Thursday, September 29, 2011

Arjuna Mencari Cinta (Bagian 2): Penyesalan dan Keajaiban di Balik Kehilangan

Arjuna Mencari Cinta (Bagian 2): Penyesalan dan Keajaiban di Balik Kehilangan


Pada bagian terdahulu diceritakan, bahwa sang Arjuna akhirnya memilih untuk tinggal bersama majikan barunya yang miskin. Meski hidup dalam kekurangan, sang Arjuna hidup bahagia. Baginya kemewahan tidak bisa menggantikan kebahagiaan yang didapatkan.

Penyesalan yang Terlambat

Di tempat lain, mantan majikan Arjuna, begitu kehilangan anjing kesayangannnya. Di menyadari, bahwa anjingnya itu kurang mendapatkan perhatian langsung darinya. Segalanya pembantu yang menyiapkan. Dari memandikan, memberi makan sampai menata kamar tidur sang Arjuna. Dia sendiri hanya sesekali ketemu Arjuna, yaitu malam hari ketika Arjuna akan tidur dan pagi hari sebelum berangkat kerja. Dan seminggu sekali berjalan-jalan di taman kota. Itu pun kalau di tidak ada acara ke luar kota atau ada lemburan.

Pertemuan Tak Terduga di Taman Kota

Di hari minggu, sang majikan pergi ke taman kota. Di sana, dia duduk termenung di bawah poon beringin tua, tempat dia biasa bermain-main dengan Arjuna dulu. Sesekali Arjuna berlari-lari mengejar kucing ataupun mengejar anak-anak kecil yang menggodanya. Tapi itu dulu. "Arjuna, di manakah kau berada? Aku begitu kehilanganmu. Maafkan aku yang tidak bisa menjagamu." Begitulah. Pikirannya terus melayang-layang.

Tiba-tiba dia melihat seekor anjing yang begitu kumuh, sedang asyik mengais-ngais tempat sampah. Dia berpikir, betapa kasihannya anjing itu.
Padahal sebelumnya, dia tak pernah peduli dengan anjing-anjing liar yang ditemuinya. Arjuna pun, dia daptkan secara khusus, melalui lelang yang diperolehnya dengan harga tinggi. Semakin dia memperhatikan anjing kumal itu, semakin kuat ingatannya mengenang Arjuna.
" Apakah Arjuna juga seperti anjing itu. Susah payah mencari makanan."

Dihampirinya anjing itu dan tangannya mengambil sesuatu dari tas yang dibawanya.

"Makanlah roti ini, jangan mencari sisa-sisa makanan yang banyak penyakitnya," sapanya.

Anjing itu menatap dirinya dengan penuh keheranan.

"Bagaimana mungkin ada orang yang begitu baik padaku. Apalagi orang ini, tampak kaya. Pakaiannya rapi. Penampilannya penuh pesona. Cuma wajahnya saja yang kelihatan murung."

"Makanlah?" kembali orang tersebut menawari.

Kemudian, dengan lahapnya roti tersebut di makan. Tak pernah ia menikmati  makanan yang begitu enak. Lelaki itu pun akhirnya pergi.

Keajaiban Segembok Kunci

Sampai di depan gerbang rumah, lelaki itu kebingungan. Ternyata, segembok kunci rumahnya hilang. Betapa cerobohnya. Dari dulu dia memang tidak pernah memikirkan apa itu kunci. Selalu ada pembantu yang membukakan pintu untuknya. Tapi sejak musibah kebakaran dulu, dia tidak punya pembantu lagi. Rumahnya pun tidak semewah dulu.
"Jangan-jangan tertinggal di taman. Atau jatuh di jalan."
Laki-laki itu bergegas pergi dan menyusuri jalanan, tapi tidak menemukan apa-apa. Sampai di taman, dia bolak-balik mencari, kunci itu juga tidak ditemukan. Dengan lunglai dia pulang.

Sampai di rumah, alangkah terkejutnya dia. Ada seekor anjing yang duduk di depan gerbang. Sepertinya ia pernah melihat anjing itu.

"Bukankah itu anjing yang ada di taman tadi. Bagaimana bisa sampai di sini?" pikirnya dengan penuh keheranan. Di dekatinya anjing itu. Dia lebih kaget lagi, ternyata di mulut anjing itu ada segembok kunci rumahnya.

Laki-laki itu kemudian bertanya,"Di mana kamu menemukan kunciku. Dan bagaimana kamu bisa menemukan rumahku?"
"Tuan, aku menemukan kunci itu di taman tadi. Tak sengaja aku lewat bangku tempat Tuan duduk. Dan kutemukan kunci ini. Aku berpikir, mungkin ini kunci Tuan yang terjatuh."

"Bagaimana caranya kamu bisa sampai ke sini?" desak laki-laki itu.

"Sepanjang jalan aku menanyakan pada siapapun yang kutemui. Tapi tidak ada yang tahu. Sampai akhirnya ada seekor anjing yang memberitahuku siapa pemilik kunci ini."

Hadirnya Lesmana

Lelaki itu terdiam. Pikirannya kembali melayang.

"Mungkinkan Arjuna yang ditemui anjing ini. Bagaimana bisa dia ada di sekitar sini."

"Ini Tuan, kuncinya."

Laki-laki itu tersenyum. Kemudia berkata, "Terima kasih. Oh ya..maukah kamu tinggal bersamaku. Kuberi kamu sebuah nama yang indah, yaitu Lesman."

Akhirnya anjing tersebut tinggal bersama laki-laki tersebut. Baginya anjing tersebut dianggap sebagai pengganti Arjuna.

Analisis Sastra: Simbolisme Penebusan

Bagian kedua ini sangat kuat dalam menggambarkan transformasi karakter. Sang majikan yang dulunya eksklusif dan materialistis, kini mulai membuka hatinya pada anjing "jalanan" yang tidak memiliki harga lelang.

  • Nama Lesmana: Diambil dari tokoh pewayangan yang setia, ini melambangkan komitmen baru sang majikan untuk menjadi pemilik yang lebih baik.

  • Pesan Moral: Terkadang kita baru bisa menghargai sesuatu setelah merasakan pahitnya kehilangan.

Ditulis oleh: Arsyad R Bahasa dan Sastra Updated at : 9:08 PM

Friday, September 23, 2011

Arjuna Mencari Cinta

Ide penulisan cerita ini berawal saat saya membaca sebuah buku motivasi di perpustakaan daerah Purbalingga..terkesan aku akan ceritanya..dan akhirnya kutuliskan kembali ...begini ceritanya..

Namaku Arjuna. Aku adalah seekor anjing, yang kata majikanku, aku sangat pintar, lucu, setia , dan sangat tampan.
Majikanku seorang yang sangat kaya. Rumahnya besar, dilengkapi dengan taman dan kolam di belakang rumah.
Setiap hari, aku dimandikan, lengkap dengan sabun dan sampo yang wangi. Makananku bergizi tinggi. Tak pernah lupa dengan daging segar dan dilengkapi dengan susu segar.

Hingga pada suatu hari, rumah majikanku terbakar. Api tiba-tiba menyala dari ruang tengah dan cepat merambat ke seluruh bagian rumah. Seisi rumah panik. Masing-masing lari menyelamatkan diri.
Aku yang ketakutan, lari sekencang-kencangnya. Aku terjatuh. Tak berdaya. Begitu lemah. Kumal. Perut keroncongan. Aku menggigil kedinginan.
"Apakah sampai di sini hidupku." pikirku. Aku pasrah.
Antara sadar dan tidak, kurasakan ada seseorang yang membopongku. Aku tertidur.
Saat kusadar, kudapati diriku berbaring di atas tumpukan jerami.
Di hadapanku, tampak seorang laki-laki tua. Dia sedang membuat api, agar ruangan menjadi terang dan tetap hangat.
Dia tersenyum. Kemudian dia mengambil sepiring nasi dengan lauk tempe. Dia menyuapiku. Kurasakan nikmat sekali. Mungkin aku sudah terlalu lapar.
Sejak saat itu, aku tinggal bersama lelaki tua itu.
Tiap hari, aku diajak berkeliling kota, mencari sesuap nasi. Kalau mandi di sungai yang mengalir di pinggir kota. Kalau malam tiba, kami pulang. Dan dia memelukku sepanjang malam.
Kehidupanku berubah drastis. Meski demikian, aku sangat bahagia. Selain masih diberi kehidupan, majikan baruku sangat tulus menyayangiku.

Hingga suatu hari, saat aku sedang berjalan menyusuri kota bersama majikan tuaku. Tiba-tiba ada yang memanggilku. Aku terkejut dan sangat senang. Ternyata dia majikan lamaku. Aku hendak berlari menemuinya..tapi majikan baruku memegang diriku.
Akhirnya..kedua majikanku bertengkar memperebutkanku. Aku jadi bingung dan serba salah. Orang-orang ramai berdatangan dan akhirnya kasusku di bawah ke pengadilan.

Sidang dibuka di pengadilan. Kedua majikanku, masing-masing ngotot untuk mendapatkan diriku. Hingga akhirnya tuan Hakim memutuskan agar aku yang memilih. Aku bingung..membisu. Ruang sidang hening. Kedua majikanku memandangku dengan penuh harap.
Akhirnya, kudatangi majikan lamaku, sambil berkata,"Mungkin, Tuan telah memberikanku kemewahan. Tetapi lelaki tua itu telah memberikan hidupku. Dia yang telah menyelamatkan nyawaku, saat musibah dulu."
Kemudian, aku berlari dan memeluk majikan baruku.


Pesan : 
"Kemewahan tidak selalu membawa ke arah kebahagiaan. Kesederhanaan dan cinta tulus itulah kuncinya."
Ditulis oleh: Arsyad R Bahasa dan Sastra Updated at : 10:32 AM

Arti Hidup Manusia

Entah dari mana kudengar cerita ini..yang jelas aku ingin menuliskan kembali. Dari buku Anand Khrisna kalau gak salah, sebuah cerita cina kuno.
Pada saat Tuhan menciptakan manusia, konon para malaikat protes. "Paling-paling manusia itu rewel, dan suka bikin masalah." begitu katanya. Begitu manusia dilahirkan..mereka langsung minta ini-minta itu. Pertama kali, karena lapar dia minta mie instan. Tuhan pun menyanggupinya. Dan dia diberi jatah hidup 30 tahun.
Kemudian karena bosan makan mie instan, mereka ingin bertani. Tuhan pun memberikan dia sawah. Pagi sampai sore hari, mereka berangkat ke sawah. Malam capek, tidur dengan pulasnya. Hari-berganti hari, mereka merasa bosan dan capek, sehingga minta kepada Tuhan agar ada yang membantunya.
Akhirnya Tuhan pun, menciptakan kerbau agar membantu manusia untuk membajak sawahnya. Kerbau diberi jatah umur 20 tahun. Ternyata si kerbau pintar. Dia bilang, "Tuhan, saya gak mau membantu manusia selama 20 tahun. Cukup 10 tahun saja saya hidup. Yang 10 tahun umurku, berikanlah pada manusia." Tuhan pun menyanggupi, sehingga umur manusia menjadi 40 tahun.
Diberi kerbau, manusia pun gak puas. Di rumah merasa tidak aman, sehingga minta pada Tuhan agar ada yang menjaga rumahnya. Tuhan pun menyanggupi, dengan memberikan dia seekor anjing. Anjing tersebut diberi jatah umur 20 tahun. Tetapi, sama seperti kerbau, anjing tersebut hanya minta 10 tahun dan sisa umurnya diberikan pada manusia. Sehingga umur manusia bertambah menjadi 50 tahun.
Mengerjakan sawah sudah dibantu oleh kerbau, rumah sudah dijaga oleh anjing..manusia juga belum puas. Tidak ada yang menemaninya bercanda, berbincang-bincang. Sehingga manusia minta ada yang bisa menemaninya. Tuhan pun masih berbaik hati, dan diciptakanlah monyet. Monyet yang diberi jatah hidup 20 tahun, juga sama cukup 10 tahun saja dan sisa umurnya diberikan pada manusia. Sehingga usia manusia genap menjadi 60 tahun.

Begitukah kehidupan kita, 30 tahun merasakan menjadi manusia. Sepuluh tahun berikutnya bekerja keras mencari nafkah. Umur 40 - 50 tahun menjaga rumah, mungkin menjaga cucu-cucunya. Dan sisa 10 tahun teakhir (50 - 60 tahun) hanya santai, duduk di depan cermin sambil membuang uban seperti..monyet.

Hidup hanya sekali. Manfaatkan untuk sesuatu yang berguna dan bermanfaat bagi sesama.
Ditulis oleh: Arsyad R Bahasa dan Sastra Updated at : 5:30 AM

Thursday, September 22, 2011

Membuang Waktukah? Dilema dan Perjuangan di Balik Layar Blogger

Membuang Waktukah? Dilema dan Perjuangan di Balik Layar Blogger


versi lama
Sejak punya kebiasaan nge-blog..kuterbangun tiap malam..
Di depan layar sampai fajar menyingsing..
Tapi saat gak ada ide..kebiasaan itu pun terus berjalan..
Dan di saat itu..hanya browsing ke sana sini tanpa secuil
postingan di blog...

Terbuangkah waktu saya..entahlah

versi baru

Bagi seorang blogger, layar komputer di tengah malam adalah saksi bisu dari sebuah perjuangan intelektual. Terkadang, kebiasaan bangun malam yang diniatkan untuk menabung tulisan justru berakhir dengan kebuntuan. Pertanyaan yang kemudian muncul adalah: Apakah semua waktu yang dihabiskan di depan layar tanpa menghasilkan satu postingan pun adalah kesia-siaan?

Puisi Refleksi: Membuang Waktukah?

Sejak punya kebiasaan nge-blog...

Kuterbangun tiap malam...

Di depan layar sampai fajar menyingsing...

Tapi saat gak ada ide...

Kebiasaan itu pun terus berjalan...

Dan di saat itu...

Hanya browsing ke sana sini

Tanpa secuil postingan di blog...

Di Balik Fenomena "Browsing Tanpa Postingan"

Apa yang Anda alami sebenarnya adalah bagian dari Proses Inkubasi Kreatif. Meskipun terlihat seperti membuang waktu, aktivitas browsing tanpa arah di tengah malam seringkali merupakan cara otak mencari rangsangan baru saat kelelahan.

Berikut adalah beberapa realita yang dihadapi blogger saat terjaga hingga fajar:

  1. Harapan vs Realita: Niat awal adalah produktivitas, namun tubuh dan pikiran terkadang tidak sinkron.

  2. Layar sebagai Pelarian: Saat ide macet, browsing menjadi pelarian instan agar tetap merasa "sedang bekerja" di depan laptop.

  3. Kesunyian Malam: Malam hari dipilih karena ketenangannya, namun kesunyian yang terlalu dalam terkadang justru memperkuat tekanan untuk menghasilkan karya yang sempurna.

Mengubah "Waktu Terbuang" Menjadi Inspirasi

Jika Anda sering terjebak dalam kebiasaan ini, jangan berkecil hati. Berikut adalah cara menyikapinya agar tidak merasa bersalah:

  • Catat Hal Random: Jika hanya bisa browsing, catatlah satu atau dua hal menarik yang Anda temukan. Itu bisa menjadi benih artikel di masa depan.

  • Berdamai dengan Diri Sendiri: Mengakui bahwa malam ini "memang tidak ada ide" adalah lebih baik daripada memaksakan diri dan berakhir dengan perasaan gagal.

  • Ganti Gaya Bahasa: Seperti yang dibahas dalam artikel sebelumnya tentang Gaya Bahasa, terkadang kita hanya butuh mengganti cara kita mengungkapkan pikiran agar ide mengalir kembali.

Kesimpulan

Blogging bukan hanya soal hasil akhir berupa postingan, tapi juga soal perjalanan mental sang penulis. Menghabiskan malam tanpa postingan bukanlah membuang waktu, melainkan bagian dari "istirahat aktif" otak untuk mengumpulkan tenaga sebelum ledakan ide berikutnya tiba.



Ditulis oleh: Arsyad R Bahasa dan Sastra Updated at : 3:58 AM

Wednesday, September 21, 2011

Ceplok Telur

Pagi ini kusarapan pakai telur ceplok..
Pengganjal perut biar tidak masuk angin atau maag
Tentunya telur ceplok tanpa bumbu apapun..
Cukup di pecah..cemplung masuk penggorengan..
Istriku yang membuat..sampai menyiapkan nasi sampai ke piringnya
Dia ingin agar selalu makan pagi, walau sedikit..
Hanya aku yang suka membandel..
Hingga akhirnya maag menghajarku..
dengan rasa pusing berkepanjangan berhari-hari..

Hari ini saya mengajar..dilanjukan dengan ekstrakurikuler..
Untuk ekstrakurikuler ada dua pilihan..mau KIR (Karya Ilmiah Remaja) atau jurnalistik..
Aku gak terlalu memikirkannya..
Apapun ekstranya, aku akan mengajari siswa-siswaku agar suka menulis
Ditulis oleh: Arsyad R Bahasa dan Sastra Updated at : 6:10 AM
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...