Monday, July 27, 2020

Ketika Lupa Mengucapkan Selamat Pagi

Ketika Lupa Mengucapkan Selamat Pagi
















Ketika lupa mengucapkan selamat pagi
boleh jadi karena aku tidak pergi ke sana
boleh jadi karena aku datang terlambat
boleh jadi karena aku melewati jalan berbeda

Ketika lupa mengucapkan selamat pagi
boleh jadi karena hari sudah sore
boleh jadi karena tak mampu mengingat
iya..tak mampu mengingat

Ketika lupa mengucapkan selamat pagi
boleh jadi karena hari tak ada bedanya
pagi siang sore dan malam
memang milik kita
Ditulis oleh: Arsyad R Bahasa dan Sastra Updated at : 6:12 AM

Tuesday, July 21, 2020

Benarkah Dia Seorang Sahabat

Benarkan Dia Seorang Sahabat

Benarkah seorang sahabat
yang menguji dedikasi seseorang
Yang menaruh madu untuk meracuni
Yang menaruh morfin untuk mencandui

Benarkah seorang sahabat
yang menguji sebuah kesetiaan
Yang mengajak pergi tapi demi kepantasan
Yang mengajak bersama tapi demi identitas



Benarkah seorang sahabat
yang menguji yang tak perlu diuji
Yang akan tertawa saat ada kegembiraan
Yang akan tetap tertawa di kala ada kesedihan

Benarkah seorang sahabat
yang menguji dalam kesendirian
Yang akan menemani saat tak butuh ditemani
Yang akan pergi saat tak butuh ditemani juga

Entahlah...

Ditulis oleh: Arsyad R Bahasa dan Sastra Updated at : 7:25 PM

Ketika Cinta Bukanlah Cinta

Ketika Cinta Bukanlah Cinta

Ketika cinta tak dapat disalahkan
Ketika cinta harus diperjuangkan
Ketika cinta segalanya dipertaruhkan
Ketika cinta tak lagi memandang teman

Apakah itu adalah cinta?



Ketika cinta semua dihalalkan
Ketika cinta tak ada yang jadi penghalang
Ketika cinta tak ada lagi batasan
Ketika cinta seolah semua dimenangkan

Apakah itu cinta?

Benarkah cinta pasti membahagiakan
Bagaimana ketika cinta menjadikan ketidakadilan
Bagaimana ketika cinta mengundang kebohongan
Bagaimana ketika cinta berujung perpecahan

Ah..kurasanya indahnya cinta itu hanyalah semu
Dan ketika itu...
Cinta bukanlah cinta





Ditulis oleh: Arsyad R Bahasa dan Sastra Updated at : 7:15 PM

Thursday, June 25, 2020

Nyai Dasimah


Nyai Dasimah, jujur selama ini saya belum pernah mendengar nama tersebut. Entah saking katroknya saya, atau memang yang punya nama tersebut belum pernah mampir ke rumah saya.

Buka-buka referensi di wikipedia.org didapatkan informasi jika kata Njai Dasima merujuk pada tokoh novel Tjerita Njai Dasima yang ditulis oleh G.Francis pada tahun 1896.  Nama ini juga merujuk pada judul film Njai Dasima, adaptasi dari novel yang disutradarai oleh Lie Tek Swie pada tahun 1929. Nama ini juga merujuk pada film Njai Dasimah, adaptasi novel yang disutradarai oleh Bachtiar  Effendi.

Pada wikipedia.org juga dijelaskan tentang sebuah film yang dibuat berdasarkan buku yang ditulis oleh  G. Francis, terbit pada tahun 1896. Buku ini ditulis berdasarkan kisah nyata seorang istri simpanan bernama Nyai Dasima. Nyai Dasima awalnya seorang gadis dari dess Kuripan yang dijadikan istri simpanan oleh seorang bangsawan Inggris bernama bernama Edward William. Kemudian dia diboyong ke Batavia. Nyai Dasima terkenal dengan kecantikan dan kekayaannya. Sampai akhirnya dia rela menjadi istri Samiun lewat perantara Mak Buyung. Samiun sendiri sudah punya istri yang bernama Hayati.  Namun, setelah berhasil menjadikan Dasima sebagai istri mudanya, Samiun malah menyia-nyiakannya.

Dalam buku Nyai Dasimah, yang ditulis kembali oleh S.M. Ardian, banyak sekali penokohan yang dirombak termasuk juga latar belakang tradisi-budaya dan religi yang melingkupi kehidupan tokoh-tokohnya. Nyai Dasimah, sebagai sosok yang menjadi korban kolonial yang ingin mengembalikan jati dirinya sebagai pribumi. Dia datang ke Samiun atas keinginannya sendiri, bukan karena diguna-guna. Dia memang hidup bergelimang harta tetapi dibiarkan dalam kebodohan dan memang kehadirannya sebatas penyalur hasrat seksual kulit putih. Nyai Dasimah berontak, lari dan jatuh dalam pelukan Samiun. 

Menjadi istri muda dari Samiun, bukan berarti masalah selesai. Makin habisnya harta karena kelakuan Hayati, istri pertama Samiun dan tragisnya kematiannya akibat sabetan golok Bang Puasa menambah pilu kisah Nyai Dasimah ini. Apapun versinya, baik menurut G. Francis maupun versi S.M. Ardian, kenyataannya Nyai Dasimah telah mati. Entah didalangi oleh Tuan Edward William maupun oleh Samiun sendiri.

Nanar. Kepala berputar. Membayangkan kematian Nyai Dasimah.

Ditulis oleh: Arsyad R Bahasa dan Sastra Updated at : 1:25 AM

Wednesday, April 15, 2020

Gorys Keraf : Diksi dan Gaya Bahasa

Buku diksi dan gaya bahasa ini merupakan lanjutan dari buku komposisi. Buku komposisi menjadi referensi untuk belajar mengarang sedangkan buku diksi dan gaya bahasa ini fokus pada komposisi tapi pada bagian retorika.

Retorika ini dapat didefinisikan sebagai suatu teknik pemakaian bahasa sebagai seni, baik lisan maupun tertulis, yang didasarkan pada suatu pengetahuan yang tersusun baik. Retorika ini bertujuan untuk mempengaruhi sikap dan perasaan orang melalui tulisan yang berbentuk prosa atau lisan seperti ceramah atau pidato.

Pilihan kata atau diksi
Pilihan kata atau diksi yang digunakan dalam melakukan retorika tidak hanya memperhatikan ketepatan pemakaian kata, tetapi juga harus memperhatikan apakah kata yang dipakai dapat diterima atau tidak merusak suasana yang ada.

Ketepatan pilihan kata atau diksi hendaknya memperhatikan syarat-syarat sebagai berikut :
1. Membedakan secara cermat denotasi dari konotasi
2. Membedakan dengan cermat kata-kata yang bersinonim
3. Membedakan kata-kata yang mirip dalam ejaannya
4. Menghindari kata-kata ciptaan sendiri
5. Mewaspadai penggunaan  akhiran asing
6. Kata kerja yang menggunakan kata depan harus digunakan secara idiomatis
7. Harus membedakan kata umum dan kata khusus
8. Mempergunakan indria yang menunjukkan persepsi secara khusus
9. Memperhatikan perubahan makna yang terjadi pada kata-kata yang sudah dikenal
10. Memperhatikan kelangsungan pilihan kata

Perubahan makna pada no. 9 meliputi :
1. Perluasan arti.
Misalnya kata bapak yang dulu dipakai dalam hubungan biologis, sekarang bisa dipakai untuk seseorang yang lebih tua atu lebih tinggi kedudukannya.

2. Penyempitan arti
Misalnya kata bau yang berarti bermacam-macam gas yang dapat dirasa oleh penciuman (wangi, apek, busuk) sekarang diartikan sebagai busuk.

3. Ameliorasi
Dalam ameliorasi arti yang baru dirasakan lebih tinggi nilainya dari arti yang lama.
Misalnya kata istri (sekarang) lebih tinggi nilainyai dari kata bini (dulu).

4. Peyorasi
Dalam peyorasi arti yang baru dirasakan lebih rendah nilainya dari arti yang lama.
Misalnya kata bunting diganti dengan kata hamil atau mengandung.

5. Metafora yaitu perubahan makna karena persamaan sifat antara dua obyek.
Misalnya istilah putri malam, manusia berhati serigala, penciuman yang tajam dan sebagainya.

6. Metonimi yaitu proses perubahan makna yang terjadi karena hubungan yang erat antara kata-kata yang terlibat dalam suatu lingkungan makna yang sama.
Misalnya kata kota yang berarti susunan batu yang dibuat mengelilingi suatu pemukiman sebagai pertahanan terhadap serangan dari luar berbeda dengan kata kota yang sering kita dengar. Istilah gereja yang berarti tempat ibadah umat kristen, juga berarti sebagai persekutuan umat kristen.


Gaya Bahasa atau Style
Gaya bahasa atau style dalam retorika dibatasi pada cara mengungkapkan pikiran melalui bahasa secara khas yang memperlihatkan jiwa dan kepribadian pemakai bahasa.

Gaya bahasa yang baik harus mengandung tiga unsur yaitu kejujuran, sopan-santun, dan menarik. Kejujuran dalam bahasa berarti mengikuti aturan-aturan, kaidah-kaidah yang baik dan benar dalam berbahasa. Sopan-santun dalam berbahasa berarti memberi penghargaan atau menghormati orang yang diajak bicara/pembaca. Menarik dapat dilihat dari komponen sebagai berikut : variasi, humor yang sehat, pengertian yang baik, tenaga hidup (vitalitas), dan penuh daya khayal (imajinasi).

Gaya bahasa ini bermacam-macam yang bisa dilihat dari berbagai tinjauan. Dari segi nonbahasa, style atau gaya bahasa dibagi berdasarkan : 1) pengarang; 2) masa; 3) medium; 4) subyek; 5) tempat; 6) hadirin; dan 7) tujuan. Dari segi bahasa dibedakan dari 1) pilihan kata; 2) nada yang terkandung dalam wacana; 3) struktur kalimat; dan 4) langsung tidaknya makna.

Berdasarkan pilihan katanya, gaya bahasa bisa dikelompokkan menjadi gaya bahasa resmi, gaya bahasa tak resmi, dan gaya bahasa percakapan.

Berdasarkan nadanya, gaya bahasa dibagi menjadi gaya sederhana, gaya mulia atau bertenaga, dan gaya menengah.

Berdasarkan struktur kalimatnya dibedakan gaya bahasa klimaks, antiklimaks, paralelisme, antitesis, dan repetisi.

Berdasarkan langsung tidaknya maknanya dikenal gaya bahasa retoris dan gaya bahasa kiasan.
Gaya bahasa retoris meliputi aliterasi, anastrof, apofasis atau preterisio, apostrof, asindenton, polisendon, kiasmus, elipsis, eufemisme, litotes, histeron proteron, pleonasme atau tautologi, perifrasis, prolepsis atau antisipasi, erotesis atau pertanyaan retoris, silepsis dan zeugma, koreksio atau epanortosis, hiperbol, paradoks, dan oksimoron.
Gaya bahasa kiasan meliputi persamaan atau simile, metafora, alagori - parabel - fabel, personifikasi atau prosopopoeia, alusi, eponim, epitet, sinekdoke, metonimia, antonomasia, hipalase, ironi - sinisme - sarkasme, satire, inuendo, antifrasis, dan fun atau paranomasia.

Dengan mempelajari diksi dan gaya bahasa ini diharapkan kualitas berbahasa baik lisan maupun tertulis akan lebih baik. Penutur/penulis harus mampu memilih kata-kata yang tepat maupun menggunakan gaya bahasa yang tepat disamping syarat-syarat yang diperlukan lainnya.










Ditulis oleh: Arsyad R Bahasa dan Sastra Updated at : 4:38 PM

Monday, April 13, 2020

Tak Ada Yang Hilang

Tak ada yang hilang
Celotehan
Serpihan-serpihan ilalang
Tetes-tetes hujan
Menjadi cerita panjang

Tak ada yang hilang
Ketika dunia tergoncang pandemi
Ketika gelegar gemuruh gunung berapi
Ketika ombak kian menepi


Tak ada yang hilang
Saat berapa di lautan lepas
Tak hendak ada daratan
Biarkan ombak menggelegar
Di tengah derunya badai hujan

Tak ada yang hilang meskipun ada yang ingin menepi

Karangjengkol, 13 April 2020

Ditulis oleh: Arsyad R Bahasa dan Sastra Updated at : 3:37 PM

Sunday, March 29, 2020

Hari ke-7

Hari ke-7


Hari demi hari mata terbuka menjaga
Hari pertama mata terpejam
Hari ke-7 berharap tidur pun terlelap

Bukan tidak mau menjaga
dengan mata terbuka
Saat lelap pun hati ini selalu bersama
Hanya raga yang butuh istirahat

Mata bisa lelap
Mata hati selalu menjaganya

Ditulis oleh: Arsyad R Bahasa dan Sastra Updated at : 3:39 AM

Wednesday, March 25, 2020

Pagi Ini Pun Tak Ada

Pagi Ini Pun Tak Ada
Tak perlu tirai itu terbuka
Ketika ada suara
Memanggil untuk bergegas

Bersih diri berdoa
Pada sang pencipta

Pagi ini 
Tak ada sapa
Tak ada kata

Tak perlu tirai itu terbuka
Memastikan ada yang berbaring di sana
Ketika tak ada rintihan
Napas-napas patah

Tak perlu tirai itu terbuka
Karena sudah tiada

Pagi ini pun tak ada



Ditulis oleh: Arsyad R Bahasa dan Sastra Updated at : 5:08 AM
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...