Bahkan Seekor Burung pun Bisa Mencari Makan
apalagi manusia
Home All posts
Pandemi bukan hanya mengubah cara kita bekerja, tetapi juga cara kita berinteraksi secara fisik. Salah satu tradisi yang paling terdampak adalah jabat tangan—sebuah simbol kehangatan yang tiba-tiba berubah menjadi ancaman. Puisi berikut, "Tangan Sahabat yang Tersakiti", memotret kegamangan sosial tersebut melalui sudut pandang persahabatan yang canggung namun tulus.
Puisi ini mengandung pesan mendalam tentang pergeseran etika dan beban psikologis selama masa krisis kesehatan:
Bagi banyak orang, jabat tangan adalah bentuk penghormatan dan pengakuan. Stanza pertama menunjukkan bagaimana penolakan jabat tangan bisa disalahartikan sebagai penolakan personal, padahal itu adalah bentuk perlindungan diri.
Penyebutan "nasib teman seorang pejabat" menarik untuk dicermati. Ini menunjukkan bahwa mereka yang berada di posisi publik atau memiliki mobilitas tinggi seringkali memiliki trauma lebih dalam karena mereka adalah pihak yang paling rentan terpapar sekaligus dituduh menyebarkan virus.
Meskipun ada penjelasan logis, rasa "tak nyaman" tetap membekas. Namun, puisi ini ditutup dengan nada optimis: bahwa kualitas persahabatan tidak diukur dari sentuhan fisik, melainkan dari kehadiran dan rasa menyenangkan yang tetap terjaga meskipun tanpa kontak langsung.


Sastra bukan hanya soal susunan kata yang indah, tetapi juga tentang bagaimana kita merekam jejak perjalanan hidup yang seringkali terasa sunyi. Puisi berikut ini, "Jalan Tak Berujung", adalah sebuah kontemplasi mendalam mengenai perjuangan batin, luka yang tak nampak, dan ketabahan yang disembunyikan di balik senyuman.
Puisi ini menggunakan metafora yang kuat untuk menggambarkan kondisi psikologis seseorang dalam menghadapi realitas hidup:
"Membunuh Waktu": Menggambarkan rutinitas yang terkadang terasa hambar namun harus tetap dijalani meski tujuan akhir belum terlihat jelas.
"Sembilu" dan "Lemparan Seribu Satu Batu": Melambangkan kritik, rintangan, atau rasa sakit hati yang datang bertubi-tubi. Menariknya, penulis menekankan bahwa luka ini tidak "lebam" secara fisik, melainkan luka batin yang dalam.
"Dipendam dengan Senyuman": Sebuah potret ketabahan atau mungkin bentuk pertahanan diri (masking) agar dunia tidak melihat kerapuhan yang ada di dalam.
"Hanya Sahabat dan Kita": Menekankan pada kesunyian perjalanan tersebut. Bahwa pada akhirnya, hanya diri sendiri (dan mungkin seorang sahabat sejati, jika beruntung memilikinya) yang benar-benar memahami beratnya beban yang dibawa.
"Jalan Tak Berujung" adalah pengingat bahwa setiap orang memiliki perjuangan yang tidak terlihat oleh mata biasa. Lewat karya ini, kita diajak untuk lebih berempati pada jejak-jejak sunyi yang ada di sekitar kita.