Sunday, February 1, 2015

Puisi Chairil Anwar yang Romantis

Puisi Chairil Anwar yang Romantis

Chairil Anwar
Sumber : en.wikipedia.org

Puisi Chairil Anwar, puisi yang melegenda. Puisi yang menginspirasi. Puisi yang memotivasi. Puisi yang menjadikan lupa. Lupa akan fisik yang makin rapuh. Sedang semangat terus bergejolak. Semangat yang tak dapat siapa pun menahan. Untuk terus berkarya. Untuk bersikap jalang kalau memang diperlukan. Menjadi gila kalau memang waras sudah bukan lagi pilihan yang baik. Terus menerkam. Menghadang. Tak lekang oleh jaman.

Kok, jadi ikut-ikutan emosi (baca semangat) membayangan bait-bait puisi karya Chairil Anwar. Wah, bagaimana kalau judul postingannya diganti dari Puisi Chairil Anwar menjadi Puisi Chairil Anwar yang romantis. Wah, tapi harus mengingat-ingat dulu. Dulu guru bahasa Indonesiaku, saat SMA pernah membacakannya.

Senja di Pelabuhan Kecil
                         buat Sri Ayati

Ini kali tidak ada yang mencari cinta
di antara gudang, rumah tua, pada cerita
tiang serta temali. Kapal, perahu tidak berlaut
menghapus diri dalam mempercaya mau berpaut

Gerimis mempercepat kelam, Ada juga kelepak elang
menyinggung muram, desir hari lari berenang
menemu bujuk pangkal akanan. Tidak bergerak
dan kini tanah dan air tidur hilang ombak

Tiada lagi. Aku sendiri. Berjalan
menyisir semenanjung, masih pengap harap
sekali tiba di ujung dan sekalian selamat jalan
dari pantai keempat, sedu penghabisan bisa terdekap.

(Diambil dari kumpulan puisi Deru Campur Debu, PT Dian Rakyat - Jakarta).

Kalau membaca dari judul puisi Chairil Anwar tersebut yang diawali dengan adanya  kata senja, pelabuhan, bahkan pelabuhan kecil sudah tercium aroma romantisnya. Beda kalau judulnya misalnya senja diganti siang, yang terpikir oleh saya adalah ada kejadian yang tidak diinginkan, tidak jauh dari unsur-unsur kekerasan misalnya kecelakaan maupun perkelahian. Pilihan kata senja ada dua hal yang muncul di bayangan, bisa bicara pertemuan dengan seseorang, penantian tak berakhir, maupun sekedar mengenang.

Demikian juga pilihan kata pelabuhan kecil. Dalam bayangan saya, ada seseorang yang sedang melakukan penantian. Menantikan kekasih. Berbeda kalau diganti dengan pelabuhan besar, penantiannya sangat umum. Bisa menunggu orang tua, teman, atau siapapun. Setelah itu diikuti dengan kata-kata hiruk pikuk, terik, kebisingan, jauh-jauh dari unsur romantik. Ya terserah juga sih Chairil Anwar memilih kata dalam puisinya.

Kalau saya hanya berusaha menggali atau menafsirkannya. Apalagi di bawah judul, jelas menunjukkan puisi ini untuk seseorang yaitu Sri Ayati. Siapa sih Sri Ayati. Mantan pacarnya. Atau seseorang yang pernah dicintai. Kasih tak sampai. Ataukah seorang perempuan yang pernah ditemuinya, di suatu saat. Hanya sesaat. Tetapi membawa kenangan sepanjang masa. Silakan ditafsirkan. Yang nampak jelas oleh saya, puisi tersebut isinya penantian. Penantian yang berkepanjangan.

Dan penantian tersebut agaknya akan terus dilakukan. Meskipun dia hanya sendiri di sana. Ketika tidak ada kapal yang melaut. Hanya ada kelepakan elang dan deburan ombak yang tak habis-habisnya. Tiada lagi yang bisa diharapkan untuk datang. Pada saat itu. Hari itu. Karena di hari selanjutnya, dia akan kembali ke sana. Menunggu. Berharap. Dan itu yang dilakukannya sepanjang waktu.

Suasana hati pun ikut terbawa membaca puisi Chairil Anwar yang romantis tersebut. Ternyata. Tidak ada semangat yang menggelegak. Yang ada hanyalah pasrah. Setia melakukan penantian yang tak bertepi. Tapi...tak perlu ada air mata.




Ditulis oleh: Arsyad R Bahasa dan Sastra Updated at : 5:19 AM

No comments:

Post a Comment

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...