Tuesday, January 26, 2021

Ketika Air Mata Menetes: Tentang Duka yang Tak Terucap dan Kesetiaan yang Menunggu

 


Air mata sering kali menjadi bahasa paling jujur ketika lisan tak lagi mampu berkata-kata. Dalam setiap tetesnya, tersimpan rahasia tentang duka, harapan yang pupus, dan pencarian akan tempat untuk pulang. Puisi berikut, "Ketika Air Mata Menetes", mengajak kita menyelami ruang paling pribadi dalam kesedihan seseorang.

Puisi: Ketika Air Mata Menetes

Ketika air mata menetes
Entah apa yang kau rasa
Entah duka apa yang kau pendam
Seribu warna-warna pucat
Yang tak membawa rona

Ketika air mata menetes
Karena harapan yang tiada
Bayangan gelap masa depan
Tak ada jalan untuk melangkah
Tak ada tempat untuk pulang

Ketika air mata menetes
Tak berani aku menyapa
Takut menambah luka

Ketika air mata menetes
Tetap saja aku di sana
Menunggu sampai bisa tertawa

Analisis Makna: Kesetiaan di Tengah Badai Duka

Puisi ini menawarkan perspektif yang sangat manusiawi tentang bagaimana kita seharusnya bersikap di hadapan kesedihan orang lain:

1. Warna-Warna Pucat (Kehilangan Gairah)

Penggunaan diksi "seribu warna-warna pucat" menggambarkan kondisi depresi atau duka mendalam di mana dunia kehilangan keindahannya. Semuanya terasa datar, abu-abu, dan tidak memberikan gairah (rona).

2. Harapan yang Hilang dan Ketidakpastian

Stanza kedua menyentuh aspek yang sangat eksistensial: kehilangan harapan akan masa depan. Ketakutan akan tidak adanya "jalan untuk melangkah" dan "tempat untuk pulang" adalah representasi dari hilangnya rasa aman secara psikologis.

3. Kehadiran dalam Diam

Bagian paling kuat dari puisi ini ada pada bagian akhir. Penulis menyadari bahwa terkadang sapaan justru bisa menjadi beban bagi mereka yang terluka. Namun, ketidakberanian untuk menyapa bukan berarti meninggalkan.

Baris "Tetap saja aku di sana, menunggu sampai bisa tertawa" menunjukkan sebuah kesetiaan yang luar biasa. Ini adalah tentang menjadi saksi bagi duka seseorang hingga badai itu berlalu dan tawa itu kembali hadir.

Penutup

"Ketika Air Mata Menetes" adalah sebuah pengingat bahwa empati tidak selalu harus berupa kata-kata motivasi yang muluk. Terkadang, cukup dengan berada di sana, dalam diam, sampai duka itu menemukan jalan keluarnya sendiri.

Ditulis oleh: Arsyad R Bahasa dan Sastra Updated at : 11:02 PM

Monday, January 25, 2021

Saat Cinta Tak Boleh Terkatakan

 

Saat cinta tak boleh terkatakan
Bukan karena tak ada gairah
Bukan karena tak ada keinginan
Bukan karena tak mau dipaksakan

Saat cinta tak boleh dikatakan
Ketika menjadikan penuh dusta
Penuh duka
Penuh luka

Saat cinta tak boleh dikatakan
Ketika di waktu yang salah
Ketika tak boleh bersua
Ketika tak hendak berdua

Ketika cinta tak boleh dikatakan
Menjaga hati
Menjaga diri
Menjaga duri
Menjaga nurani
Menjaga mati



Ditulis oleh: Arsyad R Bahasa dan Sastra Updated at : 2:57 PM

Sunday, January 24, 2021

Tak Hendak Ada Pesta

 


Tak hendak ada pesta
ketika kamu tak ada
Ketika adapun
belum tentu kamu yang mau berpesta
Tak perlu merasa salah atau serba salah
Selalu bisa memberi warna

Di hari itu ketika kamu tak datang
Di sini pun tak ada riuh rendah keriangan
Semua sederhana
Ada tidaknya kamu berada
Tak usah merasa ditinggalkan

Masa lalu tak selalu harus dikenang
Apa lagi ketika berada dalam kesia-siaan
Harapan di masa depan
Yang akan diperjuangkan

Ditulis oleh: Arsyad R Bahasa dan Sastra Updated at : 1:08 PM

Tuesday, January 5, 2021

Bertemu Tak Bertemu

 

Bertemu tak bertemu
Bukan hal manis dibicarakan
Ketika bertemu menjadi beradu
Ketika terpisah menjaga lara

Bertemu pun menyisakan lara
Berpisah pun menjaga air mata
Bertemu pun tak hendak bicara
Berpisah pun tak hendak bersua

Beda definisi
Tentang cinta dan persahabatan
Tentang perpisahan dan pertemuan
Tentang kita

Yang tak bisa bertemu
Serta enggan berpisah

Ditulis oleh: Arsyad R Bahasa dan Sastra Updated at : 6:09 PM

Sunday, January 3, 2021

Daun-Daun Jatuh Berserakan

Daun-daun berserakan
Memenuhi jalanan
Tak ada yang ingin membersihkan
Biarkan terus beterbangan

Aku pun tak hendak menyapunya
Kubiarkan menjadi hiasan sepanjang jalan
Daun-daunnya makin banyak
Aku pun tak hendak membersihkannya

Aku tak peduli pada dedaunan
Aku tak peduli pada jalanan
Aku tak peduli pada pohon yang melintang
Aku tak peduli pada hujan yang mulai datang

Aku hanya ingin diam
Menunggu waktu
Berharap ada datang
Membawa rindu



Ditulis oleh: Arsyad R Bahasa dan Sastra Updated at : 6:49 PM

Selalu Ada Senyuman


Selalu ada senyuman
Seberapa sengsara hidup di jalani
Ah..mereka sudah mati rasa
Mereka tidak punyak hak untuk bersuka
Mereka tak paham aksara

Apakah orang miskin dilarang bahagia?
Apakah orang miskin dilarang sekolah?
Tak perlu pintar aksara
Tak perlu bisa berbahasa
apalagi matematika

Setiap yang dilakukan tak ada hubungan dengan pendidikan
Mereka tidakah terdidik
Mereka berhitung tapi dianggap bodoh matematika
Mereka pintar berucap tapi dianggap bodoh dengan bahasa

Di sisi lain
Seorang anak bisa membaca ABCD
Seorang anak bisa menghitung 1234
menyusun kalimat
menghitung perkalian..tambahan..pengurangan...dan pembagian
Meskipun hanya angka-angka dan huruf abstrak saja
Dianggap berpendidikan

Pendidikan bisa dimiliki siapapun
Apalah artinya
Bertahun-tahun makan bangku sekolah
Jika tak sanggup merdeka
Jika tak sanggup terus tertawa dengan pedihnya kehidupan
Jika tak sanggup mencari jalan untuk hidup
Sesungguhnya yang seperti ini
Tak layak dianggap sebagai manusia terdidik
Ditulis oleh: Arsyad R Bahasa dan Sastra Updated at : 12:46 AM

Saturday, January 2, 2021

Mengajakmu ke Pantai

 

Saat kecil aku sering mengajakmu ke sana
Berjalan ribuan langkah
Menyusuri jalanan desa 
hingga sampai ke sana

Seringnya aku pergi sendiri
Atau bersama teman lelaki yang lain
Kamu tak boleh pergi
Terlalu manja untuk berjalan kaki




Saat remaja aku pun tak pernah mengajakmu lagi
Sudah lupa dengan romantis pantai
Sibuk dengan dunia sendiri
Yang tak pernah habis untuk diisi

Saat dewasa akhirnya pergi bersama
Bercanda ria
Tak takut dengan bencana yang tiba-tiba
Tak sungkan dengan pantai yang bercampur sampah

Kapan lagi...
Bisa mengajakmu kembali

Ditulis oleh: Arsyad R Bahasa dan Sastra Updated at : 12:28 AM

Friday, January 1, 2021

Teman Minum

 

Dari secangkir susu
Secangkir kopi
Secangkir coklat
akhirnya
Cukup segelas teh hangat atau jeruk hangat
Fase itu pernah terlewati

Saat perut belum tumbuh terlalu besar
Tensi belum menjadi masalah
Coklat manis di pagi hari menjadi prioritas
Kadang susu atau kopi dengan gula
sedikit

Saat makin terlena
Bukan saja oleh minuman yang tersedia
Tetapi juga oleh suasana hati yang berbeda
Ada yang tak bisa dikendalikan

Secangkir cokelat bukan hanya pengurang rasa cemas
Tetapi membawa efek lain yang memaksa harus berhenti
Semakin lama tak ada lagi yang dirasa
Ketika minum pun harus sendiri

Ketika sendirtian menuang
Tak seberapa penting
Ketika tetap membawa cerita
yang tetap berarti

Eh..aku mau jus buah
Iya...tak perlu cangkir untuknya



Ditulis oleh: Arsyad R Bahasa dan Sastra Updated at : 1:31 AM
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...