Wednesday, April 14, 2021

Di Era Pandemi ini....

Di Era Pandemi ini...


Puisi Era Pandemi

Di era pandemi ini banyak orang yang diuji
Meski ada juga yang tak mau diuji

Tidak ke tempat ibadah
Tidak ke tempat kerja
Tidak ke sekolah
Tidak ke mana-mana

Para ahli agama di rumah
Para pedagang..karyawan...di rumah
Para guru dan siswa di rumah
Ah apa iya?

Masa menguji dengan tidak mengunjungi tempat ibadah
Masa menguji dengan tidak ke tempat kerja
Masa menguji dengan tidak ke sekolah
Masa menguji dengan tidak ke mana-mana

Di era normal
Di rumah...liburan..
adalah saat yang menyenangkan bagi sebagian orang
Sebagian kecil orang yang mengunjungi masjid-masjid
Sebagian kecil orang yang bekerja sepenuh hati
Sebagian kecil siswa yang benar-benar belajar di sekolah

Ah...Anda meremehkan banyak orang
Anda menggunakan sudut pandang sendiri
Sebagian besar orang suka mendatangi masjid
Sebagian besar orang bekerja sepenuh hati siang dan malam
Sebagian besar siswa tekun belajar di rumah

Kujawab
Semoga...
Ada pandemi dan tidak semua menjalankan peran dengan baik
Tak perlu berteriak-teriak mengatasnamakan kebaikan
Untuk melegalkan keluar rumah
Mengabaikan Corona
dan mengabaikan 
....Tuhan

Cilacap, 14 April 2021




Ditulis oleh: Arsyad R Bahasa dan Sastra Updated at : 6:34 AM

Saturday, April 3, 2021

Tangan Sahabat yang Tersakiti: Puisi Refleksi tentang Jarak dan Trauma di Era Pandemi

Tangan Sahabat yang Tersakiti: Puisi Refleksi tentang Jarak dan Trauma di Era Pandemi

Puisi Pandemi :  Tangan Sahabat yang Tersakiti


Pandemi bukan hanya mengubah cara kita bekerja, tetapi juga cara kita berinteraksi secara fisik. Salah satu tradisi yang paling terdampak adalah jabat tangan—sebuah simbol kehangatan yang tiba-tiba berubah menjadi ancaman. Puisi berikut, "Tangan Sahabat yang Tersakiti", memotret kegamangan sosial tersebut melalui sudut pandang persahabatan yang canggung namun tulus.

Puisi : Tangan Sahabat yang Tersakiti

Berawal kisah bertandang ke rumah sahabat
Ada tamu yang juga datang ke sana
Tatkala sang tamu merasa ada rasa tak enak
Ketika jabat tangannya tak terbalas
Jabat tangan baginya bukan hanya sebagai tanda mengenal
atau ingin dikenal

Memang nasib teman seorang pejabat
Tapi trauma akibat sebuah jabat tangan
Niat sungkem pada saudara jauh yang datang
Tak terbayang virus datang menyerang
Dengan terbata sang sahabat mencoba menjelaskan

Tapi apa daya, senyuman getir tetap terbayang
Akibat jabat tangan yang terbalaskan
Bicara kekuatan dan pasrah pada Tuhan
Tak mampu menghapus rasa tak nyaman
Tetap harus bertahan

Tak ada jabat tangan
Tetap saja tak menjadi penghalang
untuk menjadi sahabat yang menyenangkan

Memahami Makna: Luka Sosial di Balik Jabat Tangan

Puisi ini mengandung pesan mendalam tentang pergeseran etika dan beban psikologis selama masa krisis kesehatan:

1. Jabat Tangan sebagai Identitas

Bagi banyak orang, jabat tangan adalah bentuk penghormatan dan pengakuan. Stanza pertama menunjukkan bagaimana penolakan jabat tangan bisa disalahartikan sebagai penolakan personal, padahal itu adalah bentuk perlindungan diri.

2. Beban Psikologis "Teman Pejabat"

Penyebutan "nasib teman seorang pejabat" menarik untuk dicermati. Ini menunjukkan bahwa mereka yang berada di posisi publik atau memiliki mobilitas tinggi seringkali memiliki trauma lebih dalam karena mereka adalah pihak yang paling rentan terpapar sekaligus dituduh menyebarkan virus.

3. Senyuman Getir dan Penerimaan

Meskipun ada penjelasan logis, rasa "tak nyaman" tetap membekas. Namun, puisi ini ditutup dengan nada optimis: bahwa kualitas persahabatan tidak diukur dari sentuhan fisik, melainkan dari kehadiran dan rasa menyenangkan yang tetap terjaga meskipun tanpa kontak langsung.



Sumber gambar : https://www.happywednesday.id/r/112/masa-depan-jabat-tangan

Ditulis oleh: Arsyad R Bahasa dan Sastra Updated at : 10:48 PM

Friday, April 2, 2021

Puisi Pandemi : Pagar dan Makanan

Puisi Pandemi : Pagar dan Makanan


Puisi Pandemi : Pagar dan Makanan - Bahasa dan Sastra Indonesia


Kukayuh sepedaku
Menuju rumah seorang sahabat
Tak dapat menanggung pilu
Ketika melihat pagar rumah
Tertambat berbagai makanan
Kiriman saudara, tetangga, dan sahabat

Semua merasa peduli
Akan derita yang dia alami
Ketika meninggalkan anak sendiri
Ketika semua orang tak bisa mengunjungi
Setidaknya ada makanan yang bisa dibagi

Trenyuh yang terjadi
Rumah terkunci 
Tapi harus menahan diri
untuk tidak memasuki
Hanya cantelan plastik menjadi saksi
Ada yang peduli
Atas apa yang terjadi
 






Sumber gambar :
Sumber : https://kaltimtoday.co/tekad-kuat-mujiono-dan-keluarga-sembuh-dari-covid-19-undang-simpati-tetangga-sekitar/



Ditulis oleh: Arsyad R Bahasa dan Sastra Updated at : 11:12 PM
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...