Tuesday, February 23, 2021

Jalan Tak Berujung: Sebuah Refleksi Tentang Jejak, Luka, dan Ketabahan

Jalan Tak Berujung: Sebuah Refleksi Tentang Jejak, Luka, dan Ketabahan


Bahasa dan Sastra - arsyad riyadi

Sastra bukan hanya soal susunan kata yang indah, tetapi juga tentang bagaimana kita merekam jejak perjalanan hidup yang seringkali terasa sunyi. Puisi berikut ini, "Jalan Tak Berujung", adalah sebuah kontemplasi mendalam mengenai perjuangan batin, luka yang tak nampak, dan ketabahan yang disembunyikan di balik senyuman.

Puisi: Jalan Tak Berujung

Menyusuri jalanan itu
Berulangkali selalu begitu
Seolah tak ada ujung
Untuk membunuh waktu

Di setiap jejak yang tersembunyi
Seribu satu langkah kaki
Tak jua ada yang menanti
Semua dalam hati

Jejak langkah yang menjadikan sembilu
Belum lagi lemparan seribu satu batu
Tak ada luka yang terlihat lebam
Dipendam dengan senyuman

Jejak itu akan selalu ada
Yang tak nampak oleh mata biasa
Hanya sahabat
dan kita
Yang memahaminya
Kalau ada

Memahami Makna di Balik Baris Puisi

Puisi ini menggunakan metafora yang kuat untuk menggambarkan kondisi psikologis seseorang dalam menghadapi realitas hidup:

  1. "Membunuh Waktu": Menggambarkan rutinitas yang terkadang terasa hambar namun harus tetap dijalani meski tujuan akhir belum terlihat jelas.

  2. "Sembilu" dan "Lemparan Seribu Satu Batu": Melambangkan kritik, rintangan, atau rasa sakit hati yang datang bertubi-tubi. Menariknya, penulis menekankan bahwa luka ini tidak "lebam" secara fisik, melainkan luka batin yang dalam.

  3. "Dipendam dengan Senyuman": Sebuah potret ketabahan atau mungkin bentuk pertahanan diri (masking) agar dunia tidak melihat kerapuhan yang ada di dalam.

  4. "Hanya Sahabat dan Kita": Menekankan pada kesunyian perjalanan tersebut. Bahwa pada akhirnya, hanya diri sendiri (dan mungkin seorang sahabat sejati, jika beruntung memilikinya) yang benar-benar memahami beratnya beban yang dibawa.

Kesimpulan

"Jalan Tak Berujung" adalah pengingat bahwa setiap orang memiliki perjuangan yang tidak terlihat oleh mata biasa. Lewat karya ini, kita diajak untuk lebih berempati pada jejak-jejak sunyi yang ada di sekitar kita.




Ditulis oleh: Arsyad R Bahasa dan Sastra Updated at : 8:14 AM

1 comment:

  1. Bila kita bisa melihat matahari
    dengan ketulusan hati
    Maka seterik apapun panasnya
    kita tidak akan bisa terbakar
    oleh cahayanya

    Moga sehat sumringah selalu di sana :)

    ReplyDelete

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...