Tuesday, May 4, 2021

Bahkan Seekor Burung pun Bisa Mencari Makan

Bahkan Seekor Burung pun Bisa Mencari Makan


Bahkan seekor burung pun bisa mencari makan
apalagi manusia
Seuntai kalimat yang senantiasa terasa membekas
Merasuk di sanubari tak lekang oleh waktu yang terus berlalu
Semakin dewasa dan menua

Kata-kata penggugah rasa
Untuk tak lagi bermuram durja
Tunduk dan patuh pada perasaan tak berguna
Terlalu memanjakan diri pada rasa yang tak tentu arah

Awal menjadi lelaki sebenarnya
Berjuang demi hidup dan cinta
Tak perlu minta dikasihani
Tak perlu mengutuk diri untuk menjadi tak berarti

Aku yang akan menjalani
Segala rasa penderitaan dengan tegar
Tak perlu ada air mata
Tak perlu ada gundah kelana

Di sana kamu menanti
Meski bukan cinta yang ditemui
Tetapi menjadi laki-laki sejati
Yang tak pernah berkecil hati

Atas nama cinta dan senyuman

4 Mei 2021
Ditulis oleh: Arsyad R Bahasa dan Sastra Updated at : 1:45 AM

Tentang Engkau yang Telah Pergi

Tentang Engkau yang Telah Pergi

Puisi Cinta Tentangmu

Engkau pernah menjadi puisi dan menguasai hati ini.
Engkau adalah yang pertama membuat gelombang aneh 
pada  hati ini setiap mengingatmu.

Pada masa yang sama saat berseragam putih abu,
senyummu adalah satu-satunya yang mengganggu tidurku...
mungkin itulah rindu pertamaku.
Kau tak pernah tahu
Aku tak pernah memberi tahu

Tetapi waktu telanjur menuliskan namamu 
sebagai cinta pertamaku.
Selamat Jalan 
wahai perempuan pertama 
pemberi gelombang rasa.

Tak ada kenangan
Tak ada prasasti
Tapi ada yg abadi di hati ini...

3 Mei 2021

Ditulis oleh: Arsyad R Bahasa dan Sastra Updated at : 1:35 AM

Wednesday, April 14, 2021

Di Era Pandemi ini....

Di Era Pandemi ini...


Puisi Era Pandemi

Di era pandemi ini banyak orang yang diuji
Meski ada juga yang tak mau diuji

Tidak ke tempat ibadah
Tidak ke tempat kerja
Tidak ke sekolah
Tidak ke mana-mana

Para ahli agama di rumah
Para pedagang..karyawan...di rumah
Para guru dan siswa di rumah
Ah apa iya?

Masa menguji dengan tidak mengunjungi tempat ibadah
Masa menguji dengan tidak ke tempat kerja
Masa menguji dengan tidak ke sekolah
Masa menguji dengan tidak ke mana-mana

Di era normal
Di rumah...liburan..
adalah saat yang menyenangkan bagi sebagian orang
Sebagian kecil orang yang mengunjungi masjid-masjid
Sebagian kecil orang yang bekerja sepenuh hati
Sebagian kecil siswa yang benar-benar belajar di sekolah

Ah...Anda meremehkan banyak orang
Anda menggunakan sudut pandang sendiri
Sebagian besar orang suka mendatangi masjid
Sebagian besar orang bekerja sepenuh hati siang dan malam
Sebagian besar siswa tekun belajar di rumah

Kujawab
Semoga...
Ada pandemi dan tidak semua menjalankan peran dengan baik
Tak perlu berteriak-teriak mengatasnamakan kebaikan
Untuk melegalkan keluar rumah
Mengabaikan Corona
dan mengabaikan 
....Tuhan

Cilacap, 14 April 2021




Ditulis oleh: Arsyad R Bahasa dan Sastra Updated at : 6:34 AM

Saturday, April 3, 2021

Tangan Sahabat yang Tersakiti: Puisi Refleksi tentang Jarak dan Trauma di Era Pandemi

Tangan Sahabat yang Tersakiti: Puisi Refleksi tentang Jarak dan Trauma di Era Pandemi

Puisi Pandemi :  Tangan Sahabat yang Tersakiti


Pandemi bukan hanya mengubah cara kita bekerja, tetapi juga cara kita berinteraksi secara fisik. Salah satu tradisi yang paling terdampak adalah jabat tangan—sebuah simbol kehangatan yang tiba-tiba berubah menjadi ancaman. Puisi berikut, "Tangan Sahabat yang Tersakiti", memotret kegamangan sosial tersebut melalui sudut pandang persahabatan yang canggung namun tulus.

Puisi : Tangan Sahabat yang Tersakiti

Berawal kisah bertandang ke rumah sahabat
Ada tamu yang juga datang ke sana
Tatkala sang tamu merasa ada rasa tak enak
Ketika jabat tangannya tak terbalas
Jabat tangan baginya bukan hanya sebagai tanda mengenal
atau ingin dikenal

Memang nasib teman seorang pejabat
Tapi trauma akibat sebuah jabat tangan
Niat sungkem pada saudara jauh yang datang
Tak terbayang virus datang menyerang
Dengan terbata sang sahabat mencoba menjelaskan

Tapi apa daya, senyuman getir tetap terbayang
Akibat jabat tangan yang terbalaskan
Bicara kekuatan dan pasrah pada Tuhan
Tak mampu menghapus rasa tak nyaman
Tetap harus bertahan

Tak ada jabat tangan
Tetap saja tak menjadi penghalang
untuk menjadi sahabat yang menyenangkan

Memahami Makna: Luka Sosial di Balik Jabat Tangan

Puisi ini mengandung pesan mendalam tentang pergeseran etika dan beban psikologis selama masa krisis kesehatan:

1. Jabat Tangan sebagai Identitas

Bagi banyak orang, jabat tangan adalah bentuk penghormatan dan pengakuan. Stanza pertama menunjukkan bagaimana penolakan jabat tangan bisa disalahartikan sebagai penolakan personal, padahal itu adalah bentuk perlindungan diri.

2. Beban Psikologis "Teman Pejabat"

Penyebutan "nasib teman seorang pejabat" menarik untuk dicermati. Ini menunjukkan bahwa mereka yang berada di posisi publik atau memiliki mobilitas tinggi seringkali memiliki trauma lebih dalam karena mereka adalah pihak yang paling rentan terpapar sekaligus dituduh menyebarkan virus.

3. Senyuman Getir dan Penerimaan

Meskipun ada penjelasan logis, rasa "tak nyaman" tetap membekas. Namun, puisi ini ditutup dengan nada optimis: bahwa kualitas persahabatan tidak diukur dari sentuhan fisik, melainkan dari kehadiran dan rasa menyenangkan yang tetap terjaga meskipun tanpa kontak langsung.



Sumber gambar : https://www.happywednesday.id/r/112/masa-depan-jabat-tangan

Ditulis oleh: Arsyad R Bahasa dan Sastra Updated at : 10:48 PM

Friday, April 2, 2021

Puisi Pandemi : Pagar dan Makanan

Puisi Pandemi : Pagar dan Makanan


Puisi Pandemi : Pagar dan Makanan - Bahasa dan Sastra Indonesia


Kukayuh sepedaku
Menuju rumah seorang sahabat
Tak dapat menanggung pilu
Ketika melihat pagar rumah
Tertambat berbagai makanan
Kiriman saudara, tetangga, dan sahabat

Semua merasa peduli
Akan derita yang dia alami
Ketika meninggalkan anak sendiri
Ketika semua orang tak bisa mengunjungi
Setidaknya ada makanan yang bisa dibagi

Trenyuh yang terjadi
Rumah terkunci 
Tapi harus menahan diri
untuk tidak memasuki
Hanya cantelan plastik menjadi saksi
Ada yang peduli
Atas apa yang terjadi
 






Sumber gambar :
Sumber : https://kaltimtoday.co/tekad-kuat-mujiono-dan-keluarga-sembuh-dari-covid-19-undang-simpati-tetangga-sekitar/



Ditulis oleh: Arsyad R Bahasa dan Sastra Updated at : 11:12 PM

Thursday, March 11, 2021

Matahari yang menunggu

 Matahari yang menunggu 


Birunya langit 
Gumpalan awan putih
kadang tipis
Matahari bersembunyi 
Bukan lari
Di singgasananya yang sunyi

Sunyi tak berarti
Di hadapan lelaki 
yang tak peduli pagi
Dengan pintu dan jendela terkunci
Berhari-hari..puluhan..ratusan..ribuan hari
Tak ada yang perlu dilihat lagi

Matahari itu merasa sunyi
Merasa tak tak berarti
Berharap sedikit dipuji
Dari lelaki yang selalu sendiri
Yang boleh jadi
Memiliki cahaya yang abadi

Matahari itu ingin dipuji
Atas segala sinarnya yang "dikira" abadi


Ditulis oleh: Arsyad R Bahasa dan Sastra Updated at : 6:16 AM

Wednesday, March 10, 2021

Matahari yang Tak Menampakkan Sinarnya

Matahari yang Tak Menampakkan Sinarnya

Matahari yang Tak Menampakkan Sinarnya

Senja yang menenggelamkan sang surya
Dan akhirnya bumi gulita
Tentunya hal yang biasa
Esok hari akan kembali tiba


Hari ini berbeda
Bukan karena digantikan rembulan
dan tak juga bintang
Matahari itu tiada
Menenggelamkan diri di birunya awan
Eh..tak ada awan biru dengan matahari dibaliknya


Matahari itu mematikan dirinya
Berharap bumi merindukannya
Berharap bumi akan memuji sinarnya
Ketika memang tak ada yang menyadarinya


Tak juga oleh manusia
Tak juga oleh lelaki pejalan
Yang senantiasa menjelajah malam




Ditulis oleh: Arsyad R Bahasa dan Sastra Updated at : 3:45 AM

Tuesday, February 23, 2021

Jalan Tak Berujung: Sebuah Refleksi Tentang Jejak, Luka, dan Ketabahan

Jalan Tak Berujung: Sebuah Refleksi Tentang Jejak, Luka, dan Ketabahan


Bahasa dan Sastra - arsyad riyadi

Sastra bukan hanya soal susunan kata yang indah, tetapi juga tentang bagaimana kita merekam jejak perjalanan hidup yang seringkali terasa sunyi. Puisi berikut ini, "Jalan Tak Berujung", adalah sebuah kontemplasi mendalam mengenai perjuangan batin, luka yang tak nampak, dan ketabahan yang disembunyikan di balik senyuman.

Puisi: Jalan Tak Berujung

Menyusuri jalanan itu
Berulangkali selalu begitu
Seolah tak ada ujung
Untuk membunuh waktu

Di setiap jejak yang tersembunyi
Seribu satu langkah kaki
Tak jua ada yang menanti
Semua dalam hati

Jejak langkah yang menjadikan sembilu
Belum lagi lemparan seribu satu batu
Tak ada luka yang terlihat lebam
Dipendam dengan senyuman

Jejak itu akan selalu ada
Yang tak nampak oleh mata biasa
Hanya sahabat
dan kita
Yang memahaminya
Kalau ada

Memahami Makna di Balik Baris Puisi

Puisi ini menggunakan metafora yang kuat untuk menggambarkan kondisi psikologis seseorang dalam menghadapi realitas hidup:

  1. "Membunuh Waktu": Menggambarkan rutinitas yang terkadang terasa hambar namun harus tetap dijalani meski tujuan akhir belum terlihat jelas.

  2. "Sembilu" dan "Lemparan Seribu Satu Batu": Melambangkan kritik, rintangan, atau rasa sakit hati yang datang bertubi-tubi. Menariknya, penulis menekankan bahwa luka ini tidak "lebam" secara fisik, melainkan luka batin yang dalam.

  3. "Dipendam dengan Senyuman": Sebuah potret ketabahan atau mungkin bentuk pertahanan diri (masking) agar dunia tidak melihat kerapuhan yang ada di dalam.

  4. "Hanya Sahabat dan Kita": Menekankan pada kesunyian perjalanan tersebut. Bahwa pada akhirnya, hanya diri sendiri (dan mungkin seorang sahabat sejati, jika beruntung memilikinya) yang benar-benar memahami beratnya beban yang dibawa.

Kesimpulan

"Jalan Tak Berujung" adalah pengingat bahwa setiap orang memiliki perjuangan yang tidak terlihat oleh mata biasa. Lewat karya ini, kita diajak untuk lebih berempati pada jejak-jejak sunyi yang ada di sekitar kita.




Ditulis oleh: Arsyad R Bahasa dan Sastra Updated at : 8:14 AM

Tuesday, February 9, 2021

Ketika Jalan Tak Berujung

 Ketika Jalan Tak Berujung

Ketika Jalan Tak Berujung - Puisi
Ketika jalan tak berujung

Bukan berarti lantas berhenti

Atau berlari takut

Menangis sendirian


Sebenarnya tak perlu merasa sendiri

Ketika tak ada seorang pun

Tuhan akan menemani

Dan selalu ada teman menyendiri

Meski entah di mana


Terkadang frekuensi tak terjadi

Ketika jiwa tak mau terbuka

Menerima diri sendiri

Untuk terus melangkah

Mencari jati diri


Percayalah

Ketakutan..kegelapan akan teratasi

Memahami diri

Mengingat Tuhan

dan menyadari

Ada yang menunggu jauh di depan sana








Ditulis oleh: Arsyad R Bahasa dan Sastra Updated at : 12:55 AM

Monday, February 1, 2021

Ketika Ingin Sendiri: Saat Blogger Butuh Jeda dari Hiruk Pikuk Digital

 Ketika Ingin Sendiri: Saat Blogger Butuh Jeda dari Hiruk Pikuk Digital

Dunia digital menjanjikan koneksi, namun sering kali meninggalkan rasa sepi yang tak terjelaskan. Bagi seorang penulis atau blogger yang menghabiskan berjam-jam di depan layar, ada kalanya kata-kata menjadi hambar dan interaksi terasa melelahkan. Puisi berikut ini, "Ketika Ingin Sendiri", adalah potret jujur tentang sebuah titik jenuh dan kerinduan akan ketenangan batin.

Puisi: Ketika Ingin Sendiri

Ketika ingin sendiri
Sekedar menenangkan hati
Membebaskan diri
Dari berbagai keinginan diri
Yang kadang tak mau dimengerti

Aku lelah
Berhari-hari menatap layar
Berharap ada peluang
Berharap ingin sedikit berperan
Berharap berakhir dengan riang

Ada yang tak dimengerti
Ada hati yang merintih
Ada jiwa yang merasa sepi
Seolah tak berarti

Ketika ingin sendiri
Mengembalikan jiwa raga yang letih
Berbagai diskusi yang tak berarti
Bernarasi tak paham isi hati

Menyelami Makna: Kelelahan di Balik Layar

Puisi ini mengungkap sisi rapuh dari seorang pejuang konten. Ada beberapa poin reflektif yang bisa kita ambil:

1. Lelah Menatap Layar

Baris "Aku lelah berhari-hari menatap layar" bukan sekadar penat mata, melainkan kelelahan mental. Harapan untuk "sedikit berperan" dan "berakhir dengan riang" menunjukkan adanya ekspektasi besar yang sering kali berbenturan dengan realitas di dunia maya.

2. Diskusi Tanpa Isi Hati

Blogger sering terlibat dalam berbagai diskusi atau narasi digital. Namun, seperti yang tertulis: "Berbagai diskusi yang tak berarti, bernarasi tak paham isi hati". Ini menggambarkan betapa seringnya komunikasi di dunia digital terasa dangkal dan tidak menyentuh kedalaman jiwa.

3. Pentingnya Solitude (Kesendirian)

Menarik diri untuk "ingin sendiri" bukanlah bentuk keputusasaan, melainkan mekanisme pertahanan diri untuk membebaskan ego dan keinginan yang tak dimengerti. Ini adalah cara untuk "mengembalikan jiwa raga yang letih".

Penutup: Izinkan Diri untuk Beristirahat

Jika Anda merasa seperti narasi dalam puisi ini, ketahuilah bahwa tidak apa-apa untuk menutup laptop dan menjauh sejenak. Menenangkan hati adalah investasi terbaik agar saat kita kembali menulis, kita membawa jiwa yang lebih utuh.

Sejalan dengan tulisan saya sebelumnya tentang Membuang Waktukah?, kesendirian ini justru sering kali menjadi pupuk bagi kreativitas di masa depan.


Ditulis oleh: Arsyad R Bahasa dan Sastra Updated at : 5:08 AM

Tuesday, January 26, 2021

Ketika Air Mata Menetes: Tentang Duka yang Tak Terucap dan Kesetiaan yang Menunggu

 


Air mata sering kali menjadi bahasa paling jujur ketika lisan tak lagi mampu berkata-kata. Dalam setiap tetesnya, tersimpan rahasia tentang duka, harapan yang pupus, dan pencarian akan tempat untuk pulang. Puisi berikut, "Ketika Air Mata Menetes", mengajak kita menyelami ruang paling pribadi dalam kesedihan seseorang.

Puisi: Ketika Air Mata Menetes

Ketika air mata menetes
Entah apa yang kau rasa
Entah duka apa yang kau pendam
Seribu warna-warna pucat
Yang tak membawa rona

Ketika air mata menetes
Karena harapan yang tiada
Bayangan gelap masa depan
Tak ada jalan untuk melangkah
Tak ada tempat untuk pulang

Ketika air mata menetes
Tak berani aku menyapa
Takut menambah luka

Ketika air mata menetes
Tetap saja aku di sana
Menunggu sampai bisa tertawa

Analisis Makna: Kesetiaan di Tengah Badai Duka

Puisi ini menawarkan perspektif yang sangat manusiawi tentang bagaimana kita seharusnya bersikap di hadapan kesedihan orang lain:

1. Warna-Warna Pucat (Kehilangan Gairah)

Penggunaan diksi "seribu warna-warna pucat" menggambarkan kondisi depresi atau duka mendalam di mana dunia kehilangan keindahannya. Semuanya terasa datar, abu-abu, dan tidak memberikan gairah (rona).

2. Harapan yang Hilang dan Ketidakpastian

Stanza kedua menyentuh aspek yang sangat eksistensial: kehilangan harapan akan masa depan. Ketakutan akan tidak adanya "jalan untuk melangkah" dan "tempat untuk pulang" adalah representasi dari hilangnya rasa aman secara psikologis.

3. Kehadiran dalam Diam

Bagian paling kuat dari puisi ini ada pada bagian akhir. Penulis menyadari bahwa terkadang sapaan justru bisa menjadi beban bagi mereka yang terluka. Namun, ketidakberanian untuk menyapa bukan berarti meninggalkan.

Baris "Tetap saja aku di sana, menunggu sampai bisa tertawa" menunjukkan sebuah kesetiaan yang luar biasa. Ini adalah tentang menjadi saksi bagi duka seseorang hingga badai itu berlalu dan tawa itu kembali hadir.

Penutup

"Ketika Air Mata Menetes" adalah sebuah pengingat bahwa empati tidak selalu harus berupa kata-kata motivasi yang muluk. Terkadang, cukup dengan berada di sana, dalam diam, sampai duka itu menemukan jalan keluarnya sendiri.

Ditulis oleh: Arsyad R Bahasa dan Sastra Updated at : 11:02 PM

Monday, January 25, 2021

Saat Cinta Tak Boleh Terkatakan

 

Saat cinta tak boleh terkatakan
Bukan karena tak ada gairah
Bukan karena tak ada keinginan
Bukan karena tak mau dipaksakan

Saat cinta tak boleh dikatakan
Ketika menjadikan penuh dusta
Penuh duka
Penuh luka

Saat cinta tak boleh dikatakan
Ketika di waktu yang salah
Ketika tak boleh bersua
Ketika tak hendak berdua

Ketika cinta tak boleh dikatakan
Menjaga hati
Menjaga diri
Menjaga duri
Menjaga nurani
Menjaga mati



Ditulis oleh: Arsyad R Bahasa dan Sastra Updated at : 2:57 PM

Sunday, January 24, 2021

Tak Hendak Ada Pesta

 


Tak hendak ada pesta
ketika kamu tak ada
Ketika adapun
belum tentu kamu yang mau berpesta
Tak perlu merasa salah atau serba salah
Selalu bisa memberi warna

Di hari itu ketika kamu tak datang
Di sini pun tak ada riuh rendah keriangan
Semua sederhana
Ada tidaknya kamu berada
Tak usah merasa ditinggalkan

Masa lalu tak selalu harus dikenang
Apa lagi ketika berada dalam kesia-siaan
Harapan di masa depan
Yang akan diperjuangkan

Ditulis oleh: Arsyad R Bahasa dan Sastra Updated at : 1:08 PM

Tuesday, January 5, 2021

Bertemu Tak Bertemu

 

Bertemu tak bertemu
Bukan hal manis dibicarakan
Ketika bertemu menjadi beradu
Ketika terpisah menjaga lara

Bertemu pun menyisakan lara
Berpisah pun menjaga air mata
Bertemu pun tak hendak bicara
Berpisah pun tak hendak bersua

Beda definisi
Tentang cinta dan persahabatan
Tentang perpisahan dan pertemuan
Tentang kita

Yang tak bisa bertemu
Serta enggan berpisah

Ditulis oleh: Arsyad R Bahasa dan Sastra Updated at : 6:09 PM

Sunday, January 3, 2021

Daun-Daun Jatuh Berserakan

Daun-daun berserakan
Memenuhi jalanan
Tak ada yang ingin membersihkan
Biarkan terus beterbangan

Aku pun tak hendak menyapunya
Kubiarkan menjadi hiasan sepanjang jalan
Daun-daunnya makin banyak
Aku pun tak hendak membersihkannya

Aku tak peduli pada dedaunan
Aku tak peduli pada jalanan
Aku tak peduli pada pohon yang melintang
Aku tak peduli pada hujan yang mulai datang

Aku hanya ingin diam
Menunggu waktu
Berharap ada datang
Membawa rindu



Ditulis oleh: Arsyad R Bahasa dan Sastra Updated at : 6:49 PM

Selalu Ada Senyuman


Selalu ada senyuman
Seberapa sengsara hidup di jalani
Ah..mereka sudah mati rasa
Mereka tidak punyak hak untuk bersuka
Mereka tak paham aksara

Apakah orang miskin dilarang bahagia?
Apakah orang miskin dilarang sekolah?
Tak perlu pintar aksara
Tak perlu bisa berbahasa
apalagi matematika

Setiap yang dilakukan tak ada hubungan dengan pendidikan
Mereka tidakah terdidik
Mereka berhitung tapi dianggap bodoh matematika
Mereka pintar berucap tapi dianggap bodoh dengan bahasa

Di sisi lain
Seorang anak bisa membaca ABCD
Seorang anak bisa menghitung 1234
menyusun kalimat
menghitung perkalian..tambahan..pengurangan...dan pembagian
Meskipun hanya angka-angka dan huruf abstrak saja
Dianggap berpendidikan

Pendidikan bisa dimiliki siapapun
Apalah artinya
Bertahun-tahun makan bangku sekolah
Jika tak sanggup merdeka
Jika tak sanggup terus tertawa dengan pedihnya kehidupan
Jika tak sanggup mencari jalan untuk hidup
Sesungguhnya yang seperti ini
Tak layak dianggap sebagai manusia terdidik
Ditulis oleh: Arsyad R Bahasa dan Sastra Updated at : 12:46 AM

Saturday, January 2, 2021

Mengajakmu ke Pantai

 

Saat kecil aku sering mengajakmu ke sana
Berjalan ribuan langkah
Menyusuri jalanan desa 
hingga sampai ke sana

Seringnya aku pergi sendiri
Atau bersama teman lelaki yang lain
Kamu tak boleh pergi
Terlalu manja untuk berjalan kaki




Saat remaja aku pun tak pernah mengajakmu lagi
Sudah lupa dengan romantis pantai
Sibuk dengan dunia sendiri
Yang tak pernah habis untuk diisi

Saat dewasa akhirnya pergi bersama
Bercanda ria
Tak takut dengan bencana yang tiba-tiba
Tak sungkan dengan pantai yang bercampur sampah

Kapan lagi...
Bisa mengajakmu kembali

Ditulis oleh: Arsyad R Bahasa dan Sastra Updated at : 12:28 AM

Friday, January 1, 2021

Teman Minum

 

Dari secangkir susu
Secangkir kopi
Secangkir coklat
akhirnya
Cukup segelas teh hangat atau jeruk hangat
Fase itu pernah terlewati

Saat perut belum tumbuh terlalu besar
Tensi belum menjadi masalah
Coklat manis di pagi hari menjadi prioritas
Kadang susu atau kopi dengan gula
sedikit

Saat makin terlena
Bukan saja oleh minuman yang tersedia
Tetapi juga oleh suasana hati yang berbeda
Ada yang tak bisa dikendalikan

Secangkir cokelat bukan hanya pengurang rasa cemas
Tetapi membawa efek lain yang memaksa harus berhenti
Semakin lama tak ada lagi yang dirasa
Ketika minum pun harus sendiri

Ketika sendirtian menuang
Tak seberapa penting
Ketika tetap membawa cerita
yang tetap berarti

Eh..aku mau jus buah
Iya...tak perlu cangkir untuknya



Ditulis oleh: Arsyad R Bahasa dan Sastra Updated at : 1:31 AM
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...