahun 20 an, tahun 30 an, tahun 45 an, dan tahun 1966. Ketika ada istilah sastra di luar angkatan tertentu dilatarbelakangi salah satunya ada sastrawan yang berkarya saat itu tetapi tidak mau dimasukkan dalam angkatan tersebut.

Dan kalau dicermati lagi, masa-masa tahun tersebut berkaitan sekali dengan sejarah bangsa Indonesia. Baik dari masa sebelum merdeka, masa setelah merdeka, sampai setelah kemerdekaan dan sampai sekarang ini.

Sangat penting tentunya mempelajari periodisasi sastra ini karena selain memahami karakter tiap angkatan juga sekaligus mempelajari sejarah Indonesia.

Untuk tahun 2020 ini adakah akan muncul periodisasi baru. Ataukah dianggap tidak ada ciri khusus  yang menyebabkan sastra tahun 2020 dan selanjutnya belum layak dianggap sebagai salah satu tonggak yang penting dalam kesusastraan.




Ditulis oleh: Arsyad R Bahasa dan Sastra Updated at : 3:38 PM

Sunday, February 16, 2020

Mengembalikan Motivasi Menulis

Kita mungkin pernah mendengar kata-katanya yang intinya menulislah karena kita orang biasa. Beda jika kita orang terkenal, maka banyak orang yang akan menuliskan tentang kita.

Itu jika kita ingin tercatat dalam sejarah. Ketika kita merasa tidak ingin diingat oleh sejarah, motivasi apa yang akan membuat kita terus menulis.

Nurhadi (2017 : 1) menyebutkan ada 3 alasan orang menulis, yaitu alasan personal, profesional, dan sosial kemasyarakatan. Alasan personal meliputi (1) pelepasan ide kreatif, (2) menulis buku harian, dan (3) membuat jadwal kegiatan pribadi. Pelepasan ide kreatif misalnya menulis puisi, cerpen, novel dan sebagaianya.  Alasan profesional misalnya menulis undangan rapat, membuat pengumuman, membuat laporan, menyusun profil lembaga dan sebagainya. Alasan sosial kemasyarakatan misalnya menulis surat pribadi, sms, membuat dokumen perjanjian dan sebagainya.

Menulis yang dimaksud di sini fokus pada aktivitas penulisan yang terkait dengan alasan personal. Bukan karena tuntutan pekerjaan maupun tuntutan masyarakat tetapi terus menulis. Kalau menjadi seorang sekretaris perusahaan ya biasa saja dong menuliskan berbagai dokumen seperti surat menyurat. Ataupun seorang ketua RT ya wajar ketika harus menulis pengumuman untuk berhati-hati terhadap wabah suatu penyakit, misalnya demam berdarah.

Motivasi yang paling baik tentunya harus muncul dari diri sendiri.
Menulis sebagai passion.
Menulis sebagai kebutuhan.
Ada perasaan yang kurang ketika belum menulis.
Merasa berdosa ketika tidak melaksanakan kewajiban menulis. Kewajiban yang dimaksud karena dia mewajibkan dirinya sendiri.

Ada juga yang menulis karena sekedar buat curhat.
Menulis agar terkenal.
Menulis untuk berbagi ilmu.
Menulis untuk menambah jaringan.
Menulis untuk menambah pendapatan.
Menulis untuk mengisi kekosongan waktu.
Menulis untuk menunjukkan eksistensinya.
Menulis untuk .....
Menulis untuk .....
Menulis untuk ......
Dan banyak hal yang bisa dijadikan untuk selalu menulis.

Pengetahuan, kemampuan, dan keinginan merupakan satu paket. Apa dan mengapa saya menulis? Bagaimana saya menulis? Ranah pengetahuan dan keinginan itu hanya berhenti sampai situ. Sampai ada keinginan (desire) yang kuat untuk menulis. Istilah pengetahuan, kemampuan, dan keinginan ini saya dapatkan di buku biografi Stephen R. Covey (Siapa ya?).

Ada juga yang mengatakan seorang pecundang punya beribu-ribu alasan untuk tidak melakukan sesuatu. Tetapi bagi seorang pemenang hanya cukup memiliki 1 alasan untuk memicu melakukan banyak hal.

Tetap semangat (khususnya diri saya)...
Untuk terus menulis...menulis...dan menulis...


Sumber gambar : https://writingcooperative.com/18-motivational-quotes-to-bring-out-the-writer-in-you-ea3e61c93734

Bacaan lebih lanjut :
Nurhadi. 2017. Handbook of Writing (Panduan Lengkap Menulis). Jakarta : Bumi Aksara
Ditulis oleh: Arsyad R Bahasa dan Sastra Updated at : 4:21 AM

Wednesday, November 9, 2016

Memahami Hubungan Makna

Hubungan makna seperti yang dikemukakan oleh Nida dalam Componential Analysis of Meaning (1975) sebagaimana dikutip oleh Prof. dr. Hj. T. fatimah Djajasudarma (1993) dijelaskan bahwa ada 4 prinsip yang menyatakan hubungan makna yaitu : (1) prinsip inklusi (inclusion), (2) tumpang tindih (overlapping), (3) komplementasi (complementation) , dan (4) persinggungan (contiguity).

Perhatikan kalimat berikut, " Mereka saling berebutan kursi".  dalam kalimat tersebut ditemukan makna yang berbeda. Pertama adalah orang-orang berebutan kursi untuk sekedar duduk, sedangkan makna yang lain bisa berarti orang yang berebutan jabatan. Meskipun demikian, ada satu titik temu di situ yaitu kata "kursi", yang artinya memang tempat duduk. Baik bagi orang yang sekedar duduk atau orang yang mendapat jabatan juga membutuhkan kursi untuk duduk.

Marilah kita kupas ke-4 prinsip dalam menyatakan hubungan makna :
1. Prinsip inklusi
Prinsip ini terjadi karena pemakai bahasa ingin dengan cepat mengungkapkan apa yang diacunya atau juga karena ketidakmampuan dalam menciptakan nama benda (peristiwa) yang diacunya.
Misalnya :
a. Binatang. Di dalam kata binatang tercakup harimau, gajah, kucing, anjing dan sebagainya.
b. Pemuda. Ke dalam kata pemudi inklusif di dalamnya pemudi, tetapi tidak berlaku sebaliknya. Kata pemudi selalu perempuan.
(Catatan penulis : Saya tidak usah ragu-ragu lagi ketika menggunakan kata siswa. Misalnya memberikan pengumuman kepada semua siswa. Siswa yang dimaksud termasuk juga siswinya. Tetapi jika pengumuman tersebut untuk siswi, berarti tidak melibatkan siswanya. Jadi tidak perlu dikatakan "......semua siswa-siswi...." tetapi cukup "....semua siswa" (termasuk siswinya loh).....atau ".....semua siswi......" (hanya siswa yang perempuan).
c. Makan. Kata makan ini menginklusifkan jenis makanan dan alat untuk makan, seperti pada "Ia sedang makan".
d. Menuju. Kata menuju bermakna arah dan menginklusifkan preposisi ke, sehingga ada pernyataan "Ia menuju Jakarta" atau "Ia menuju ke Jakarta".

2. Prinsip tumpang tindih
Prinsip tumpang tindih ini mengacu kepada kata yang mengandung berbagai informasi di dalamnya.
Misalnya kata "mempertanggungjawabkan" bisa berarti memikiki makna kategori aktif dan juga makna kategori "aksi atau tindakan bertanggung jawab". Demikian juga kata "kami-kami" yang berarti pronomina persona pertama jamak dan juga berarti meremehkan atau merendahkan.

3. Prinsip komplementer
Prinsip ini merupakan pasangan-pasangan komplementer (saling melengkapi) baik kata-kata yang maknanya berlawanan, berlawanan dengan makna sebaliknya, ataupun makna bolak-balik.
Misalnya :
(1) baik : buruk
(2) benar : salah
(3) besar : kecil
(4) marah : senang
(5) bertengkar : berdamai
(6) membenci : menyenangi
(7) menyewa : menyewakan
(8) menjual : membeli
(9) menerima : memberi
Coba perhatikan baik-baik kelompok kata-kata (1), (2), (3) dengan kelompok (4), (5), (6) serta kelompok kata (7), (8) dan (9) mana yang memiliki makna berlawanan, berbalik, atau timbal balik.

4. Prinsip persinggungan
Makna bersinggungan hampir sama dengan sinonim. hanya tingkat kesamaanya agak berbeda. Makna bersinggung terjadi pada kata-kata yang memiliki asosiatif yang sama.

Perhatikan kata-kata berikut :
(1) memberikan, (2) menyerahkan, (3) menganugrahi dan (4) menghadiahi ==> A
(1) terbit, (2) muncul, (3) keluar ==>B
(1) mengunjungi, (2) melayat, (3) menonton ==> C

Coba amati makna asosiatif yang muncul pada kata-kata dalam tiap kelompok.
Misalnya pada kelompok C. Kata "mengunjungi" lazim dikenakan misalnya dalam kalimat "Saya mengunjungi sahabat saya". Sahabat saya tersebut boleh jadi karena saya jarang bertemu dengannya atau juga tinggal di tempat yang jauh. Sehingga saya datang mengunjunginya. Beda lagi tentunya jika saya ada masalah atau ada pihak lain punya masalah dengan dia, sedangkan saya menjadi mediatornya. Saya mungkin akan mengatakan  "Oke, saya akan mencoba menemui sahabat saya". (Malah di luar kata mengunjungi, melayat dan menonton ya?...meski maksudnya tetap bertemu dengannya).
Tentunya sangat tidak etis, tidak lazim, dan "kurang ajar" ketika saya menggunakan kalimat "Saya akan melayat ke rumah saudara". Padahal yang dimaksud "saudara" tersebut masih hidup dan tidak ada yang meninggal di rumah "saudara" itu..

Sumber :
Djajasudarma, T. Fatimah. 1993. Semantik 2 - Pemahaman Ilmu Makna. PT Refika Aditama Bandung




Ditulis oleh: Arsyad R Bahasa dan Sastra Updated at : 2:10 PM
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...