Thursday, May 31, 2012

Membuat Cerita yang Memikat

Membuat Cerita yang Memikat

Tulisan ini mengambil dari buku "Jurus Maut Menulis dan Menerbitkan Buku", karangan M. Hariwijaya, yang diterbitkan oleh penerbit Eimatera Publishing, Yogyakarta.
Proses penting yang membuat tulisan menjadi berbobot adalah mencari makna. Kita duduk di depan komputer untuk memikirkan materi dan hanya bisa menulis sedikit, itu sudah bagus. Misalnya dalam waktu satu jam, kalau dihitung bersih, menulisnya sekitar 10 menit dan yang 50 menit digunakan untuk memikirkan alur cerita ataupun gambaran materi yang akan ditulis.

Secara teknis, dengan sering duduk di depan komputer dan membuka file dari tulisan/cerita kita, maka inspirasi akan muncul dan tulisan akan menjadi lebih sempurna. Gunakan waktu yang nyaman setiap hari. Dan kendorkan otot-otot untuk menjadi rileks. Jangan terbebani dengan bahwa tulisan yang kita buat harus cepat selesai.

Bagaimana cara menulis cerita yang memikat? Para novelis dan pembuat skenario sinetron maupun film telah merumuskannya dalam struktur 9 babak sebagai berikut :
Babak 1 : Kejadian buruk. Bagian pembukaan karangan Anda, sodorkan kejadian buruk yang menimpa tokoh protagonis.

Babak 2 : Pengenalan tokoh

Babak 3 : Tokoh protagonis kena masalah dan menjadi kambing hitam

Babak 4 : Tokoh protagonis melarikan diri dan menjadi buronan

Babak 5 : Tokoh protagonis bertemu penolong dan belajar menghadapi masalah

Babak 6 : Titik balik dan merencanakan menghadapi sang antagonis.

Babak 7 : Rencana awal yang gagal

Babak 8 : Rencana darurat dijalankan

Babak 9 : Penyelesaian masalah

Untuk memperkaya dan memberi muatan pada isi tulisan tersebut, perbanyak membaca buku-buku tentang teori perubahan sosial, psikoanalisis, kedokteran, hukum, dan sebagainya.
Bangunlah gaya penulisan Anda sendiri, meski sederhana, tetapi orisinil.
Ditulis oleh: Arsyad R Bahasa dan Sastra Updated at : 2:54 AM

Monday, May 28, 2012

Pengajaran Sastra yang Menyenangkan

Pengajaran Sastra yang Menyenangkan

Salah satu metode yang digunakan dalam pembelajaran - pengajaran sastra yang menyenangkan adalah melalui metode "bermain" dan "mengalami". Dalam metode ini, siswa diajak bermain-main dan mencebur langsung pada dunia sastra, dan pada kegiatan apresiasi baik langsung maupun tak langsung.

Dengan metode bermain dan mengalami ini, diharapkan terjadi suasana sebagai berikut.
- Hilangkan kesan "angker", "terlampau serius" yang menghambat proses indivdu siswa.
- Siswa terjaga dari stress saat harus menghadapi karya sastra
- Secara tidak disadari, siswa diajak  terlibat secara penuh
- Siswa dapat terpancing daya kreativitasnya masing-masing
- Siswa dapat berperan ganda sebagai apresiator dengan tidak disadarinya
- Makna belajar melalui pengalaman

Metode "bermain" dan "mengalami" ini antara lain :
1. Mendengarkan sastra (cerpen, puisi) dan membacakan sastra
2. Mendongeng sastra dan mendengarkan dongeng sastra
3. Bernyanyi (menyanyikan) sastra
4. Menonton sastra
5. Mendramakan (menteatrikalan) sastra

Di dalam memilih syair lagu selain berdasarkan tematik juga sebaiknya didasarkan atas pertimbangan popularitas lagu, keakraban dengan siswa, serta mudah dihafal dan dinyanyikan siswa.

Untuk melaksanakan pengajaran sastra yang menyenangkan ini, diperlukan persiapan-persiapan yang lebih matang. Misalnya menyiapkan karya yang akan dibahas, berbagai perlengkapan lain (DVD, tape recorder), maupun panggung jika ingin dipentaskan.

Dengan membacakan suatu karya sastra, setidaknya guru juga mengenalkan dengan karya-karya sastra lama yang bernilai tinggi. Tentunya dengan gaya yang menarik dan menyenangkan. Tentunya pemilihan judul karya sastra yang tepat juga harus diperhatikan, karena tidak semua karya sastra terasa menyenangkan untuk dibacakan.

Sumber : Widijanto, Tjahyono. 2007. Pengajaran Sastra yang Menyenangkan.  Bandung : Pribumi Mekar
Ditulis oleh: Arsyad R Bahasa dan Sastra Updated at : 7:00 PM

Puisi Chairil Anwar : Sebuah Kamar

Chairil Anwar : Sebuah Kamar


SEBUAH KAMAR

Sebuah jendela menyerahkan kamar ini
pada dunia. Bulan yang menyinar ke dalam
mau lebih banyak tahu.
"Sudah lima anak bernyawa di sini
Aku salah satu!"

Ibuku tertidur dalam tersedu
Keramaian penjara sepi selalu,
Bapakku sendiri berbaring jemu
Matanya menatap orang tersalib di batu!

Sekeliling dunia bunuh diri!
Aku minta adik lagi pada
Ibu dan bapakku, karena mereka berada
di luar hitungan : Kamar begini,
3 x 4 m, terlalu sempit buat meniup nyawa!

Sajak yang ditulis tahun 1946, menggambarkan sesuatu yang ironis dengan gaya yang ironis pula. Dalam keadaan yang susah, orang masih ingin menambah kesusahan lagi. Dengan kamar berukuran 3 x 4, yang telah dihuni 7 orang ( 5 anak dan kedua orang tuanya), tokoh Aku masih meminta satu adik lagi.

Melalui tokoh Aku, Chairil Anwar ingin menggambarkan kemiskinan. Sang ibu tidur dalam keadaan menangis, sedangkan sang ayah tidak melakukan apa-apa ("Bapakku sendiri berbaring jemu / Matanya menatap orang tersalib di batu!").

Kamar yang dihuni banyak anak tersebut, seharusnya menjadi ramai. Tapi sebaliknya, kamar itu seperti penjara. Putus asa ("Sekeliling dunia bunuh diri!")
Itulah gambaran penduduk Indonesia yang semakin padat. Jumlah penduduk bertambah, demikian juga kemiskinan.

"Sebuah jendela menyerahkan kamar ini pada dunia. Bulan yang menyinar ke dalam
mau lebih banyak tahu"
Bait tersebut bisa diartikan bahwa hanya melalui sebuah jendela, orang luar (bulan) bisa melihat seisi kamar tersebut. Seperti rumah di perkotaan yang cenderung kecil, apalagi dengan harga yang selangit. Siapa yang bisa beli, kalau bukan hanya segelintir orang.


Sumber : 
Pradopo, Rachmat Djoko. 2008. Beberapa Teori Sastra , Metode Kritik, dan Penerapannya. Yogyakarta : Pustaka Pelajar
Ditulis oleh: Arsyad R Bahasa dan Sastra Updated at : 12:26 AM

Thursday, May 24, 2012

KAJIAN BUDAYA FEMINIS : TUBUH, SASTRA, DAN BUDAYA POP

Kajian Budaya Feminis : Tubuh, Sastra, dan Budaya Pop


Membaca buku karangan Aquarini Priyatna Prabasmoro yang berjudul "Kajian Budaya Feminis : Tubuh, Sastra, dan Budaya Pop", membuatku dahiku makin berkerut. Terheran-heran, ternyata kajian tentang kaum feminis bisa menjadi sangat serius dalam kancah tubuh sastra maupun budaya pop. Dari Pada  Sebuah Kapal sampai Crouching Tiger Hidden Dragon, tubuh berkulit putih bersih korban iklan, jins, dangdut, kelangsingan dan lain-lain menjadikan kajian feminisme ini menjadi menakjubkan dan membuatku terperangah (meski seringnya tidak mudeng dan harus membaca berulang-ulang).

 Buku ini terdiri dari 4 bagian, sebagai berikut.

Bagian 1 : Wacana Feminis
1. Feminisme : Barat?
2. [Hetero] Sexuality Redefined
3. Feminisme sebagai Tubuh, Pemikiran dan Pengalaman
4. Pendekatan Behavoir terhadap Penubuhan dan Resistensi terhadap Sistem Pembedaan Seks/Gender


Bagian 2 : Tubuh Fantastis Perempuan
5. Dinamai, Menamai dan Proses Menjadi
6. Tentang Menjadi Perempuan dengan Tubuh
7. Penubuhan Kehamilan : Narasi, Subjektivitas dan Tantangan Patriarkal
8. Abjek dan Montrous Feminine : Kisah Rahim, Liur, Tawa, dan Pembalut

Bagian 3 : Membaca Sastra
9. Seks, Berahi dan Cinta dalam Karya Nh. Dini
10. Tubuh dan  Penubuhan dalam Pada Sebuah Kapal, La Barka, dan Namaku Hiroko
11. Mencium Sastrawangi, Menubuhi Diri
12. Membaca [lagi] Seksualitas Perempuan
13. Dua Novel Pembunuh Bapak
14. Perempuan, Tradisi dan Resistensi : Membaca Putri karya Putu Wijaya
15. Gagasan Fantastis Ganda sebagai Kritik terhadap Subjektivitas Normatif dalam Daughters of the House dan Mara and Dean
16. Queer dan Performativitas Gender dalam Pinkland dan Nude of the Moon
17. Menulis Saya-Perjalanan menuju Diri yang Baru

Bagian 4 : Budaya Pop
18. Seks dan Seksualitas Perempuan dalam Kehidupan Komersial
19. Putih, Feminitas  dan Seksualitas Perempuan dalam Iklan Kita
20. Identifikasi Female, Feminin, Feminis dalam Film Sense and Sensibility dan Crouching Tiger Hidden Dragon
21. Representasi Femininitas dan Maskulinitas dalam My Boyfriend Raped Me In His Step
22. Perkawinan Dua Panggung
23. Teknologi dan Reproduksi Kebutuhan
24. Jins, Dangdut, dan Dosesn : Fashion sebagai Pernyataan Diri

Sumber : Prabasmoro, Aquarini Priyatna. 2006. Kajian Budaya Feminis : Tubuh, Sastra, dan Budaya Pop. Yogyakarta & Bandung : Jalasutra
Ditulis oleh: Arsyad R Bahasa dan Sastra Updated at : 10:00 PM

Monday, May 21, 2012

Makna Puisi "Tragedi Winka & Sihka" Karya Sutardji Calzoum Bachri: Analisis Tipografi dan Semantik

Makna Puisi "Tragedi Winka & Sihka" Karya Sutardji Calzoum Bachri: Analisis Tipografi dan Semantik


Dalam dunia sastra Indonesia, nama Sutardji Calzoum Bachri dikenal sebagai pelopor kredo puisi yang membebaskan kata dari beban makna konvensional. Salah satu karyanya yang paling fenomenal dan sering menjadi bahan diskusi di bangku sekolah maupun kuliah adalah "Tragedi Winka & Sihka".

Bagi mata awam, puisi ini mungkin tampak seperti susunan kata yang aneh. Namun, di balik tipografinya yang unik, tersimpan tragedi kemanusiaan yang sangat dalam.

Puisi : Tragedi Winka & Sihka

kawin
    kawin
        kawin
            kawin
                kawin
                     ka
                    win
               ka
            win
           ka
         win
      ka
   win
ka
    winka
        winka
            sihka
               sihka
                  sihka
                        sih
                     ka
                  sih
               ka
            sih
          ka
       sih
    ka
  sih
ka
   sih
      sih
         sih
            sih
               sih
                  sih
                     ka
                         Ku

Analisis Makna Menurut Prof. Dr. Rachmat Djoko Pradopo

Untuk memahami puisi ini secara ilmiah, kita dapat merujuk pada buku Beberapa Teori Sastra, Metode Kritik, dan Penerapannya karya Prof. Dr. Rachmat Djoko Pradopo. Berikut adalah poin-poin penting analisisnya:

1. Dekonstruksi Kata "Kawin" dan "Kasih"

Secara linguistik, kata-kata dalam puisi ini merupakan permainan bentuk dari dua kata dasar: Kawin dan Kasih.

  • Kawin: Melambangkan persatuan, harapan, dan kebahagiaan awal sebuah rumah tangga.

  • Kasih: Melambangkan fondasi emosional yang seharusnya menjaga persatuan tersebut.

2. Perubahan Menjadi "Winka" dan "Sihka"

Sutardji memutarbalikkan ejaan kata tersebut menjadi Winka (kebalikan dari Kawin) dan Sihka (kebalikan dari Kasih). Perubahan ini melambangkan:

  • Disharmoni: Sesuatu yang semula indah (kawin/kasih) telah jungkir balik menjadi kekacauan.

  • Tragedi: Hubungan yang awalnya utuh mulai retak, hancur, dan berakhir menjadi "neraka" bagi pelakunya.

3. Makna Tipografi Zig-Zag

Bentuk zig-zag dalam puisi ini bukan sekadar hiasan, melainkan simbol visual dari:

  • Perjalanan yang Berliku: Sebuah pernikahan tidak selamanya berjalan lurus. Ada tikungan tajam dan kerikil tajam.

  • Ketidakpastian: Gerakan kata yang seolah "jatuh" dan "terombang-ambing" menggambarkan proses kehancuran sebuah hubungan yang berakhir pada kata tunggal di akhir puisi: "Ku"—melambangkan kesendirian atau ego yang tersisa setelah tragedi.

Refleksi Pribadi: Dari "Aneh" Menjadi "Paham"

Banyak dari kita (termasuk saya saat SMP) awalnya menganggap puisi ini tidak memiliki makna. Namun, setelah didalami, kita menyadari bahwa Sutardji sedang melakukan eksperimentasi tipografi untuk menyampaikan rasa sakit yang tidak bisa dijelaskan oleh kalimat biasa.

Tragedi dalam pernikahan—entah itu pertengkaran, perselingkuhan, hingga perceraian—digambarkan secara visual melalui kata yang terputus-putus. Ini adalah bukti bahwa dalam sastra, bentuk (form) adalah bagian dari isi (content).

Kesimpulan

Puisi "Tragedi Winka & Sihka" adalah mahakarya puisi konkret Indonesia. Ia mengajarkan kita bahwa sebuah kebahagiaan (Kawin & Kasih) bisa berubah menjadi bencana (Winka & Sihka) jika tidak dijaga dengan baik.


Sumber :
Djoko Pradopo, Rachmat. 2008. Beberapa Teori Sastra, Metode Kritik, dan Penerapannya. Cetakan V. Yogyakarta : Pustaka Pelajar


Ditulis oleh: Arsyad R Bahasa dan Sastra Updated at : 4:59 AM

Saturday, May 19, 2012

Menjelajahi Puisi Esai Denny JA: Jembatan Antara Fiksi dan Fakta

Menjelajahi Puisi Esai Denny JA: Jembatan Antara Fiksi dan Fakta


Dalam belantika sastra Indonesia, muncul sebuah pertanyaan menarik saat kita menelaah karya-karya Denny JA: Apakah ini sebuah puisi dalam bentuk esai, ataukah esai yang dikemas dalam bentuk puisi?

Melalui buku "Atas Nama Cinta", Denny JA memperkenalkan sebuah genre inovatif bernama Puisi Esai. Karya ini menjadi unik karena berhasil menjembatani jurang antara imajinasi fiksi dengan realitas fakta, menjadikannya sebuah potret sosial yang berani dan menyentuh.

Karakteristik Unik Puisi Esai

Berbeda dengan puisi konvensional yang sering kali bersifat abstrak dan multitafsir, puisi esai memiliki ciri khas yang sangat kuat:

  1. Berbasis Data (Catatan Kaki): Puisi ini dipenuhi dengan catatan kaki dari berbagai sumber pemberitaan media yang merupakan fakta nyata. Hal ini memberikan bobot ilmiah pada narasi puitisnya.

  2. Narasi yang Panjang: Alurnya mengalir seperti cerita pendek atau esai, namun disusun dengan rima dan ritme puisi.

  3. Konteks Sosial yang Kuat: Denny JA tidak hanya berkisah tentang pengalaman batin tokoh, tetapi juga memberikan informasi memadai mengenai konteks sosial di balik sebuah peristiwa.

Diskriminasi: Tema Besar dalam "Atas Nama Cinta"

Diskriminasi menjadi benang merah utama dalam kumpulan puisi esai ini. Denny JA menggunakan kekuatan sastra untuk memotret kasus-kasus marginalisasi di Indonesia dalam bentuk kisah yang menyentuh hati. Tujuannya jelas: menggugah empati pembaca sekaligus memberikan edukasi sejarah.

Dalam buku Atas Nama Cinta, terdapat lima puisi esai yang masing-masing mengangkat isu sensitif yang pernah (dan mungkin masih) terjadi di masyarakat kita:

Judul Puisi

Jenis Diskriminasi yang Diangkat

"Sapu Tangan Fang Yin"

Diskriminasi etnis terhadap kaum Tionghoa (Tragedi Mei 1998).

"Romi dan Yuli dari Cikeusik"

Diskriminasi terhadap paham atau aliran agama tertentu.

"Minah Tetap Dipancing"

Diskriminasi berbasis gender dan ketidakadilan sosial.

"Cinta Terlarang Batman & Robin"

Diskriminasi terhadap kelompok homoseksual.

"Bunga Kering Perpisahan"

Konflik dan diskriminasi beda agama.

Mengapa Puisi Esai Layak Dibahas?

Inovasi Denny JA melalui puisi esai memberikan cara baru bagi kita untuk mendiskusikan masalah-masalah berat seperti hak asasi manusia dan toleransi. Dengan kemasan sastra, isu yang tadinya terasa kaku dalam laporan berita menjadi lebih manusiawi dan dapat dirasakan secara emosional oleh pembaca.

Memahami puisi esai adalah langkah awal untuk mengenal lebih dalam gaya bahasa kontemporer yang berani menyuarakan kebenaran di atas kertas.


Sumber : http://puisi-esai.com
Ditulis oleh: Arsyad R Bahasa dan Sastra Updated at : 10:34 PM

Thursday, May 10, 2012

Puisi Chairil Anwar : "Aku"

Puisi Chairil Anwar : "Aku"


AKU

Kalau sampai waktuku
'Ku mau tak seorang, 'kan merayu
Tidak juga kau

Tak perlu sedu sedan itu

Aku ini binatang jalang
Dari kumpulannya terbuang

Biar peluru menembus kulitku
Aku tetap meradang menerjang

Luka dan bisa kubawa berlari
Berlari
Hingga hilang pedih peri

Dan aku akan lebih tidak peduli
Aku mau hidup seribu tahun lagi

Komentar :
Membaca puisi tersebut, saya sangat iri. Mengapa puisi seperti itu bisa begitu terkenal?
Apakah karena pilihan kata-katanya yang tidak biasa?
Dengan mengatakan "Aku ini binatang jalang". Begitu beraninya dia "menelanjangi" atau "menjelekkan" diri sendiri. Apakah karena kemarahan atau keputusasaan. Apa yang dimaksud dengan kata-kata "Kalau sampai waktuku". Apakah maksudnya dia mau meninggal. Tapi gak mungkin, karena di paling bawah dia berucap "Aku mau hidup seribu tahun lagi".
Di samping keberanian "mengatai" dirinya. Sekaligus juga berani menantang untuk terus "meradang" dan "menerjang", meski peluru menembus dirinya.
Jadi apa yang dimaksud dengan "Kalau sampai waktuku". Sebuah keputusan pentingkah. Tekad yang kuat. Atau keberanian melakukan sesuatu yang selama ini dipendam.
Tidak peduli!!
Ditulis oleh: Arsyad R Bahasa dan Sastra Updated at : 8:31 PM
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...