Friday, October 16, 2015

MEMBERI TANPA HARUS MERASA DI ATAS

Memberi tanpa harus di atas kupilih sebagai judul tulisan ini. Ada kalanya kalau kita sudah memberikan sesuatu pada orang lain, kemudian kita merasa lebih posisinya lebih tinggi dari yang kita beri. Inilah awal penyakit bagi orang-orang yang biasa di atas.

Ada yang nyinyir ketika kita memberikan sesuatu barang atau katakanlah uang kepada orang lain yang kurang mampu. Sebenarnya mungkin mampu, tetapi ketika orang tersebut bekerja dengan diri kita dan dia posisi (baca = jabatan) jauh di bawah kita, maka kadangkala ketika ada rezeki yang kita dapatkan dia pun kecipratan. Kok bisa ada yang nyinyir. Yah..karena tindakan kita dianggap tidak mendidik. Memberi ikan bukan kail. Memanjakan dan seabreg lainnya.

Dan celakanya, yang kadang nyinyir tersebut sama-sama punya jabatan yang setara atau kebetulan berada pada posisi yang memberi. Cuma ya itu penyakitnya. Ketika punya rejeki nomplok...entah bonus maupun uang kaget lainnya..memang berbagi rezeki. Yang jadi masalah ketika memberikan sebagian rezekinya, kemudian merasa mempunyai posisi yang lebih tinggi. Merasa punya hak untuk mengendalikan. Atau menjadi suka memerintah..katakan ingin lebih dilayani.

Kalau suka memberi kemudian merasa di atas bukankah bisa menjadi penyakit baru, yaitu kesombongan. Kesombongan karena merasa lebih tinggi. Merasa punya hak terhadap tenaga atau waktu orang yang diberi.

Kalau memberi ya sudah. Kasih sebanyak-banyaknya. Kasihkan apa yang mereka butuhkan..bukan fokus pada apa yang kita inginkan. Misalnya mereka butuh uang. Alih-alih kita menginginkan memberikan barang atau makanan ternyata bukan itu yang dibutuhkan mereka. Tidak bolehlah kita menjadi tinggi hati, lantas mengatakan. "Saya kan pihak pemberi. Terserah kalau saya mau mengasih apa?" Bukankah memberikan sesuatu yang mereka butuhkan akan lebih bermanfaat dan lebih membahagiakan mereka?

Lepas dari pada itu, ketika memberi biarkan tangan kita memang di atasa. Tetapi bukan bertahan di atas, sedangkan yang diberi tangannya di bawah. Apalah artinya pepatah tangan di atas lebih baik dari tangan yang di bawah. Memberi lebih baik dari yang menerima. Tetapi ketika kita berada di atas, mulailah dipikirkan bagaimana agar tangan mereka yang dalam posisi diberi bisa ikut ke atas, bahkan sampai akhirnya bisa sejajar dengan kita.

Saya yakin, mereka pun tidak akan canggung kepada kita. Atau merasa hutang budi. Atau merasa rendah ketika berhadapan dengan kita. Yang di atasa usahakan untuk mau rendah hati turun. Jangan paksakan yang di bawah untuk naik. Kita yang di atas lebih punya kendali. Untuk turun tinggal tanggalkan rasa tinggi hati..rasa memiliki hak mereka..rasa menguasai waktu dan tenaga mereka. Biarkan semua berjalan alamiah.

Berilah dan teruslah memberi tanpa berpikiran bahwa kita berada di pihak yang di atas.


Ditulis oleh: Arsyad R Bahasa dan Sastra Updated at : 3:15 PM

No comments:

Post a Comment

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...