Tuesday, February 9, 2021

Ketika Jalan Tak Berujung

 Ketika Jalan Tak Berujung

Ketika Jalan Tak Berujung - Puisi
Ketika jalan tak berujung

Bukan berarti lantas berhenti

Atau berlari takut

Menangis sendirian


Sebenarnya tak perlu merasa sendiri

Ketika tak ada seorang pun

Tuhan akan menemani

Dan selalu ada teman menyendiri

Meski entah di mana


Terkadang frekuensi tak terjadi

Ketika jiwa tak mau terbuka

Menerima diri sendiri

Untuk terus melangkah

Mencari jati diri


Percayalah

Ketakutan..kegelapan akan teratasi

Memahami diri

Mengingat Tuhan

dan menyadari

Ada yang menunggu jauh di depan sana








Ditulis oleh: Arsyad R Bahasa dan Sastra Updated at : 12:55 AM

Monday, February 1, 2021

Ketika Ingin Sendiri: Saat Blogger Butuh Jeda dari Hiruk Pikuk Digital

 Ketika Ingin Sendiri: Saat Blogger Butuh Jeda dari Hiruk Pikuk Digital

Dunia digital menjanjikan koneksi, namun sering kali meninggalkan rasa sepi yang tak terjelaskan. Bagi seorang penulis atau blogger yang menghabiskan berjam-jam di depan layar, ada kalanya kata-kata menjadi hambar dan interaksi terasa melelahkan. Puisi berikut ini, "Ketika Ingin Sendiri", adalah potret jujur tentang sebuah titik jenuh dan kerinduan akan ketenangan batin.

Puisi: Ketika Ingin Sendiri

Ketika ingin sendiri
Sekedar menenangkan hati
Membebaskan diri
Dari berbagai keinginan diri
Yang kadang tak mau dimengerti

Aku lelah
Berhari-hari menatap layar
Berharap ada peluang
Berharap ingin sedikit berperan
Berharap berakhir dengan riang

Ada yang tak dimengerti
Ada hati yang merintih
Ada jiwa yang merasa sepi
Seolah tak berarti

Ketika ingin sendiri
Mengembalikan jiwa raga yang letih
Berbagai diskusi yang tak berarti
Bernarasi tak paham isi hati

Menyelami Makna: Kelelahan di Balik Layar

Puisi ini mengungkap sisi rapuh dari seorang pejuang konten. Ada beberapa poin reflektif yang bisa kita ambil:

1. Lelah Menatap Layar

Baris "Aku lelah berhari-hari menatap layar" bukan sekadar penat mata, melainkan kelelahan mental. Harapan untuk "sedikit berperan" dan "berakhir dengan riang" menunjukkan adanya ekspektasi besar yang sering kali berbenturan dengan realitas di dunia maya.

2. Diskusi Tanpa Isi Hati

Blogger sering terlibat dalam berbagai diskusi atau narasi digital. Namun, seperti yang tertulis: "Berbagai diskusi yang tak berarti, bernarasi tak paham isi hati". Ini menggambarkan betapa seringnya komunikasi di dunia digital terasa dangkal dan tidak menyentuh kedalaman jiwa.

3. Pentingnya Solitude (Kesendirian)

Menarik diri untuk "ingin sendiri" bukanlah bentuk keputusasaan, melainkan mekanisme pertahanan diri untuk membebaskan ego dan keinginan yang tak dimengerti. Ini adalah cara untuk "mengembalikan jiwa raga yang letih".

Penutup: Izinkan Diri untuk Beristirahat

Jika Anda merasa seperti narasi dalam puisi ini, ketahuilah bahwa tidak apa-apa untuk menutup laptop dan menjauh sejenak. Menenangkan hati adalah investasi terbaik agar saat kita kembali menulis, kita membawa jiwa yang lebih utuh.

Sejalan dengan tulisan saya sebelumnya tentang Membuang Waktukah?, kesendirian ini justru sering kali menjadi pupuk bagi kreativitas di masa depan.


Ditulis oleh: Arsyad R Bahasa dan Sastra Updated at : 5:08 AM

Tuesday, January 26, 2021

Ketika Air Mata Menetes: Tentang Duka yang Tak Terucap dan Kesetiaan yang Menunggu

 


Air mata sering kali menjadi bahasa paling jujur ketika lisan tak lagi mampu berkata-kata. Dalam setiap tetesnya, tersimpan rahasia tentang duka, harapan yang pupus, dan pencarian akan tempat untuk pulang. Puisi berikut, "Ketika Air Mata Menetes", mengajak kita menyelami ruang paling pribadi dalam kesedihan seseorang.

Puisi: Ketika Air Mata Menetes

Ketika air mata menetes
Entah apa yang kau rasa
Entah duka apa yang kau pendam
Seribu warna-warna pucat
Yang tak membawa rona

Ketika air mata menetes
Karena harapan yang tiada
Bayangan gelap masa depan
Tak ada jalan untuk melangkah
Tak ada tempat untuk pulang

Ketika air mata menetes
Tak berani aku menyapa
Takut menambah luka

Ketika air mata menetes
Tetap saja aku di sana
Menunggu sampai bisa tertawa

Analisis Makna: Kesetiaan di Tengah Badai Duka

Puisi ini menawarkan perspektif yang sangat manusiawi tentang bagaimana kita seharusnya bersikap di hadapan kesedihan orang lain:

1. Warna-Warna Pucat (Kehilangan Gairah)

Penggunaan diksi "seribu warna-warna pucat" menggambarkan kondisi depresi atau duka mendalam di mana dunia kehilangan keindahannya. Semuanya terasa datar, abu-abu, dan tidak memberikan gairah (rona).

2. Harapan yang Hilang dan Ketidakpastian

Stanza kedua menyentuh aspek yang sangat eksistensial: kehilangan harapan akan masa depan. Ketakutan akan tidak adanya "jalan untuk melangkah" dan "tempat untuk pulang" adalah representasi dari hilangnya rasa aman secara psikologis.

3. Kehadiran dalam Diam

Bagian paling kuat dari puisi ini ada pada bagian akhir. Penulis menyadari bahwa terkadang sapaan justru bisa menjadi beban bagi mereka yang terluka. Namun, ketidakberanian untuk menyapa bukan berarti meninggalkan.

Baris "Tetap saja aku di sana, menunggu sampai bisa tertawa" menunjukkan sebuah kesetiaan yang luar biasa. Ini adalah tentang menjadi saksi bagi duka seseorang hingga badai itu berlalu dan tawa itu kembali hadir.

Penutup

"Ketika Air Mata Menetes" adalah sebuah pengingat bahwa empati tidak selalu harus berupa kata-kata motivasi yang muluk. Terkadang, cukup dengan berada di sana, dalam diam, sampai duka itu menemukan jalan keluarnya sendiri.

Ditulis oleh: Arsyad R Bahasa dan Sastra Updated at : 11:02 PM

Monday, January 25, 2021

Saat Cinta Tak Boleh Terkatakan

 

Saat cinta tak boleh terkatakan
Bukan karena tak ada gairah
Bukan karena tak ada keinginan
Bukan karena tak mau dipaksakan

Saat cinta tak boleh dikatakan
Ketika menjadikan penuh dusta
Penuh duka
Penuh luka

Saat cinta tak boleh dikatakan
Ketika di waktu yang salah
Ketika tak boleh bersua
Ketika tak hendak berdua

Ketika cinta tak boleh dikatakan
Menjaga hati
Menjaga diri
Menjaga duri
Menjaga nurani
Menjaga mati



Ditulis oleh: Arsyad R Bahasa dan Sastra Updated at : 2:57 PM

Sunday, January 24, 2021

Tak Hendak Ada Pesta

 


Tak hendak ada pesta
ketika kamu tak ada
Ketika adapun
belum tentu kamu yang mau berpesta
Tak perlu merasa salah atau serba salah
Selalu bisa memberi warna

Di hari itu ketika kamu tak datang
Di sini pun tak ada riuh rendah keriangan
Semua sederhana
Ada tidaknya kamu berada
Tak usah merasa ditinggalkan

Masa lalu tak selalu harus dikenang
Apa lagi ketika berada dalam kesia-siaan
Harapan di masa depan
Yang akan diperjuangkan

Ditulis oleh: Arsyad R Bahasa dan Sastra Updated at : 1:08 PM

Tuesday, January 5, 2021

Bertemu Tak Bertemu

 

Bertemu tak bertemu
Bukan hal manis dibicarakan
Ketika bertemu menjadi beradu
Ketika terpisah menjaga lara

Bertemu pun menyisakan lara
Berpisah pun menjaga air mata
Bertemu pun tak hendak bicara
Berpisah pun tak hendak bersua

Beda definisi
Tentang cinta dan persahabatan
Tentang perpisahan dan pertemuan
Tentang kita

Yang tak bisa bertemu
Serta enggan berpisah

Ditulis oleh: Arsyad R Bahasa dan Sastra Updated at : 6:09 PM

Sunday, January 3, 2021

Daun-Daun Jatuh Berserakan

Daun-daun berserakan
Memenuhi jalanan
Tak ada yang ingin membersihkan
Biarkan terus beterbangan

Aku pun tak hendak menyapunya
Kubiarkan menjadi hiasan sepanjang jalan
Daun-daunnya makin banyak
Aku pun tak hendak membersihkannya

Aku tak peduli pada dedaunan
Aku tak peduli pada jalanan
Aku tak peduli pada pohon yang melintang
Aku tak peduli pada hujan yang mulai datang

Aku hanya ingin diam
Menunggu waktu
Berharap ada datang
Membawa rindu



Ditulis oleh: Arsyad R Bahasa dan Sastra Updated at : 6:49 PM

Selalu Ada Senyuman


Selalu ada senyuman
Seberapa sengsara hidup di jalani
Ah..mereka sudah mati rasa
Mereka tidak punyak hak untuk bersuka
Mereka tak paham aksara

Apakah orang miskin dilarang bahagia?
Apakah orang miskin dilarang sekolah?
Tak perlu pintar aksara
Tak perlu bisa berbahasa
apalagi matematika

Setiap yang dilakukan tak ada hubungan dengan pendidikan
Mereka tidakah terdidik
Mereka berhitung tapi dianggap bodoh matematika
Mereka pintar berucap tapi dianggap bodoh dengan bahasa

Di sisi lain
Seorang anak bisa membaca ABCD
Seorang anak bisa menghitung 1234
menyusun kalimat
menghitung perkalian..tambahan..pengurangan...dan pembagian
Meskipun hanya angka-angka dan huruf abstrak saja
Dianggap berpendidikan

Pendidikan bisa dimiliki siapapun
Apalah artinya
Bertahun-tahun makan bangku sekolah
Jika tak sanggup merdeka
Jika tak sanggup terus tertawa dengan pedihnya kehidupan
Jika tak sanggup mencari jalan untuk hidup
Sesungguhnya yang seperti ini
Tak layak dianggap sebagai manusia terdidik
Ditulis oleh: Arsyad R Bahasa dan Sastra Updated at : 12:46 AM
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...