Monday, February 1, 2021

Ketika Ingin Sendiri: Saat Blogger Butuh Jeda dari Hiruk Pikuk Digital

 Ketika Ingin Sendiri: Saat Blogger Butuh Jeda dari Hiruk Pikuk Digital

Dunia digital menjanjikan koneksi, namun sering kali meninggalkan rasa sepi yang tak terjelaskan. Bagi seorang penulis atau blogger yang menghabiskan berjam-jam di depan layar, ada kalanya kata-kata menjadi hambar dan interaksi terasa melelahkan. Puisi berikut ini, "Ketika Ingin Sendiri", adalah potret jujur tentang sebuah titik jenuh dan kerinduan akan ketenangan batin.

Puisi: Ketika Ingin Sendiri

Ketika ingin sendiri
Sekedar menenangkan hati
Membebaskan diri
Dari berbagai keinginan diri
Yang kadang tak mau dimengerti

Aku lelah
Berhari-hari menatap layar
Berharap ada peluang
Berharap ingin sedikit berperan
Berharap berakhir dengan riang

Ada yang tak dimengerti
Ada hati yang merintih
Ada jiwa yang merasa sepi
Seolah tak berarti

Ketika ingin sendiri
Mengembalikan jiwa raga yang letih
Berbagai diskusi yang tak berarti
Bernarasi tak paham isi hati

Menyelami Makna: Kelelahan di Balik Layar

Puisi ini mengungkap sisi rapuh dari seorang pejuang konten. Ada beberapa poin reflektif yang bisa kita ambil:

1. Lelah Menatap Layar

Baris "Aku lelah berhari-hari menatap layar" bukan sekadar penat mata, melainkan kelelahan mental. Harapan untuk "sedikit berperan" dan "berakhir dengan riang" menunjukkan adanya ekspektasi besar yang sering kali berbenturan dengan realitas di dunia maya.

2. Diskusi Tanpa Isi Hati

Blogger sering terlibat dalam berbagai diskusi atau narasi digital. Namun, seperti yang tertulis: "Berbagai diskusi yang tak berarti, bernarasi tak paham isi hati". Ini menggambarkan betapa seringnya komunikasi di dunia digital terasa dangkal dan tidak menyentuh kedalaman jiwa.

3. Pentingnya Solitude (Kesendirian)

Menarik diri untuk "ingin sendiri" bukanlah bentuk keputusasaan, melainkan mekanisme pertahanan diri untuk membebaskan ego dan keinginan yang tak dimengerti. Ini adalah cara untuk "mengembalikan jiwa raga yang letih".

Penutup: Izinkan Diri untuk Beristirahat

Jika Anda merasa seperti narasi dalam puisi ini, ketahuilah bahwa tidak apa-apa untuk menutup laptop dan menjauh sejenak. Menenangkan hati adalah investasi terbaik agar saat kita kembali menulis, kita membawa jiwa yang lebih utuh.

Sejalan dengan tulisan saya sebelumnya tentang Membuang Waktukah?, kesendirian ini justru sering kali menjadi pupuk bagi kreativitas di masa depan.


Ditulis oleh: Arsyad R Bahasa dan Sastra Updated at : 5:08 AM

No comments:

Post a Comment

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...